Headline
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Indonesia akan alihkan sebagian impor minyak mentah ke AS.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSULTAN Nefrologi Anak FKUI-RSCM Prof Sudung O Pardede mengatakan sindrom nefrotik bisa terjadi pada semua orang dan semua usia namun paling banyak diderita pada anak usia prasekolah.
"Puncaknya, yang paling sering adalah usia prasekolah, usia 2 tahun sampai 6 tahun. Itu yang paling sering. Bukan berarti anak-anak usia lain tidak bisa kena, bisa juga," kata Sudung dalam diskusi daring, dikutip Minggu (10/11).
Sudung mengatakan sindrom nefrotik dapat terjadi pada semua orang, mulai dari bayi baru lahir sampai orang dewasa tapi penyebabnya berbeda dengan anak-anak.
Sampai saat ini, sindrom nefrotik pada anak tidak diketahui penyebabnya atau disebut idiopatik.
Sindrom nefrotik sendiri adalah suatu keadaan ketika pembuluh darahnya di ginjal meningkat, dan fungsi penyaring di ginjal yang disebut glomerulus bermasalah yang menyebabkan protein lolos masuk dan keluar lewat urine dan ditandai adanya busa.
"Di dalam air kemihnya itu, keluar banyak protein yang di dalam terkandung albumin. Albumin yang keluar inilah lama-lama akan merusak ginjal. Jadi albumin ini serap lagi, masuk ginjal lagi, menyebabkan kerusakan ginjal," ujar Sudung.
Di Indonesia setidaknya ada enam dari seratus anak berisiko mengalami sindrom nefrotik.
Orangtua diminta waspada apabila muncul gejala-gejala bengkak yang biasa ada pada pagi hari.
Gejala ini juga sering dikaitkan pada anak yang minum minuman berasa dan berwarna. Sudung mengatakan kebanyakan orangtua menuruti keinginan anak untuk minum minuman berwarna karena tidak tertarik dengan bentuk dan rasa air mineral.
Hal ini perlu dibatasi atau dilarang karena minuman berwarna tidak memiliki manfaat bagi anak, kecuali ada indikasi yang mengharuskan anak minum minuman yang memiliki kandungan tertentu.
Sudung juga mengatakan pasien sindrom nefrotik bisa disembuhkan asal mengikuti pengobatan dari dokter yang berfungsi mengurangi protein keluar dalam air kemih, salah satunya adalah obat steroid dan yang biasa digunakan sebagai obat antihipertensi.
"Karena ini reaksi imunologis penyebab utamanya maka diberikan obat-obat penekan sistem imun yang mengandung steroid, obat ini manjur dan ada efek samping yang disukai karena bikin makan banyak," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Selain gangguan perilaku seperti hiperaktif dan sulit konsentrasi, paparan layar berlebih juga memicu gangguan tidur.
Langkah pertama yang harus diperhatikan bukan sekadar menahan lapar, melainkan kesiapan fisik dan psikis sang anak untuk berpuasa di bulan Ramadan.
Ledakan emosi orangtua sering kali dipicu oleh kondisi fisik dan psikis yang sedang tidak stabil.
Emosi yang bergejolak sering kali menjadi penghalang bagi orangtua untuk berpikir jernih.
Batuk pada kasus PJB memiliki mekanisme yang berbeda dengan batuk akibat virus atau bakteri pada umumnya.
Anak-anak adalah kelompok yang paling rentan saat bencana terjadi. Hal ini karena mereka umumnya belum memiliki kemampuan untuk mengekspresikan emosi secara verbal.
Pada 2021, pemerintah Indonesia menganggarkan Rp550 triliun untuk sektor pendidikan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved