Kamis 10 November 2022, 13:30 WIB

Ingin Jadi Donor Jantung? Ini Syaratnya

Basuki Eka Purnama | Humaniora
Ingin Jadi Donor Jantung? Ini Syaratnya

Mayo Clinic
Ilustrasi

 

DOKTER spesialis bedah toraks kardiovaskular RS Jantung dan Pembuluh Darah Harapan Kita (RSJPDHK) Dudy Arman Hanafy mengatakan ada syarat tertentu yang harus dipenuhi oleh pendonor jika ingin menyumbangkan jantungnya.

"Pada dasarnya tidak ada riwayat hipertensi, tidak ada riwayat sakit jantung seperti serangan jantung, nyeri dada, tidak ada kolesterol, walaupun kolesterol dan darah tinggi itu bisa diobati," ujar Dudy saat berbincang di Jakarta, dikutip Kamis (10/11).

"Cuma yang dianggap sehat itu adalah yang tidak ada kelainan struktur, kelainan katup, kelainan bocor jantung dan tidak ada kelainan seperti penyempitan pembuluh darah," lanjutnya.

Baca juga: Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Kini Miliki Layanan Transplantasi

Lebih lanjut, Dudy mengatakan selain memiliki kondisi jantung yang sehat, pendonor juga harus berusia 18 tahun ke atas atau dewasa dan tidak lebih dari 55 tahun.

Golongan darah antara pendonor dan pasien juga harus sama termasuk rhesus-nya baik positif atau negatif. Sebisa mungkin gender antara pendonor dan pasien harus sama kecuali terdapat kasus khusus yang tidak bisa dihindari.

"Ada banyak faktor sebenarnya kenapa harus laki-laki sama laki-laki dan sebaliknya, tapi kalau kepepet boleh saja asal sama golongan darahnya. Tapi kalau golongan darahnya beda enggak bisa tuh dicocok-cocokin, dicoba-coba," kata Dudy.

Menurut Dudy, mendonorkan jantung memang tidak sembarangan dan ada banyak proses pemeriksaan yang harus dilakukan.

Meski demikian, tidak semua transplantasi jantung berjalan dengan mulus. Menurut Dudy ada juga ketidakcocokan jantung antara pasien dan pendonor walau sudah tertanam, bahkan bisa menyebabkan gagal jantung kembali hingga kematian.

"Pasien pasti akan kita biopsi jadi diambil dari jaringan jantungnya, yang sudah ditanam, kita ambil sel-selnya, mungkin ada sequence-nya, awal seminggu sekali lalu berapa bulan sekali. Dari situ kita bisa melihat, ada tidaknya penolakan dari sel-sel tersebut," ujarnya.

"Kalau stadium awal, bisa kita kasih obat antipenolakan yang dosisnya kita naikin atau tinggi. Tapi kalau sudah stadium akhir harus transplantasi ulang," lanjut Dudy. (Ant/OL-1)

Baca Juga

AFP

Soal COP27, Walhi: Pendanaan Pemulihan Lingkungan Harus Transparan

👤Dinda Shabrina 🕔Senin 28 November 2022, 22:28 WIB
Walhi juga menilai bahwa pendanaan untuk pemulihan lingkungan akibat ekonomi ekstraktif, juga harus menyasar masyarakat...
dok.kementan

Kerjasama Indonesia-Belanda, Kembangkan Pendidikan Vokasi Pertanian

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 28 November 2022, 22:11 WIB
MENTERI Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyatakan pendidikan vokasi menjadi jawaban atas kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM)  pertanian...
Ist

PPM SoM Siap Cetak Pemimpin Muda untuk Indonesia Emas 2045

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 28 November 2022, 21:54 WIB
Sebanyak 409 wisudawan, baik wisudawan yang menyelesaikan program studi tahun 2021 maupun 2022, mengikuti prosesi wisuda PPM School of...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya