Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
DOKTER spesialis anak Otty Mitha Sevianti dan Wakil Ketua Bidang Hubungan Internasional Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Diah Puspitosari memberikan sejumlah tips mengenai pentingnya membersihkan dan menjaga higienitas bayi serta memilih produk perawatan kulit bayi yang tepat.
"Ada beberapa faktor yang dapat mendukung tumbuh kembang bayi secara maksimal, di antaranya melalui pola makan yang bergizi, kasih sayang orangtua, serta menjaga kebersihan diri dan lingkungan," kata Otty, yang merupakan lulusan Universitas Indonesia, melalui siaran pers, Rabu (9/8).
Menurut Otty, kebersihan atau higienitas bayi berdampak besar untuk pertumbuhan mereka. Dia pun menganjurkan orangtua untuk selalu menjaga kebersihan dan merawat kulit bayi.
Baca juga: Ini 3 Komponen Nutrisi yang Harus Diberikan Orangtua pada Bayi 6-12 Bulan
Apabila kebersihan pada bayi tidak diperhatikan dengan baik, hal tersebut akan membuat bayi berisiko terkena penyakit menular, seperti kudis, diare, tifus, hepatitis A, cacingan, serta penyakit mulut dan gigi.
"Selalu menjaga dan memastikan bahkan anak berkegiatan di lingkungan dan dalam keadaan bersih adalah hal yang penting. Namun, terlalu bersih akan membuat kulit anak menjadi sensitif," kata Diah.
Kulit yang terlalu bersih justru tidak dapat mengenali kuman-kuman jahat sehingga kulit yang seharusnya dapat membentuk antibodi untuk alergi menjadi gagal melakukan perlindungan.
Baca juga: Ini Tahapan Pemeriksaan Kesehatan Bayi yang Baru Lahir
Oleh sebab itu, Diah menganjurkan para orangtua untuk fokus menjaga higienitas bayi, tetapi, tidak berlebihan dan sewajarnya.
Selain menjaga kebersihan, perhatikan juga pemilihan produk perawatan kulit bayi. Pertama, pastikan produk diformulasikan khusus untuk bayi.
Hindari pengaplikasian produk perawatan tubuh orang dewasa kepada bayi karena berpotensi merusak lapisan kulit bayi yang masih tipis, sensitif, dan rawan iritasi.
Pastikan memilih produk dengan formulasi khusus untuk bayi, terutama jika bayi kerap mengalami reaksi iritasi seperti ruam dan gatal-gatal.
Kedua, jika bayi memiliki jenis kulit yang rentan dan super sensitif, pilih produk perawatan kulit yang tidak mengandung pewangi dan pewarna.
Selain itu, pilih juga produk yang bebas dari paraben (sejenis pengawet) dan phthalate (pelembut) karena berisiko menimbulkan alergi hingga gangguan tumbuh kembang.
Apabila produk perawatan kulit bayi mengandung alkohol, pilihlah jenis alkohol yang aman, seperti cetearyl alcohol atau fatty alcohol. Hindari jenis ethyl alcohol (ethanol) karena dapat mengiritasi kulit bayi.
Ketiga, pilih produk berbahan dasar alami. Secara umum, produk perawatan bayi berbahan dasar alami cenderung aman, nyaman, dan dapat meminimalisasi risiko alergi pada bayi sehingga produk berbahan dasar alami dapat menjadi pilihan aman untuk kulit bayi.
Terakhir, jika pembersih kulit bayi berupa tisu basah, pastikan produk tisu tersebut mengandung pelembab. Kandungan pelembab pada tisu basah, seperti ekstrak kamomil dan vitamin E dapat membantu mengurangi adanya ruam popok dengan memberikan perlindungan pada kulit bayi. (Ant/Z-1)
Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah) harus dimulai dari lingkungan kerja
Pelajari cara mandi wajib setelah berhubungan intim dalam Islam, termasuk niat, tata cara, dan pentingnya untuk menyucikan diri sesuai syariat.
Petugas kebersihan berasal dari lima Suku Dinas Lingkungan Hidup Kota Administrasi serta Unit Penanganan Sampah Badan Air (UPS BA).
Semua pengelola dapur SPPG agar memastikan higienis setiap bahan baku terutama dalam proses pengolahan makanan.
Para orangtua disarankan menghindari penggunaan disinfektan dan antiseptik secara berlebihan di rumah dan fokus pada upaya kebersihan fungsional, bukan sterilisasi berlebihan.
Tak hanya untuk mengembangkan adonan, baking soda juga bermanfaat untuk kesehatan dan kebersihan. Simak cara pakainya dan efek sampingnya.
Anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung maupun bungsu.
Untuk menyiasati dampak negatif FOMO, kunci utamanya justru terletak pada fondasi yang dipupuk sejak dini di lingkungan keluarga.
Adil tidak berarti memberikan perlakuan yang identik kepada setiap anak, melainkan harus disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing.
Langkah pertama yang harus dilakukan bukanlah memaafkan secara terburu-buru, melainkan menyadari bagaimana pengalaman tersebut membentuk dinamika diri di masa kini.
Meta menekankan bahwa perlindungan terhadap anak tidak harus dilakukan dengan cara yang mengekang atau memantau seluruh isi percakapan secara berlebihan.
DI tengah upaya pemerintah memperketat pengawasan digital bagi anak-anak, suara dari akar rumput mengingatkan bahwa regulasi teknis saja tidak cukup.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved