Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
SEBANYAK 61% dari lebih dari 8 juta kematian di seluruh dunia akibat polusi udara luar ruangan terkait dengan bahan bakar fosil. Angka itu berarti sekitar 5 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya.
Angka-angka nyata yang dipublikasikan pada malam sebelum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab itu akan meningkatkan tekanan pada para pemimpin dunia untuk mengambil tindakan nyata.
Salah satu keputusan yang harus diambil pada konferensi yang diinisiasi PBB itu menyetujui penghentian bahan bakar fosil secara bertahap.
Baca juga: Polusi Udara Bunuh Ratusan Ribu Orang Eropa sepanjang 2021
Penelitian telah menunjukkan peralihan dari bahan bakar fosil ke sumber energi bersih dan terbarukan akan menyelamatkan banyak nyawa dari polusi udara dan membantu memerangi pemanasan global. Namun, hingga saat ini, perkiraan angka kematian sangat bervariasi.
Sebuah studi pemodelan baru menunjukkan polusi udara, yang berasal dari penggunaan bahan bakar fosil di industri, pembangkit listrik, dan transportasi, menyebabkan 5,1 juta kematian yang dapat dihindari setiap tahunnya secara global. Temuan ini dipublikasikan di The BMJ .
Kontribusi bahan bakar fosil setara dengan 61% dari total perkiraan 8,3 juta kematian di seluruh dunia akibat polusi udara luar ruangan dari semua sumber pada 2019. Estimasi terbaru mengenai jumlah kematian akibat bahan bakar fosil lebih besar dari nilai-nilai yang dilaporkan sebelumnya.
Baca juga: Forum Menuju Indonesia Emas 2045 Bahas Dampak Polusi Udara Terhadap Stunting
Sehingga itu menunjukkan penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara bertahap mungkin mempunyai dampak yang lebih besar terhadap kematian akibat bahan bakar fosil dibandingkan perkiraan sebelumnya.
“Hasil kami menunjukkan bahwa penghapusan bahan bakar fosil secara global akan memberikan manfaat kesehatan yang besar, jauh lebih besar daripada yang ditunjukkan oleh sebagian besar penelitian sebelumnya,” tulis tim peneliti global di BMJ.
Data ini mendukung peningkatan penggunaan energi bersih dan terbarukan, yang dianjurkan oleh PBB melalui tujuan pembangunan berkelanjutan pada 2030 dan ambisi netralitas iklim pada 2050.
Polusi udara merupakan faktor risiko kesehatan lingkungan utama yang menyebabkan penyakit dan kematian, namun hanya sedikit penelitian global yang mengaitkan kematian dengan sumber polusi udara tertentu dan hasilnya sangat berbeda.
Untuk mengatasi hal itu, tim peneliti internasional dari Inggris, Amerika Serikat (AS), Jerman, Spanyol dan Siprus, menggunakan model baru untuk memperkirakan kematian akibat polusi udara terkait bahan bakar fosil, dan untuk menilai potensi manfaat kesehatan dari kebijakan yang menggantikan bahan bakar fosil dengan bahan bakar fosil.
Mereka menilai kelebihan kematian menggunakan data dari studi Global Burden of Disease 2019, serta data partikel halus dan populasi berbasis satelit NASA, serta kimia atmosfer, aerosol, dan pemodelan risiko relatif untuk 2019.
Hasilnya menunjukkan bahwa pada tahun 2019, 8,3 juta kematian di seluruh dunia disebabkan oleh partikel halus (PM2.5) dan ozon (O3) di udara sekitar, dimana 61% (5,1 juta) di antaranya terkait dengan bahan bakar fosil.
“Pengurangan emisi polusi udara secara besar-besaran, terutama melalui penghentian penggunaan bahan bakar fosil, dapat memberikan dampak kesehatan yang besar dan positif. Hasilnya menunjukkan bahwa beban kematian akibat polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya,” tulis para peneliti itu.
Mereka mengatakan salah satu alasan model mereka menghasilkan perkiraan yang lebih besar dibandingkan sebagian besar penelitian sebelumnya adalah karena model tersebut hanya didasarkan pada studi tentang polusi udara luar ruangan.
Ketidakpastian masih tetap ada, namun mengingat tujuan perjanjian iklim Paris untuk mencapai netralitas iklim pada 2050, penggantian bahan bakar fosil dengan sumber energi yang bersih dan terbarukan akan memberikan manfaat tambahan yang luar biasa bagi kesehatan masyarakat dan iklim. (The Guardian/Z-1)
Penelitian terbaru mengungkap bagaimana retakan es Arktik dan polusi ladang minyak memicu reaksi kimia berbahaya yang mempercepat pencairan es kutub.
Studi itu menemukan hubungan antara paparan partikel super kecil polutan udara (PM2,5) dan nitrogen dioksida dengan peningkatan risiko tumor otak.
Polusi udara luar ruangan dapat meningkatkan risiko diabetes, bahkan pada tingkat polusi yang selama ini dianggap aman oleh EPA dan WHO.
Satelit Sentinel-4 milik ESA berhasil mengirimkan citra pertama yang memetakan polusi udara di Eropa dan Afrika Utara. Misi ini akan memantau kualitas udara setiap jam.
Penelitian terbaru menemukan awan di Samudra Atlantik dan Pasifik kini makin redup akibat udara yang lebih bersih.
Polusi udara dan asap rokok merupakan dua faktor lingkungan yang kerap diabaikan, padahal keduanya memiliki dampak jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak.
CLIMATE Policy Initiative (CPI) meluncurkan Dasbor Pembiayaan Sektor Ketenagalistrikan Indonesia Periode 2019-2023. CPI menyebut bahan bakar fosil masih mendominasi
MotoGP mengonfirmasi nantinya akan menggunakan bahan bakar terbarukan setelah melakukan serangkaian tes uji coba bahan bakar C14.
Pendidikan kritis soal transisi energi bersih terbarukan pun semakin krusial. Sebab, krisis iklim menjadi tantangan yang akan semakin masif dihadapi generasi muda di masa mendatang.
PalmCo menegaskan komitmen dalam mendukung agenda dekarbonisasi nasional dan mempercepat langkah menuju target Net Zero Emisi melalui implementasi strategi keberlanjutan
Transisi ke kendaraan nol emisi dapat membantu Indonesia bebas impor bahan bakar fosil paling cepat tahun 2048.
Tahukah kamu bagaimana sejarah penemuan bahan bakar dan penggunaan energi di dunia? Menurut sejarah, penggunaan minyak bumi telah ada sejak 5.000 tahun sebelum masehi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved