Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Mengapa Kucing Lebih Sering Mengeong pada Pria? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Thalatie K Yani
26/12/2025 12:15
Mengapa Kucing Lebih Sering Mengeong pada Pria? Ini Penjelasan Ilmiahnya
Sebuah studi terbaru mengungkapkan kucing lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibanding perempuan. Apakah ini bentuk manipulasi atau sekadar adaptasi sosial?(freepik)

SELAMA lebih dari 10.000 tahun domestikasi, kucing telah berevolusi menjadi pengamat manusia yang ulung. Mereka belajar mengeong adalah senjata paling ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, sebuah riset terbaru dari Turki memberikan temuan unik, kucing ternyata jauh lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibandingkan pemilik perempuan.

Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ethology ini menyoroti bagaimana kucing (Felis catus) mengatur respons mereka berdasarkan individu yang berinteraksi dengan mereka. Temuan ini mematahkan reputasi kucing sebagai hewan yang acuh tak acuh.

"Hal ini menunjukkan bahwa kucing bukanlah robot. Mereka memiliki kemampuan kognitif yang memungkinkan mereka hidup berdampingan dengan manusia secara adaptif," ungkap Kaan Kerman, peneliti utama dari Animal Behavior and Human-animal Interactions Research Group di Universitas Bilkent, Turki.

Eksperimen Kamera pada Pemilik Kucing

Untuk memahami pola sapaan ini, para peneliti memasang kamera pada pemilik kucing dan meminta mereka merekam 100 detik pertama interaksi saat mereka pulang ke rumah. Setelah menganalisis rekaman dari 31 partisipan, tim menemukan jenis kelamin manusia adalah satu-satunya faktor signifikan yang memengaruhi frekuensi suara kucing.

Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti mengajukan hipotesis menarik. Perempuan biasanya dianggap lebih aktif secara verbal dan lebih mahir dalam menafsirkan kebutuhan kucing tanpa perlu "diminta". Sebaliknya, pemilik pria mungkin memerlukan dorongan lebih, seperti suara meong yang lebih keras atau sering, sebelum mereka memberikan perhatian yang diinginkan kucing.

Pengaruh Budaya dan Fleksibilitas Sosial

Meski temuannya menarik, para ilmuwan memberikan catatan penting mengenai faktor budaya. Penelitian ini dilakukan di Turki, di mana ada kemungkinan norma budaya memengaruhi cara pria berinteraksi dengan hewan peliharaan. Pria di wilayah tersebut mungkin cenderung kurang "cerewet" dengan kucing mereka, sehingga kucing harus lebih vokal untuk menarik perhatian.

"Interpretasi ini masih bersifat spekulatif dan memerlukan eksplorasi lebih lanjut dalam penelitian mendatang," tulis tim peneliti dalam laporan mereka.

Dennis Turner, Direktur Institute for Applied Ethology and Animal Psychology di Swiss yang tidak terlibat dalam studi, mengaku terkesan dengan temuan ini. Ia sepakat bahwa pria dan perempuan memang berinteraksi secara berbeda dengan kucing. Perempuan lebih cenderung berbicara dengan nada tertentu atau merunduk untuk menyetarakan posisi dengan kucing.

Namun, Turner menegaskan temuan ini bukan berarti kucing lebih menyukai pria daripada perempuan. Alih-alih soal preferensi, banyaknya suara mengeong kepada pria justru menjadi bukti fleksibilitas sosial kucing. Mereka adalah ahli dalam menyesuaikan cara berkomunikasi demi mendapatkan perhatian maksimal dari "pelayan" manusia mereka. (Live Science/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik