Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
DESA Bugeman, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, adalah salah satu penerima fasilitasi dari program Pemajuan Kebudayaan Desa yang diinisiasi oleh Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sejak 2021. Di desa ini terdapat tradisi ojung yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tidak Benda (WBTB) pada 2019 dengan domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-Perayaan.
Tradisi Ojung merupakan ritual yang dilakukan leluhur di Desa Bugeman, dengan saling memukul menggunakan rotan yang dimainkan oleh dua orang. Tradisi ini dimainkan oleh dua orang secara bergantian. Jika salah satu peserta memukul, peserta lain akan menangkis atau menghindar. Dalam tradisi Ojung, dua orang pemain saling berhadapan.
"Sebelum memukul, mereka akan berputar-putar terlebih dahulu dan menghentakkan kaki seperti orang menari. Setiap gerakan pemain diselaraskan dengan iringan musik. Penonton akan memberikan semangat dengan suara riuh," ujar Kapokja Ketahanan Budaya Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan Kemendikbud-Ristek Syukur Asih Suprojo dalam keterangannya, Minggu (19/11).
Bagi masyarakat Desa Bugeman, lanjut Syukur, tradisi Ojung harus dilaksanakan oleh kepala desa. Tujuan tradisi Ojung untuk menghindari bencana alam, berbagai macam penyakit, carok, kematian hewan ternak, atau menghindari gagal panen untuk hasil pertanian dan perkebunan. "Karena, masyarakat Desa Bugeman tidak berani meninggalkan tradisi ini," katanya.
Tahun ini, Desa Bugeman menyelenggarakan kegiatan pelatihan dan pergelaran budaya bertema 'Merte Pangan Dhisa Bugeman Pelestarian Kekayaan Pangan Desa Bugeman' yang difasilitasi melalui Program Pemajuan Kebudayaan Desa dan merupakan rangkaian kegiatan Galang Gerak Budaya Tapal Kuda (GGBTK).
Baca juga: 6 Rekomendasi Tempat Wisata di Purbalingga Buat yang Hobi Traveling, Unik!
"Kegiatan ini menekankan pada aspek ketahanan pangan sebagai modal utama dalam implementasi pemajuan kebudayaan. Selain Desa Bugeman, di wilayah tapal kuda Jawa Timur, fasilitasi juga diberikan kepada desa-desa yang memiliki komitmen dalam hal ketahanan pangan yaitu, Desa Kandangan di Kabupaten Lumajang, Desa Klungkung di Kabupeten Jember, dan Desa Kemiren di Kabupaten Banyuwangi," terang Syukur lagi.
Dalam melaksanakan tradisi Ojung, terdapat prasyarat yang harus dipenuhi, yaitu produksi pangan sasandhing (sesajen). Untuk melatih warga desa dalam melestarikan tradisi ini, maka diadakan pelatihan dan pergelaran budaya, sekaligus sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat, lembaga kebudayaan, dan pranata kebudayaan di Desa Bugeman.
Adapun rangkaian kegiatan ini ialah pelatihan membuat tapay kambhang (tape ketan), pelatihan tari Ojung sebanyak 50 orang, pelatihan membuat makanan, kue, dan minuman sebagai sesajen (sasandhing) dalam ritus selamatan desa Ojung, pelatihan membuat leghin (tandu) sebagai wadah sesajen dalam Ojung, pelatihan Ojung, dan membuat manjalin (rotan). Adapun puncak acara festival dan pergelaran budaya dilangsungkan di lapangan Kecamatan Kendit.
Syukur menambahkan, pelaksanaan kegiatan Merte Pangan Dhisa Bugeman ini melibatkan sekitar 350 orang terdiri atas peserta, maestro, narasumber, dan warga lokal sebagai panitia. Kontribusi seluruh lapisan masyarakat dalam kegiatan ini adalah salah satu wujud pembangunan ekosistem kebudayaan desa yang berkelanjutan.
Melalui kegiatan Pelatihan dan Pagelaran Budaya Merte Pangan Dhisa Bugeman ini diharapkan masyarakat Desa Bugeman mendapat informasi tentang potensi budayanya serta bisa memproduksi pangan, yaitu bisa menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan atau mengubah bentuk pangan sasandhing dalam ritus Ojung.
"Selain itu, menyebarluaskan informasi mengenai objek pemajuan kebudayaan Desa Bugeman kepada masyarakat luas. Terciptanya sarana komunikasi dan edukasi berbasis pengetahuan tradisional tentang budaya Desa Bugeman," pungkasnya. (RO/I-1)
Proses pemberian Apresiasi Desa Budaya 2025 dilakukan secara komprehensif melalui tahapan temu-kenali, pendalaman, dan aktivasi.
Lakon kali ini dipilih untuk mengingatkan kita bahwa nilai kepahlawanan berkaitan erat dengan sikap mencintai bangsa dan negara, menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat mengatakan, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara para pemangku kepentingan untuk mengakselerasi upaya penguatan sektor kebudayaan nasional.
SEBANYAK 13 negara kawasan Pasifik menghadiri Indonesia Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 yang digelar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai 11-13 November 2025.
Puti Guntur Soekarno, menyoroti pengaruh teknologi terhadap perkembangan kebudayaan di Indonesia.
WAKIL Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono menegaskan pentingnya peran budaya dan pendidikan sebagai kekuatan lembut (soft power) yang mampu memperkuat posisi Indonesia di panggung global.
Tradisi tabayyun di kalangan ulama dan warga NU telah lama familiar dan mengakar.
Sejarah makan siang di Indonesia sendiri adalah cerminan perjalanan sosial, ekonomi, dan budaya yang selalu berubah.
Dalam tradisi masyarakat tertentu di Indonesia, telur tembean (telur ayam yang sudah berisi bakal embrio dan dianggap “hampir menetas”) dipercaya sebagai makanan berkhasiat
Upacara adat Dola Maludu yang merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat kini resmi tercatat sebagai Kekayaan Intelektual Komunal (KIK) oleh DJKI.
Festival Jelajah Maumere III mengusung tema Wini Ronan atau lumbung benih sebagai refleksi atas tradisi dan kebudayaan di Kabupaten Sikka atau di Flores.
Pengunjung Parara festival dapat menikmati berbagai kegiatan menarik, mulai dari talkshow dan diskusi soal pangan lokal, tradisi nusantara, serta isu lingkungan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved