Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA lebih dari 10.000 tahun domestikasi, kucing telah berevolusi menjadi pengamat manusia yang ulung. Mereka belajar mengeong adalah senjata paling ampuh untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Namun, sebuah riset terbaru dari Turki memberikan temuan unik, kucing ternyata jauh lebih vokal saat menyapa pemilik pria dibandingkan pemilik perempuan.
Studi yang diterbitkan dalam jurnal Ethology ini menyoroti bagaimana kucing (Felis catus) mengatur respons mereka berdasarkan individu yang berinteraksi dengan mereka. Temuan ini mematahkan reputasi kucing sebagai hewan yang acuh tak acuh.
"Hal ini menunjukkan bahwa kucing bukanlah robot. Mereka memiliki kemampuan kognitif yang memungkinkan mereka hidup berdampingan dengan manusia secara adaptif," ungkap Kaan Kerman, peneliti utama dari Animal Behavior and Human-animal Interactions Research Group di Universitas Bilkent, Turki.
Untuk memahami pola sapaan ini, para peneliti memasang kamera pada pemilik kucing dan meminta mereka merekam 100 detik pertama interaksi saat mereka pulang ke rumah. Setelah menganalisis rekaman dari 31 partisipan, tim menemukan jenis kelamin manusia adalah satu-satunya faktor signifikan yang memengaruhi frekuensi suara kucing.
Mengapa hal ini terjadi? Para peneliti mengajukan hipotesis menarik. Perempuan biasanya dianggap lebih aktif secara verbal dan lebih mahir dalam menafsirkan kebutuhan kucing tanpa perlu "diminta". Sebaliknya, pemilik pria mungkin memerlukan dorongan lebih, seperti suara meong yang lebih keras atau sering, sebelum mereka memberikan perhatian yang diinginkan kucing.
Meski temuannya menarik, para ilmuwan memberikan catatan penting mengenai faktor budaya. Penelitian ini dilakukan di Turki, di mana ada kemungkinan norma budaya memengaruhi cara pria berinteraksi dengan hewan peliharaan. Pria di wilayah tersebut mungkin cenderung kurang "cerewet" dengan kucing mereka, sehingga kucing harus lebih vokal untuk menarik perhatian.
"Interpretasi ini masih bersifat spekulatif dan memerlukan eksplorasi lebih lanjut dalam penelitian mendatang," tulis tim peneliti dalam laporan mereka.
Dennis Turner, Direktur Institute for Applied Ethology and Animal Psychology di Swiss yang tidak terlibat dalam studi, mengaku terkesan dengan temuan ini. Ia sepakat bahwa pria dan perempuan memang berinteraksi secara berbeda dengan kucing. Perempuan lebih cenderung berbicara dengan nada tertentu atau merunduk untuk menyetarakan posisi dengan kucing.
Namun, Turner menegaskan temuan ini bukan berarti kucing lebih menyukai pria daripada perempuan. Alih-alih soal preferensi, banyaknya suara mengeong kepada pria justru menjadi bukti fleksibilitas sosial kucing. Mereka adalah ahli dalam menyesuaikan cara berkomunikasi demi mendapatkan perhatian maksimal dari "pelayan" manusia mereka. (Live Science/Z-2)
Peneliti UC Davis menemukan virus corona pada kucing (FIP) mampu menginfeksi berbagai sel imun dan "bersembunyi". Temuan ini menjadi petunjuk penting bagi fenomena Long covid pada manusia.
Isu yang kerap beredar di masyarakat tersebut berkaitan dengan infeksi parasit Toxoplasma gondii, bukan karena kucing itu sendiri.
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Pergub diharapkan akan bermanfaat terutama untuk melindungi hewan-hewan peliharaan yakni anjing dan kucing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved