Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
DOSEN Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Vidya Anindhita menegaskan bersikap terbuka, memahami kebutuhan anak, serta belajar mendengarkan pendapat anak merupakan hal yang penting dalam mendidik remaja.
"Seiring anak tumbuh dan belajar sesuai usia mereka, orangtua juga perlu belajar bersikap sesuai dengan usia anak mereka karena menjadi orangtua adalah proses belajar seumur hidup," ujar Vidya, dikutip Kamis (18/1)
Ia mengatakan penerapan pola asuh pada setiap fase pertumbuhan anak, baik ketika bayi, balita, usia prasekolah, maupun remaja, memiliki tantangannya tersendiri. Masa remaja sering kali dianggap sebagai fase dengan tantangan pola asuh terbesar.
Baca juga: Prihatin! Tawuran Remaja Marak di Tangerang, 4 Tewas dan 19 Terluka
Dia menilai hal itu karena remaja memiliki keinginan yang lebih kuat untuk menyampaikan aspirasi, kebutuhan, keinginan, serta pendapat mereka yang dipengaruhi oleh perkembangan aspek kognitif, bahasa, dan emosional.
Selain itu, di fase remaja, anak sedang mengeksplorasi identitas serta ingin mencari konformitas, kenyamanan, dan keseruan dengan teman-teman sebaya agar dapat menjadi lebih dekat dan diterima oleh kelompoknya.
Dosen Unpad tersebut mengatakan hal itu mengakibatkan fungsi orangtua seolah tergeser oleh fungsi teman karena anak merasa memiliki lebih banyak kesamaan dan lebih diterima oleh teman daripada saat berinteraksi dengan orangtua.
Baca juga: Penjualan Rokok Ketengan Bisa Meningkatkan Perokok Remaja
Agar anak tidak terbawa arus pergaulan yang tidak sesuai dengan norma, dia menuturkan orangtua perlu menjadi teladan yang baik bagi perilaku anak dan mengingatkan terus menerus secara verbal atau maupun, serta berdialog secara rutin dengan anak.
"Remaja butuh untuk didengar dan dipahami. Sering kali orangtua hanya berusaha mendengar atau justru kadang cenderung cepat memotong penjelasan anak tanpa berupaya memahami," ucapnya.
Vidya mengakui berupaya untuk saling memahami memang tidak mudah, sehingga baik anak maupun orang tua membutuhkan hati dan pikiran yang tenang tanpa ada stigma atau persepsi buruk untuk dapat saling mengerti.
Oleh karena itu, ia mengajak para orangtua untuk melepas persepsi mereka pada remaja saat berdiskusi, memahami perkembangan remaja, membuka hati untuk mengerti mereka, serta mendengarkan kebutuhan dan pendapat mereka.
"Setelah itu, baru orangtua sampaikan pandangan atau harapan mereka agar anak mau mencoba sesuatu yang orangtua anggap baik bagi anak atau agar anak tidak melakukan sesuatu yang orangtua anggap berbahaya," pungkasnya. (Ant/Z-1)
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Dalam psikologi perkembangan, remaja sedang berada pada fase meningkatnya kebutuhan otonomi.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul dari penggunaan media sosial adalah kecenderungan remaja untuk melakukan perbandingan sosial secara ekstrem.
Psikolog klinis ungkap alasan remaja dan Generasi Alpha sangat terikat dengan media sosial. Ternyata terkait pencarian identitas dan hormon dopamin.
MENGHADAPI dinamika era digital di tahun 2026, kecemasan orang tua terhadap dampak negatif internet sering kali berujung pada kebijakan larangan total media sosial bagi remaja.
Korban diduga hanyut saat hendak menyeberangi sungai untuk pulang ke rumah.
Remaja yang aktif melaporkan kebaikan tercatat lima kali lebih empati, lima kali lebih prososial, dan hampir empat kali lebih tinggi dalam kemampuan memahami sudut pandang orang lain.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved