Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDUR merupakan salah satu cara untuk beristirahat setiap harinya. Namun jika terlalu banyak tidur hal tersebut tidaklah baik.
Terlalu lama tidur, juga dikenal sebagai oversleeping, dapat berdampak buruk pada kesehatan fisik dan mental.
Studi menunjukkan bahwa tidur lebih dari 8-9 jam per malam secara teratur dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular. Tidur berlebihan dikaitkan dengan peningkatan tekanan darah dan masalah jantung lainnya.
Baca juga : Catat! Ini 4 Dampak jika Keseringan Tidur Larut Malam
Terlalu banyak tidur bisa menjadi gejala sekaligus pemicu depresi. Orang yang tidur lebih dari 9 jam cenderung mengalami penurunan kualitas hidup dan penurunan fungsi mental yang dapat memperburuk gejala depresi.
Tidur yang terlalu lama dikaitkan dengan penambahan berat badan dan obesitas. Kurangnya aktivitas fisik akibat oversleeping dan gangguan metabolisme bisa berkontribusi pada peningkatan berat badan.
Tidur lebih dari 9 jam per malam dapat mengganggu keseimbangan hormon dan metabolisme, meningkatkan risiko resistensi insulin dan diabetes tipe 2.
Baca juga : Pengaruh Penggunaan Ponsel Terhadap Tidur Anak dan Kesehatan Mental
Tidur terlalu lama dapat memicu sakit kepala, terutama pada orang yang cenderung mengalami migrain. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti serotonin, saat oversleeping bisa menyebabkan sakit kepala.
Tidur berlebihan juga dikaitkan dengan gangguan kognitif dan penurunan fungsi otak, termasuk gangguan memori dan masalah konsentrasi. Terlalu banyak tidur bisa mempercepat penurunan fungsi mental, terutama pada usia lanjut.
Menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat tidur dapat menyebabkan masalah pada otot punggung dan postur tubuh. Ketegangan dan ketidaknyamanan pada otot punggung bagian bawah bisa timbul karena tidur dalam posisi yang tidak tepat atau terlalu lama tanpa aktivitas fisik.
Untuk menjaga kesehatan, disarankan tidur dalam rentang waktu yang ideal, yaitu sekitar 7-9 jam per malam untuk orang dewasa. (Z-12)
Kepemilikan ponsel pintar pada remaja awal dikaitkan dengan faktor risiko penyakit jantung, diabetes, dan kanker.
Waktu tidur yang cukup membantu menyiapkan tubuh anak di tengah cuaca yang tidak menentu.
Penderita sakit pinggang direkomendasikan tidurnya dengan posisi telentang kasurnya jenis medium sampai medium firm, jangan terlalu keras.
Tidur bukan hanya istirahat. Studi baru ungkap peran hormon pertumbuhan yang bangun otot, tulang, metabolisme, hingga kejernihan otak esok hari.
Tidur bukan sekadar istirahat, melainkan proses biologis penting yang dikendalikan oleh otak dan hormon, seperti melatonin.
Riset terbaru University of Michigan menemukan neuron di hipotalamus berperan menjaga kadar gula darah, terutama pada empat jam pertama tidur.
Anton menyebutkan apabila gas air mata ini mengenai bagian mata bisa mengiritasi mata. Kondisi itu dapat menyebabkan mata perih, berair, dan membuat pandangan menjadi kabur.
Tindakan cepat dan tepat dapat membuat perbedaan signifikan dalam penanganan kecelakaan pada anak.
SAAT bayi tertidur tak jarang orangtua tidur di samping bayinya. Banyak orangtua yang memilih tidur bersama bayinya untuk memudahkan menyusui di malam hari.
MENGASUH bayi yang baru lahir memang menantang. Ada beberapa alat untuk meringankan pengasuhan bayi sehari-hari, seperti salah satunya baby bouncer.
IKATAN Dokter Anak Indonesia (IDAI) memperkirakan kasus (diabetes melitus) DM tipe 1 pada anak usia 12 hingga 18 tahun meningkat saat ini dengan kenaikan mencapai 70%.
Sebagian dari kita mungkin pernah membawa ponsel atau buku ke toilet, berharap memanfaatkan waktu untuk membaca artikel atau sekadar menggulir media sosial.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved