Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Pada hari pertama penyelenggaraan conference of the parties (COP28) Dubai, negara-negara telah menyepakati pendanaan untuk membantu negara-negara berkembang yang rentan terhadap dampak buruk dari perubahan iklim atau dikenal sebagai dana loss and damage. Itu menjadi salah satu gebrakan besar yang terjadi pada COP kali ini.
“Kerja keras banyak orang selama bertahun-tahun telah terealisasi di Dubai,” kata Presiden COP28 Sultan Al-Jaber, Kamis (30/11).
Sebagaimana diketahui, pendanaan loss and damage sebelumnya menjadi salah satu pembahasan penting di COP27 Sharm El Sheikh, Mesir, 2022 lalu. Kala itu, sangat sulit untuk mencapai satu suara. Hingga COP27 berakhir pun, tidak ada keputusan terkait pendanaan loss and damage.
Baca juga: Indonesia Fokus Penurunan Emisi di Bidang Energi Baru Terbarukan di COP28
Adapun, kesepakatan yang diambil di COP28 ini merupakan buah dari diskusi para komite transisi sebanyak lima kali sebelum diselenggarakannya COP28. Pertemuan tersebut diselenggarakan sejak awal November di Abu Dhabi.
“Dana loss and damage sangat penting. Meskipun dunia sudah memitigasi perubahan iklim karena tingkat pemanasan yang sudah tingggi, tetap perlu diperhatikan juga dampak peristiwa cuaca ekstrem seperti badai, banjir, produktivitas menurun dan kenaikan permukaan air laut,” ucap Al-Jaber.
Baca juga: Polusi Bahan Bakar Fosil Bunuh 5 Juta Orang per Tahun
Adapun, secara rinci Uni Emirat Arab mengumumkan komitmennya untuk menggelontorkan dana sebesar US$100 juta untuk membantu negara yang berisiko terkena dampak perubahan iklim. Selain itu, Jerman juga bersedia menyalurkan US$100 juta. Sementara, Jepang akan menghibahkan US$10 juta, Amerika Serikat US$17,5 juta, dan Inggris US$50 juta untuk dana dan US$20 juta untuk pengaturan lainnya.
Pada kesempatan itu, di COP28, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menagih janji negara maju untuk menggelontorkan dana sebesar US$100 juta untuk membantu negara berkembang dalam mengatasi perubahan iklim.
“Pemenuhan janji ini sangat penting, terutama untuk mengambil tindakan di transisi energi dan perubahan iklim,” tegas Siti.
Menurut dia, Indonesia sudah jelas menunjukkan bukti kerja nyata dalam pengendalian perubahan iklim. Selama hampir satu dekade menjadi Menteri LHK, Siti menegaskan bahwa pemerintahan Joko Widodo telah mengukir sejarah perubahan iklim yang berdampak pada khalayak.
Beberapa capaian yang telah diraih Indonesia ialah dapat menurunkan emisi gas rumah kaca dari sektor forest and other land use (FOLU) serta gambut sebesar 1,84 Gigaton CO2 pada tahun 2019 menjadi 1,05 Gigaton pada tahun 2020 dan 1,14 Gigaton pada tahun 2021 dan 1,22 Gigaton pada tahun 2022.
“Sekali lagi, warisan iklim ini telah ditunjukkan secara konsisten melalui kepemimpinan yang dilakukan contoh. Kami telah melakukan upaya sebaik mungkin untuk dan dengan inklusif dan kolaboratif,” pungkas Siti. (Z-11)
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
KERUSAKAN ekosistem global dan perubahan iklim tidak hanya mengancam keanekaragaman hayati, tetapi juga memicu perubahan serius dalam hubungan antara manusia dan nyamuk.
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
PEMERINTAH Indonesia resmi membuka Paviliun Indonesia di ajang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa ke-30 (COP30) di Belem, Brasil.
Kehadiran Paviliun Indonesia di Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) di Belém, Brasil, diharapkan bisa memperkuat diplomasi hijau RI.
MENJELANG Konferensi Perubahan Iklim PBB ke-30 (COP30) Indonesia menegaskan kembali komitmennya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca melalui pembaruan dokumen NDC.
KETUA Delegasi RI untuk COP29, Hashim Djojohadikusumo, mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto telah menyetujui reboisasi atau penghijauan kembali besar-besaran.
PADA Konferensi Perubahan Iklim atau Presidency of the 29th Conference of the Parties (COP29) di Baku Azerbaijan pemerintah diminta juga mengangkat soal masyarakat adat.
Problem emisi yang dilepaskan oleh para emitor terbesar tidak terjawab dengan bisnis-bisnis karbon menghitung berapa kredit karbon yang lalu kemudian diperdagangkan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved