Headline
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUMBUHAN dan perkembangan pada dua tahun pertama merupakan periode emas yang dapat memengaruhi kualitas hidup anak di masa depan. Sejalan dengan itu, anak membutuhkan nutrisi cukup dan berkualitas untuk mengoptimalkan proses tumbuh kembang.
Dokter anak dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) DR Dr Lanny Christine Gultom SpA(K) menyampaikan pentingnya menjaga proses tumbuh dan kembang anak sejak dini agar terhindar dari masalah gizi (malnutrisi).
“Malnutrisi atau gangguan gizi bisa berupa kelebihan, kekurangan gizi dan kekurangan zat gizi mikro. Ini harus diwaspadai karena dapat menghambat tumbuh kembang anak," kata Lanny dalam webinar nasional bidan Indonesia yang diselenggarakan Indofood Nutrition bersama Klikdokter, Ikatan Bidan Indonesia, dan BKKBN.
"Seringkali terjadi kekurangan zat gizi mikro dan ini tidak disadari para orang tua, sehingga dikenal sebagai hidden hunger, yakni anak tidak mendapat asupan vitamin dan mineral penting dalam jumlah cukup, seperti zat besi, zink, kalsium, vitamin A, B, C dan D,” jelas Lanny dalam keterangannya, hari ini.
Lanny menambahkan kekurangan zat gizi mikro dapat menyebabkan tumbuh kembang anak tidak optimal, anemia, kecerdasan menurun, anak mudah sakit, penyakit mata, stunting, dan sebagainya.
"Kebutuhan zat gizi mikro dapat dipenuhi melalui makanan pendamping air susu ibu (MPASI) buatan rumah tangga (homemade) atau komersial."
Namun, pemenuhan zat gizi mikro dengan menggunakan MPASI buatan rumah tangga jadi tantangan bagi para ibu karena harus menekankan pemilihan bahan makanan yang merupakan sumber zat gizi mikro yang dibutuhkan dan memperhatikan kemampuan bayi untuk menghabiskan makanan yang diberikan.
Sementara itu, MPASI komersial yang difortifikasi dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) harus mengandung zat gizi makro dan mikro sesuai kebutuhan harian bayi berdasarkan Peraturan BPOM No 1 Tahun 2018 mengenai Pengawasan Pangan Olahan Untuk Keperluan Gizi Khusus.
Pada penelitian di Indonesia, kelompok bayi berusia antara 6-24 bulan yang mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan dan mengonsumsi MPASI buatan rumah tangga memiliki kadar hemoglobin, besi serum, dan feritin yang lebih rendah, serta berisiko lebih tinggi mengalami stunting dan wasting dibandingkan kelompok bayi berusia 6-24 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan mengonsumsi MPASI komersial yang difortifikasi.
Baca juga: Kenali Beda Hidden Hunger dengan Kelaparan Biasa
Pembicara webinar lainnya, dokter gizi dr Putri Sakti MGizi SpGK AIFO-K menyampaikan ada banyak bahan makanan kaya nutrisi yang dapat diolah menjadi MPASI di antaranya hati ayam, hati sapi, daging sapi, wortel, ikan, telur, dan kurma.
"MPASI buatan bisa menjadi pilihan terbaik, tetapi ibu harus tahu cara mengolahnya agar asupan vitamin dan mineralnya tidak berkurang. Ibu juga harus memahami untuk memenuhi kebutuhan gizi harian bayi dibutuhkan makanan dalam jumlah relatif banyak," terang Putri.
Menyadari dampak serius hidden hunger dan masih kurang beragamnya konsumsi makanan balita di Indonesia, SUN-MPASI fortifikasi produksi PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk menghadirkan bubur bayi dengan varian rasa baru KURMA & SUSU sebagai upaya pemenuhan nutrisi adik bayi.
“Selain rasanya enak, SUN bubur Kurma & Susu ini mengandung nutrisi lengkap ESENUTRI yang dibutuhkan anak, seperti protein, omega 3 & 6, zat besi, zinc, 11 vitamin termasuk vitamin B kompleks dan 6 mineral. Produk baru ini dibuat dengan kebaikan kurma asli yang aman karena tidak mengandung pengawet," papar Brand Manager SUN Sri Lestari.
"Karena itu, mari ibu-ibu kita penuhi kebutuhan nutrisi buah hati kita, bersama-sama kita cegah hidden hunger dengan MPASI bernutrisi,” ujarnya.
Turut hadir dalam webinar, Ketua IBI Dr Emi Nurjasmi MKes dan Kepala BKKBN dr Hasto Wardoyo SpOG (K) yang mengajak para bidan mendampingi ibu-ibu memenuhi kebutuhan gizi anak untuk mencegah hidden hunger sehingga tumbuh kembang dapat tercapai optimal. (RO/S-2)
Orang tua disarankan lebih cermat menyiasati pemenuhan gizi anak di rumah, terutama bagi anak yang lebih menyukai susu dibandingkan makanan utama.
Menurut dr. Ray, sistem pencernaan bukan hanya berfungsi untuk mencerna makanan, tetapi juga berperan langsung dalam proses pertumbuhan otak dan kemampuan kognitif anak.
Pelajari 7 cara sederhana untuk melindungi anak-anak dari paparan polusi udara. Mulai dari penggunaan masker N95 hingga memilih transportasi ramah lingkungan.
Program ini akan hadir dalam berbagai edisi, baik akademik maupun non-akademik, sehingga setiap Si Kecil memiliki kesempatan untuk bersinar sesuai potensinya.
Tahap awal pembekalan akan difokuskan pada asesmen pertumbuhan anak untuk mendeteksi terjadinya gizi kurang, gizi buruk, dan obesitas yang dapat mengganggu perkembangan anak.
Tiga pilar utama kesehatan anak—pemeriksaan berkala, vaksinasi, dan nutrisi seimbang—jadi kunci pencegahan untuk masa depan yang sehat dan cerah.
Kekurangan asupan nutrisi bukan sekadar masalah fisik atau tubuh yang terlihat kurus. Lebih jauh, ketidakseimbangan gizi dapat mengganggu struktur fundamental otak.
Riset terbaru University of Bristol mengungkap makanan tanpa proses (unprocessed) membantu tubuh mengatur porsi makan secara alami dan mencegah obesitas.
Kesalahan nutrisi sering kali terjadi karena ketidaktahuan orangtua yang menganggap pola makan anak saat ini sebagai hal yang wajar.
Kesehatan otak seharusnya dirawat sejak dini melalui kebiasaan sehari-hari yang konsisten.
Asupan energi yang seimbang di pagi hari berperan dalam mendukung proses berpikir, daya ingat, serta kesiapan fokus anak saat belajar.
Nutrisi olahraga menjadi faktor penting yang menentukan energi, performa, dan pemulihan tubuh saat berolahraga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved