Jumat 04 November 2022, 20:31 WIB

Sepak Bola Kembangkan Motorik dan Berpikir Strategis Anak

Mediaindonesia.com | Humaniora
Sepak Bola Kembangkan Motorik dan Berpikir Strategis Anak

Antara/Arnas Padda.
Sejumlah anak bermain sepak bola di dermaga Pelabuhan Rakyat Paotere, Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (19/7/2022).

 

OLAHRAGA sepak bola memiliki banyak manfaat untuk anak-anak dalam mengembangkan motorik dan berpikir strategis. Dalam proses tumbuh kembang, ada dua hal penting yang dilatih ketika anak bermain sepak bola yakni kedisiplinan dan bekerja sama.

"Manfaatnya, mulai dari koordinasi motoriknya berkembang dan membangun kemampuan anak untuk berpikir strategis," ujar Ketua Ikatan Psikolog Klinis Wilayah DKI Jakarta Anna Surti Ariani, Jakarta, Kamis (3/11). Saat bermain bola, khususnya yang mengembangkan hobi tersebut secara profesional, anak dituntut untuk selalu disiplin agar bisa meningkatkan kemampuan. 

Berlatih tiap hari, pantang menyerah, dan tekun untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Selain itu, bermain bola pada anak dapat meningkatkan kemampuan berkomunikasi, membaca situasi, dan berpikir untuk menyelesaikan masalah, serta mencari strategi.

Menurut Anna, seluruh kemampuan tersebut akan berguna di masa mendatang meski tidak menjadi pemain bola profesional. "Dari situ dia bisa percaya bahwa untuk mencapai sesuatu harus ada kerja sama tim, berbagi komunikasi, kesempatan, dan tugas. Kita butuh kerja sama untuk berbagai kegiatan kehidupan masyarakat dan itu bisa dikembangkan lewat sepak bola," kata lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu. 

Psikolog klinis itu mengatakan bermain sepak bola juga dapat membuat anak belajar hal baru dari rekan sepermainannya. Tak hanya itu, dalam permainan sepak bola, anak akan saling mengingatkan untuk tidak melakukan kesalahan. Kebiasaan tersebut secara tidak langsung dapat membantu anak untuk menyebarkan kebaikan. 

"Ini yang dibilang peer to peer learning. Ini bagus banget untuk perilaku yang baik. Ketika anak-anak sudah punya kebiasaan itu, mereka bisa jadi agent of change," katanya. 

Anna juga mengatakan kebiasaan baik harus diterapkan kepada anak sedini mungkin. Menurutnya, efek tersebut akan terlibat saat anak mulai beranjak dewasa. 

"Segala pembentukan kebiasaan memang harus dimulai dari dini. Kalau baru diajarkan saat dewasa, efeknya tidak akan terbentuk dan yang diajarkan menumpuk begitu saja." (Ant/OL-14)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto

Pelibatan Disabilitas dalam Pembangunan Infrastruktur masih Minim

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 19:30 WIB
Karena belum banyak melibatkan peran kelompok disabilitas mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaannya. Sehingga masih banyak...
Dok.MI

Infrastruktur Inklusif Untuk Disabilitas Masih Minim

👤Naufal Suhdi 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:55 WIB
Ketua Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia, Gufron Sakaril mengatakan Infrastruktur yang inklusif adalah infrastruktur yang ramah...
Ist

Teknologi Laser Terbaru Pulihkan Mata Rabun Lebih Cepat dan Nyaman

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 03 Desember 2022, 18:47 WIB
ReLEx SMILE PRO memungkinkan pasien untuk langsung beraktivitas seperti biasa dan produktif kembali pada keesokan harinya pasca...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya