Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAMA ini, penyakit cacing jantung (heartworm) dianggap sebagai masalah modern yang dipicu mobilitas hewan peliharaan di perkotaan. Namun, penelitian genetik terbaru mengungkap fakta mengejutkan. Parasit mematikan ini ternyata telah mengikuti migrasi anjing liar melintasi benua jauh sebelum manusia mulai memindahkan hewan peliharaan mereka.
Studi internasional berskala besar yang dipimpin University of Sydney ini menyingkap sejarah evolusi mendalam yang dibentuk oleh anjing purba, perubahan iklim, dan rute migrasi ribuan tahun lalu.
Penyakit cacing jantung disebabkan parasit Dirofilaria immitis yang menyebar melalui gigitan nyamuk. Larva yang masuk ke tubuh anjing akan tumbuh menjadi cacing dewasa di dalam pembuluh darah dekat jantung dan paru-paru. Panjangnya bisa mencapai 30 cm, menyumbat aliran darah, hingga menyebabkan gagal jantung dan kematian.
Meskipun pencegahan saat ini sudah tersedia, tantangan besar muncul berupa resistensi obat. Memahami sejarah evolusi parasit ini menjadi kunci bagi para ilmuwan untuk melindungi kesehatan hewan dengan lebih efektif di masa depan.
Para peneliti mempelajari materi genetik lengkap dari 127 cacing jantung dewasa yang dikumpulkan dari Australia, Asia, Eropa, hingga Amerika. Sampel diambil tidak hanya dari anjing, tetapi juga rubah, jakal, kucing, hingga macan tutul.
Hasilnya menunjukkan perbedaan genetik yang sangat kontras antarbenua. Perbedaan tajam ini membuktikan bahwa persebaran cacing jantung tidak hanya dipicu oleh perjalanan anjing peliharaan modern, melainkan terkait dengan pergerakan kuno hewan taring liar (canine).
Serigala dan koyote purba diduga menjadi inang jangka panjang bagi parasit ini. Saat hewan-hewan liar tersebut bermigrasi melintasi jembatan darat yang menghubungkan benua jutaan tahun lalu, cacing jantung ikut bertualang bersama mereka.
Salah satu temuan menarik adalah kemiripan genetik yang kuat antara cacing jantung di Australia dan Asia. Pola ini menunjukkan kemungkinan parasit tersebut tiba di Australia bersama dingo sekitar 4.000 tahun lalu.
Meski demikian, peneliti tetap berhati-hati. "Meskipun data kami menunjukkan adanya hubungan kuno antara cacing jantung Australia dan Asia, ukuran sampel yang ada mengharuskan kita berhati-hati dalam menarik kesimpulan pasti," ujar Profesor Jan Šlapeta dari Fakultas Kedokteran Hewan University of Sydney.
Memahami asal-usul regional cacing jantung sangat krusial karena resistensi obat dapat berkembang lebih cepat di wilayah tertentu dibandingkan wilayah lainnya.
"Memahami dari mana cacing jantung berasal dan bagaimana populasi yang berbeda saling terkait membantu kita merespons penyakit dan resistensi obat dengan lebih efektif," kata Šlapeta. "Cacing jantung tidak sama di semua tempat, dan sejarah lokal sangat menentukan."
Penelitian ini memberikan peringatan bahwa perubahan iklim dan mobilitas global dapat mempercepat penyebaran parasit ini di masa depan. Cacing jantung bukan sekadar parasit biasa; mereka membawa cerita tersembunyi selama jutaan tahun yang melibatkan serigala purba hingga pergeseran lapisan es dunia. (Earth/Z-2)
Studi terbaru mengungkap dua peristiwa pendinginan global mengubah bentuk tubuh hewan karnivora dari musang menjadi kucing dan beruang. Simak faktanya!
Penelitian terbaru menemukan DNA serigala masih tersisa pada mayoritas ras anjing modern.
Pergub Nomor 36 tahun 2025 merupakan perubahan atas Peraturan Gubernur nomor 1999 tahun 2016 tentang Pengendalian Hewan Penular Rabies.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science ini menganalisis 643 tengkorak anjing dan serigala baik modern maupun purba yang berusia hingga sekitar 50.000 tahun.
Pergub diharapkan akan bermanfaat terutama untuk melindungi hewan-hewan peliharaan yakni anjing dan kucing.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved