Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
HARI Bumi adalah perayaan bumi dan lingkungan kita. Ini adalah peristiwa sejarah yang terjadi setiap tahun. Di Hari Bumi, kita akan mengenang betapa eratnya kita terhubung dengan bumi, serta tanggung jawab kita untuk melindunginya.
Tahun ini, tema Hari Bumi 2023 ialah “Invest in Our Planet.” yang berisi kita membutuhkan investasi kita sekarang. Agar masa depan yang hijau, sejahtera, dan adil menjadi kenyataan, bisnis, pemerintah, dan masyarakat sipil harus mengambil tindakan terhadap krisis iklim.
Selain itu juga tema ini bertujuan agar kita bisa mengadopsi ekonomi hijau untuk memanfaatkan manfaatnya. Mengembangkan masa depan yang stabil membutuhkan dukungan luas dari pemerintah, masyarakat, institusi, dan bisnis.
Baca juga : Didukung Sejumlah Pihak, Program Climate Innovation Acceleration Diresmikan
Lantas kapan hari bumi itu ? dan seperti apa sejarahnya ? mau tahu jawabanya yuk, di scroll sampai di bawah.
Sejarah Hari Bumi
Sejarah hari bumi atau Earth Day yang kini diperingati setiap tanggal 22 April pertama kali diselenggarakan pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Penggagasnya adalah Gaylord Nelson, seorang senator Amerika Serikat dari Wisconsin yang juga pengajar lingkungan hidup.
Baca juga : Kebutuhan Mendesak untuk Aksi Iklim Nyata
Hari Bumi awalnya berangkat dari gerakan lingkungan modern yang terjadi pada 22 April 1970 di Amerika Serikat. Disebutkan, pada 1960-an sampai 1970-an, Amerika Serikat mengalami gejolak ekonomi dan politik. Masyarakat AS mengisap gas bertimbal dalam jumlah besar karena pabrik-pabrik menghasilkan asap dan lumpur yang tak terkontrol. Polusi udara di mana-mana.
Namun saat itu, masih banyak orang yang belum sadar akan masalah lingkungan dan dampaknya pada kesehatan manusia. Akhirnya pada 1962, Rachel Carson menerbitkan buku berjudul Silent Spring yang menyoroti masalah lingkungan, terutama bahaya pestisida di pedesaan Amerika.
Berangkat dari isu lingkungan di Amerika ini lah, sejarah Hari Bumi tercipta dan Hari Bumi Sedunia terus diperingati untuk mendorong kesadaran masyarakat dunia akan pentingnya menjaga Bumi dari kerusakan lingkungan.
Baca juga : Venture Builder untuk Startup Berbasis Alam, Terratai Raih Pendanaan USD 2 Juta
Buku tersebut mewakili momen pencemaran lingkungan dan membantu meningkatkan kesadaran publik terhadap organisme hidup, lingkungan, dan dampaknya pada kesehatan. 500.000 ekslempar habis terjual di 24 negara.
Perkembangan bumi
Tahapan perkembangan kehidupan di bumi dapat dibedakan menjadi 4 era atau periode yaitu, Era arkaekum/ azoikum (zaman tertua), Era Palaeozoikum (zaman kehidupan tua), Era Mesozoikum (zaman kehidupan pertengahan), Era Neozoikum/ kainozoikum.
Baca juga : Sinar Mas Land Gelar Green Camp Bentuk Pemuda Peduli Lingkungan
- Zaman Akaekum/ Azoikum (zaman tertua)
Pada zaman ini, bumi masih berbentuk bola pijar dengan suhu yang masih sangat panas sehingga belum ada tanda-tanda kehidupan. Zaman ini diperkirakan berada kurang lebih pada 2.500 juta tahun yang lalu.
- Era Paleozoikum (zaman kehidupan tua)
Baca juga : ST Bhinneka Jadi Founding Member Jejaring Internasional Climate-U
Pada zaman ini, iklim dan cuaca di bumi masih terus berubah, dimana curah hujan sangat tinggi dan keadaan lingkungan pun belum stabil. Pada zaman ini, hujan turun terus-menerus sehingga membanjiri permukaan bumi dan mendinginkan suhunya yang panas. Zaman ini menandai munculnya kehidupan baru di bumi yang dibuktikan dengan ditemukannya fosil hewan dan tumbuhan yang berusia jutaan tahun.
Ada 6 periode dalam era ini yaitu, periode, periode ordovisum, periode silur, periode devon, periode karbon, dan periode perm.
- Era Mesozoikum (zaman kehidupan pertengahan)
Keadaan iklim dan cuaca pada zaman ini berangsur-angsur mulai membaik. Kehidupan mengalami perkembangan yang pesat pada zaman ini, dimana makhluk hidup yang muncul pada zaman ini adalah binatang dengan ukuran yang besar, misalnya reptile yang mempunyai ukuran badan sangat besar (dinosaurus). Terdapat 3 periode pada era ini yaitu : periode trias, periode jura, dan periode kapus.
Baca juga : HIPMI Minta Pemerintah Dorong Pembentukan Peraturan Pajak Karbon
- Era Neozoikum/ kainozoikum
Pada zaman ini, keadaan bumi semakin membaik karena cuaca dan iklim semakin stabil dan kehidupan pun semakin berkembang dengan pesat. Zaman ini dapat dibedakan menjadi dua periode/ zaman yaitu, zaman tersier yang ditandai dengan berkurangnya jumlah binatang raksasa dan kemunculan berbagai jenis mamalia. Serta zaman kuarter yang dapat dibagi menjadi dua zaman yaitu zaman pleistosen dan zaman holosen.
Peringatan hari bumi 2023
Baca juga : 50 Pemuda Indonesia Dipilih untuk Ciptakan Masa Depan yang Lebih Hijau
Pada Bulan April 2023 ini, peringatan Hari Bumi atau Earth Day yang diperingati pada tanggal 22 April 2023.
Peringatan setiap tanggal 22 April tersebut, tidak lepas dari gerakan untuk meningkatkan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan. Seperti kampanye, konser, dan kegiatan penanaman pohon adalah acara yang biasa berlangsung di Hari Bumi. (Z-5)
Baca juga : Cegah Perubahan Iklim, Tripatra Tanam 50 Ribu Pohon Mangrove dan Terestrial
Bonnie Triyana meresmikan pameran revolusi di Jakarta yang menghadirkan narasi baru sejarah kemerdekaan lewat karya seni dan perspektif kemanusiaan.
DI tengah pesatnya transformasi digital saat ini, pergeseran juga terjadi di ruang narasi sejarah. Kondisi tersebut membuat narasi sejarah bertransformasi di ruang digital.
Sutradara Aldo Swastia menyebut tidak ada patokan pasti dalam menentukan batas antara fakta dan fiksi yang harus dikembangkan terutama dalam film bertema sejarah atau kepahlawanan.
Penilaian terhadap Pak Harto harus dilakukan dengan pendekatan akademik yang berimbang,
Di 2020, Sumardiansyah menolak keras kebijakan Kemendikbudristek yang ingin menjadikan sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA dan menghapuskannya di SMK.
Koleksi bersejarah ini terdiri dari sekitar 28.000 artefak fosil yang ditemukan Eugène Dubois di Trinil pada 1891–1892.
Polda Riau mengajak para mahasiswa mengunjungi Tabung Harmoni Hijau (THH), sebuah pusat edukasi lingkungan
Novotel Karawang dan Mercure Tangerang Centre menggelar aksi peduli lingkungan dengan menanam mangrove serta membersihkan Pantai Jalasena, Karawang.
Karnaval menggunakan kostum dari bahan daur ulang atau sampah ini bertujuan sebagai upaya edukasi untuk mencintai lingkungan.
Anak KAO (Kreatif, Aktif, Optimis), Sekolah Sehat 2025, wujud komitmen Kao mendukung terwujudnya generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan peduli lingkungan
Petugas gabungan membersihkan tanaman eceng gondok dari permukaan danau.
Tak hanya bersenang-senang, para pengendara motor ini juga menunjukkan kepedulian mereka terhadap lingkungan sekitar
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved