Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
MASALAH stereotipikal remaja saat ini ialah banyak terpaku pada perangkat selular mereka. Sebuah studi baru dari Inggris menambah kekhawatiran yang semakin berkembang bahwa obsesi terhadap smartphone dapat merugikan kesehatan remaja.
Para ahli menemukan remaja yang melaporkan hubungan bermasalah dengan smartphone mereka bisa sampai tiga kali lebih mungkin mengalami kecemasan, depresi, atau menderita insomnia.
Faktanya, hampir setengah remaja pengguna smartphone mengatakan mereka sudah terlalu seru dengan pengguna smartphone. Namun mereka juga mengaku memiliki gejala kecemasan hingga depresi.
Baca juga : Beban Gangguan Mental Berlipat
Banyak orangtua menerapkan “mode pesawat” pada ponsel anaknya guna mengalihkan mereka dari penggunaan smartphone. Banyak orangtua yang menyebut penggunaan ponsel pintar yang berlebihan pada anak-anak mereka sebagai 'kecanduan'.
Para akademisi mengatakan mereka memilih untuk tidak menggunakan frasa ini karena ini adalah istilah klinis. Mereka menyebutnya sebagai 'penggunaan ponsel cerdas yang bermasalah' (PSU).
PSU didefinisikan sebagai 'kehilangan kendali subjektif atas penggunaan'. Misalnya, keasyikan dan mengabaikan tanggung jawab atau kegiatan yang berarti demi menggunakan smartphone.
Baca juga : Harus Tahu: Kerugian Biaya Akibat Gangguan Mental 2x Lebih Besar dari Gangguan Fisik
PSU itu mengacu pada dua studi terpisah yang sudah dilakukan para akademisi. Studi pertama, yang dipublikasikan di Acta Paediatrica, meneliti data siswa berusia 16-18 tahun di lima sekolah di London, East Midlands, dan barat daya Inggris. Studi kedua, yang diterbitkan dalam BMJ Mental Health, pada kelompok remaja yang lebih kecil yaitu siswa berusia 13-16 tahun dari dua sekolah di London.
Penelitian baru ini melibatkan dua studi terpisah. Yang pertama, yang dipublikasikan di Acta Paediatrica, memeriksa data tentang siswa berusia 16 hingga 18 tahun di lima sekolah di London, East Midlands, dan barat daya Inggris.
Sebanyak 657 remaja ikut serta, dan 19% di antaranya ditemukan mengalami PSU (Penggunaan Smartphone yang Bermasalah).
Baca juga : 4 Tips dan Solusi Menghadapi Kesehatan Mental Pasca Pemilihan Umum
Dari 123 orang yang melaporkan PSU, sekitar 43% dari kelompok ini melaporkan gejala kecemasan. Ini dibandingkan dengan seperempat (25%) remaja tanpa PSU.
Artinya, mereka yang dianggap mengalami PSU dua kali lebih mungkin melaporkan gejala kecemasan.
Sementara itu, sekitar 56% remaja dengan PSU melaporkan gejala depresi, dibandingkan dengan 29% dari remaja tanpa PSU.
Dari kedua studi tersebut membuktikan sebagian besar remaja pengguna smartphone mengalami PSU. Mereka melaporkan mengalami gejala kecemasan hingga paling parahnya adalah mengalami gejala depresi.
"Mereka yang mengalami PSU lima kali lebih mungkin membutuhkan bantuan dan dukungan untuk mengurangi sehingga mereka menyadari bahwa mereka sedang berjuang, dan mereka meminta bantuan untuk melakukan sesuatu” dikatakanBen Carter, salah satu peneliti studi itu,. (dailymail/Z-3)
Sepeda motor hasil rampokan tersebut sempat dipasarkan melalui media sosial (marketplace) sebelum akhirnya berhasil disita polisi sebagai barang bukti.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
Fenomena keinginan bunuh diri pada remaja tidak dipicu oleh penyebab tunggal, melainkan akumulasi dari berbagai faktor yang kompleks.
Upaya pencegahan bunuh diri pada remaja dinilai perlu dimulai dari penguatan “jaring pengaman” di lingkungan terdekat, terutama sekolah dan keluarga.
Agar aturan gawai dapat berjalan efektif, orangtua perlu menerapkan pola asuh yang masuk akal dan kolaboratif.
Sebuah studi terbaru mengungkap adanya korelasi mengejutkan antara diagnosis kanker dengan peningkatan risiko perilaku kriminal pada pasien.
Para peneliti berhasil menemukan 62 lokus gen baru yang berkaitan dengan sifat neurotisisme, yaitu kecenderungan seseorang untuk mudah merasa cemas atau tertekan.
Pengemudi mobil Audi yang menerobos Gerbang Tol Simatupang, pintu masuk utama menuju Tol JORR di Jakarta Selatan, pada Rabu (19/11) diklaim mengalami depresi.
Skizofrenia adalah gangguan mental serius yang memengaruhi perilaku, emosi, dan kemampuan berkomunikasi. Ketahui penyebab, gejala, dan metode pengobatan.
Studi internasional terhadap lebih dari 11 juta data pasien menunjukkan lingkungan hijau dapat menurunkan risiko rawat inap akibat gangguan mental hingga 7%.
Bulan purnama sering dikaitkan dengan insomnia dan perilaku aneh. Penelitian terbaru menjelaskan efeknya nyata tapi kecil.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved