Headline
Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.
Kumpulan Berita DPR RI
Interaksi sederhana dengan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing terbukti dapat membantu meredakan stres dan membuat tubuh lebih rileks. Sejumlah penelitian tentang hubungan manusia dan hewan menunjukkan bahwa kontak fisik ringan, seperti mengelus atau memangku, dapat memicu perubahan langsung pada respons fisiologis tubuh.
Dikutip dari laman EatingWell, kontak fisik yang tenang mampu menurunkan kadar hormon stres kortisol serta membantu sistem saraf berpindah dari kondisi siaga ke kondisi istirahat. Efek ini bahkan bisa muncul hanya dalam beberapa menit interaksi.
Psikiater, Timothy Jeider, menjelaskan bahwa sentuhan pada hewan berpengaruh terhadap sistem saraf otonom yang mengatur respons stres.
“Mengelus anjing atau kucing menurunkan rangsangan sistem saraf simpatik yang dikenal sebagai respons lawan atau lari. Saat itu turun, sistem parasimpatik yang mendorong kondisi tenang dapat aktif,” ujarnya.
Ketika seseorang mengalami tekanan, detak jantung biasanya meningkat, napas menjadi pendek, dan otot menegang. Sentuhan berulang yang terasa aman dapat memutus pola tersebut dengan mengirimkan sinyal aman ke otak.
Pelatih perilaku hewan, Erin Whelan, menambahkan bahwa interaksi fisik juga memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh.
“Saat mengelus hewan, biasanya terjadi penurunan kortisol dan peningkatan oksitosin. Detak jantung dan tekanan darah juga dapat ikut menurun,” katanya.
Oksitosin sendiri dikenal sebagai hormon yang berkaitan dengan rasa nyaman dan keterikatan sosial. Peningkatan hormon ini membuat seseorang merasa lebih aman dan terhubung, sehingga respons stres pun mereda. Namun, terapis keluarga, Julie Robinson, mengingatkan bahwa manfaat tersebut paling terasa dalam jangka pendek.
“Bukti terkuat menunjukkan penurunan stres secara langsung, bukan perubahan kesehatan mental jangka panjang. Hewan peliharaan bukan pengganti terapi atau perawatan medis, tetapi bisa menjadi sumber regulasi emosi yang mudah diakses,” tuturnya.
Para peneliti menilai, meluangkan waktu singkat bersama hewan peliharaan dapat menjadi salah satu cara praktis untuk mengelola stres sehari-hari, terutama bila disertai kebiasaan sehat lain seperti tidur cukup, aktivitas fisik, dan teknik relaksasi. (Ant/E-3)
Studi terbaru mengungkap rahasia suara kucing: meong adalah alat komunikasi yang fleksibel untuk manusia, sementara dengkur (purr) adalah sidik jari suara mereka.
Dengan tekstur yang lebih padat, kucing bisa mendapatkan asupan gizi yang lebih konsentrat meski dalam satu suapan kecil sekalipun.
Peneliti UC Davis menemukan virus corona pada kucing (FIP) mampu menginfeksi berbagai sel imun dan "bersembunyi". Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi fenomena Long covid pada manusia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kucing lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibanding perempuan. Apakah ini bentuk manipulasi atau sekadar adaptasi sosial?
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved