Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
EDUKASI dikemas secara teatrikal untuk mendekatkan isu digital dengan dunia sehari-hari anak. Dalam waktu sekitar satu jam, peserta diajak menyelami berbagai skenario nyata di dunia digital, mulai dari cyberbullying, akun palsu, konten hoaks berbasis AI, hingga pentingnya menjaga privasi dan jejak digital.
"Anak-anak sangat pintar, tetapi mereka juga butuh dibimbing," ujar Eva Noor, Ketua Indonesia Women in Cyber Security (IWCS) dalam penjelasan tertulis, Senin (4/8). "Anak-anak bisa menjadi agen perubahan. Mereka bisa cerita ulang soal bahaya klik sembarangan atau pentingnya jaga privasi ke orang tua mereka sendiri."
Itu berlangsung di aula Museum Sandi, Yogyakarta, saat puluhan pelajar dari 40 sekolah menengah pertama mengikuti program literasi digital bertajuk Cyber Safe Kids, belum lama ini. IWCS membekali para peserta dengan materi cetak edukatif sebagai panduan berbagi pengetahuan, agar pesan digital tidak berhenti hanya dalam sesi formal, tetapi menjangkau komunitas sekitar.
Salah satu fasilitator IWCS menambahkan, "Ini bukti anak-anak tidak hanya pakai internet, tetapi juga peduli dan ingin paham. Kita tinggal beri ruang." Menurutnya, inisiatif seperti ini menjadi penguat dari upaya literasi digital yang menyasar kelompok usia muda, yang kerap menjadi sasaran empuk eksploitasi digital.
Rikson Gultom dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menambahkan bahwa anak-anak sangat antusias dan aktif. Misalnya, ada yang bertanya penyebab cyberbullying masih saja banyak terjadi.
Hingga akhir 2025, IWCS menargetkan program ini dapat menjangkau sedikitnya 70 sekolah di berbagai wilayah Indonesia. (I-2)
Langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memaafkan secara terburu-buru, melainkan menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk dinamika diri di masa kini.
Kebocoran aliran darah pada jantung dapat memicu tekanan tinggi pada paru yang berujung pada kondisi fatal yang disebut Sindrom Eisenmenger.
Kombinasi gerakan mengayun dan suara mesin kendaraan bekerja secara sinergis menenangkan sistem saraf anak.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup.
Kalimat-kalimat seperti "itu cuma masalah kecil", "nanti juga lupa", atau "jangan lebay" dari orang dewasa justru dapat berdampak buruk pada kondisi psikologis anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved