Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
ANAK merupakan generasi penerus bangsa yang perlu dilindungi dan diberdayakan. Namun anak-anak Indonesia masih menghadapi banyak permasalahan.
Permasalahan tersebut dapat menghambat tumbuh kembang anak, serta mengancam masa depan mereka.
Dalam rangka memperingati Hari Anak Nasional, penting bagi kita untuk memahami permasalahan dunia anak di Indonesia.
Baca juga : Anak Bertanya tentang Kasus Kekerasan, Menteri PPPA Menjawab
Indonesia masih menghadapi banyak permasalahan terkait kesehatan, terutama pada anak-anak. Misalnya, data angka kematian bayi akibat berbagai penyakit seperti berat badan lahir rendah, sangat umum terjadi di Tanah Air.
Menurut data Kementerian Kesehatan, tahun 2022, pertumbuhan stunting di Indonesia masih meningkat mencapai 24,4%. Angka kematian anak di bawah usia 5 tahun masih tinggi, yaitu 24,9 per 1.000 kelahiran hidup.
Masalah kesehatan anak dapat disebabkan berbagai faktor, seperti kemiskinan, pola makan yang buruk, dan terbatasnya akses terhadap layanan kesehatan. Dengan demikian, masalah kesehatan anak dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangannya serta mengancam masa depannya.
Baca juga : Kesejahteraan Anak Syarat Indonesia Menjadi Negara Maju
Kemiskinan merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi anak-anak di Indonesia. Negara yang terdiri dari ribuan pulau ini gagal meningkatkan taraf hidup seluruh penduduknya.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, jumlah penduduk miskin di Indonesia akan mencapai 26,16 juta jiwa atau setara dengan sekitar 9,59% dari total jumlah penduduk. Di mana sebagian besar penduduk miskin adalah anak-anak
Kemiskinan dapat menghalangi anak-anak untuk mendapatkan akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan gizi yang memadai. Anak-anak dari keluarga miskin berisiko putus sekolah, terhambat pertumbuhannya, dan rentan terserang berbagai penyakit.
Baca juga : KPAI: Screen Time Gawai Pengaruhi Kepribadian Anak
Ribuan anak menjadi korban kekerasan setiap tahunnya. Beraneka ragam kekerasan yang mereka alami, mulai dari kekerasan fisik, seksual, dan psikologis.
Menurut data Komite Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), pada 2022 sebanyak 17.262 kasus kekerasan terhadap anak.
Kekerasan fisik dapat berupa pemukulan, penganiayaan, dan pelecehan. Kekerasan seksual dapat berupa pelecehan seksual, pemerkosaan, dan inses. Kekerasan psikologis dapat berupa intimidasi, ancaman, dan hukuman yang tidak manusiawi.
Baca juga : Legislator : Kasus Perundungan Ekstrem di Tasikmalaya Pertegas Pentingnya Perlindungan Anak
Akses terhadap pendidikan masih menjadi permasalahan bagi anak-anak di Indonesia. Menurut data BPS, tahun 2022, terdapat 2,5 juta anak usia 7-12 tahun yang tidak bersekolah.
Meskipun situasi pendidikan di Indonesia menunjukan peningkatan, masih terdapat akses pendidikan yang terbatas. Hal ini menyebabkan anak tidak dapat mengembangkan potensinya secara optimal. Anak yang tidak bersekolah lebih rentan untuk menjadi pekerja anak, putus sekolah, dan terlibat dalam tindak kriminal.
Pekerja anak juga menjadi salah satu masalah bagi anak di Indonesia. Anak-anak yang seharusnya masih bersekolah harus terpaksa bekerja untuk memenuhi kebutuhan dasarnya. Pekerja anak di Indonesia bermacam bentuknya, mulai dari pekerja rumah tangga, buruh di sawah, hingga buruh tani harian, dan lain-lain.
Pernikahan anak masih menjadi masalah yang umum di Indonesia. Menurut data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), pada 2022, anak perempuan yang menikah sebelum usia 18 tahun sebanyak 1,2 juta anak.
Perkawinan anak ini dapat berdampak negatif pada kesehatan, pendidikan, dan masa depan anak. Anak yang menikah di bawah usia 18 tahun lebih rentan untuk mengalami komplikasi kehamilan dan persalinan, putus sekolah, dan terpapar kekerasan dalam rumah tangga.
Diperkirakan ada 7.500 anak yang tinggal di wilayah metropolitan Jakarta. Angka ini mengejutkan, membingungkan, dan terlebih lagi jika dihitung berapa banyak anak yang mungkin terkena dampak masalah ini di seluruh wilayah Indonesia. (Z-3)
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
UPAYA yang terukur untuk mewujudkan gerakan mengatasi kondisi darurat kekerasan terhadap perempuan dan anak harus segera direalisasikan.
Kekerasan terhadap perempuan dan anak bukan isu sektoral semata, melainkan persoalan kebangsaan yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Kasus gangguan jiwa anak dan remaja di Jawa Barat meningkat. RSJ Cisarua mencatat kunjungan naik hingga 30 pasien per hari, depresi jadi kasus dominan.
Edukasi seksual tidak perlu menunggu anak dewasa. Sebaliknya, langkah perlindungan ini justru harus dimulai sejak usia dini untuk membentengi anak dari pelecehan seksual.
Pendekatan bermain jauh lebih efektif dalam memberikan edukasi seksual karena membuat informasi lebih mudah diterima tanpa menciptakan rasa takut pada anak.
Langkah preventif harus dimulai bahkan sebelum keberangkatan. Orangtua diminta untuk tidak meremehkan pemeriksaan kesehatan awal bagi anak.
Kurangnya paparan sinar matahari akibat cuaca mendung dan hujan terus-menerus berisiko menurunkan produksi Vitamin D alami dalam tubuh.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved