Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KERACUNAN pada hewan kesayangan menjadi salah satu masalah yang sering ditemui di klinik hewan.
Berdasarkan data dari Satwagia Indonesia (klinik hewan dengan cabang paling banyak di Indonesia), kejadian kasus keracunan sebanyak 1-20 kasus/bulan per klinik pada tahun 2023.
Dokter hewan Puspita selaku Brand Manager PT Tunas Daya Vetama menjelaskan bahwa penyebab keracunan pada hewan kesayangan sangat beragam.
Baca juga: K-Pet Food Festival Curi Perhatian Pemilik Anjing dan Kucing
"Keracunan pada hewan terjadi karena pemberian makanan yang seharusnya tidak boleh diberikan pada hewan, menjilat bahan kimia rumah tangga atau bahan kimia pertanian, desinfektan, dan pemberian obat-obatan yang tidak boleh diberikan pada hewan," jelas drh.Puspita dalam keterangan, Selasa (22/8).
"Keracunan mempunyai risiko kematian yang tinggi sehingga perlu pengobatan yang cepat dan tepat," ucap drh.Puspita.
Produk Detoksifikasi untuk Hewan Peliharaan
PT Tunas Daya Vetama meluncurkan produk baru PETDtox di Bogor, Jawa Barat, baru-baru ini. PETDtox merupakan detoxification support kasus keracunan untuk hewan kesayangan seperti kucing dan anjing.
Mulut Berbusa atau Berbuih
“PETDtox hadir sebagai solusi keracunan pada hewan kesayangan, serta mengurangi gejala diare dan mengatasi kembung. Gejala awal keracunan yang paling mudah dilihat adalah mulut jadi berbusa atau berbuih,” imbuh Drh Puspita.
Antusias pet lover begitu tinggi pada soft launching PETDtox belum lama ini di Bogor. Salah satu rangkaian acara soft launcing berupa talkshow dengan dokter hewan yang berisi edukasi kepada pet owner tentang keracunan pada hewan kesayangan.
"Edukasi ini bertujuan meningkatkan kesadaran pet owner bahwa ada makanan yang dimakan manusia menjadi bersifat racun jika dimakan hewan," kata drh.Puspita.
Baca juga: Peringati HUT RI, Polbangtan Bogor Gelar Kontes Hewan Peliharaan
Ia mengatakan bahwa produk PETDtox secara resmi sudah bisa didapatkan di petshop, klinik dokter hewan dan marketplace per tanggal 25 Juli 2023.
Sementara itu, Direktur PT Tunas Daya Vetama, Drh Dertina menjelaskan PETDtox adalah produk pertama dan satu-satunya saat ini yang diformulasikan khusus hewan kesayangan untuk mengatasi kasus keracunan.
PETDtox hadir dalam bentuk kapsul yang bisa digunakan dengan mudah di rumah. Jika anabul tidak mengalami keracunan, PETDtox bisa sebagai pelengkap P3K anabul dan tersedia saat dibutuhkan.
Baca juga: Serba-serbi Cara Merawat Kucing di Rumah
“PT Tunas Daya Vetama selaku produsen PETDtox telah menerapkan CPOHB (Cara Pembuatan Obat Hewan yang Baik) sehingga kualitas produk yang dihasilkan juga terjamin.”, imbuh drh.Dertina.
“PETDtox sudah dilakukan uji klinis dengan partner klinik hewan Satwagia, sehingga tidak perlu diragukan lagi khasiat dan keamanannya untuk hewan kesayangan”, ujar drh M Zulfitra R, Marketing Manager Satwagia.
Baca juga: Cara Terampuh Hilangkan Bau Hewan Peliharaan di Rumah
PETDtox mengandung activated charcoal powder, satu botol PETDtox berisi 50 kapsul. PETDtox bekerja menyerap berbagai racun pada saluran pencernaan sehingga dapat mengurangi dan mencegah penyebaran racun ke seluruh tubuh anabul.
Diformulasikan Sesuai Kebutuhan Hewan Peliharaan
PETDtox diformulasikan sesuai dengan kebutuhan hewan peliharaan, sehingga pet owner tidak perlu lagi pusing dalam memberikan dosis obat ataupun berantakan dalam pemberian obat.
Pemberian obat keracunan biasanya dalam bentuk serbuk dan menyulitkan pemberian ke hewan peliharaan, seringkali obat yang diberikan berceceran kemana mana.
PT Tunas Daya Vetama menyadari masalah tersebut dan melakukan inovasi berbasis riset sehingga lahir PETDtox. (RO/S-4)
Dengan tekstur yang lebih padat, kucing bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih konsentrat meski dalam satu suapan kecil sekalipun.
Peneliti UC Davis menemukan virus corona pada kucing (FIP) mampu menginfeksi berbagai sel imun dan "bersembunyi". Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi fenomena Long covid pada manusia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kucing lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibanding perempuan. Apakah ini bentuk manipulasi atau sekadar adaptasi sosial?
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Penelitian terbaru menemukan DNA serigala masih tersisa pada mayoritas ras anjing modern.
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science ini menganalisis 643 tengkorak anjing dan serigala baik modern maupun purba yang berusia hingga sekitar 50.000 tahun.
Pergub diharapkan akan bermanfaat terutama untuk melindungi hewan-hewan peliharaan yakni anjing dan kucing.
Terlebih rencana ini sudah lama menjadi aspirasi konstituen PDI Perjuangan, partai yang menjagokan Pramono Anung-Rano Karno dalam Pilkada 2024.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved