Rabu 02 November 2022, 13:15 WIB

Kemenkes dan BPOM Diharapkan Buka Fakta Terkait Obat Sirop Penyebab Gangguan Ginjal Akut

M. Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Kemenkes dan BPOM Diharapkan Buka Fakta Terkait Obat Sirop Penyebab Gangguan Ginjal Akut

Lampost.co
Ilustrasi

 

Kementerian Kesehatan atau Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) diharapkan bisa membuka fakta seluas-luasnya obat apa saja yang dikonsumsi pasien anak yang mengalami Gangguan Ginjal Akut Progresif Atipikal pada Anak (GGAPA). Per 31 Oktober 2022 kasus GGAPA mencapai 304 kasus, sebanyak 159 kasus meninggal dunia, 46 pasien masih dirawat, dan 99 anak sembuh.

Direktur Pasca Sarjana Universitas YARSI Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan ada beberapa obat sirop yang mengandung Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

"Kalau memang semua atau sebagian amat besar pasien maka kita memang memakan obat yang resmi diumumkan tercemar itu maka kita dapat dengan lebih yakin menyebut bahwa lima obat atau lebih, inilah yang menjadi penyebab masalah sekarang ini," kata prof Tjandra dalam keterangannya, Rabu (2/11).

Tetapi, lanjut Prof Tjandra, jika anak-anak yang ternyata tetap jatuh sakit bahkan meninggal, dan ternyata mereka tidak meminum obat sirop yang dilarang, maka masalahnya tentu jadi makin kompleks.

Sehingga perlu diketahui obat sirop apa saja yang dikonsumsi oleh anak yang mengalami GGAPA.

"Kita jadi perlu tahu secara amat rinci tentang obat apa saja yang diminum oleh masing-masing dari 304 anak ini. Lalu tentu perlu dicek satu persatu obat-obat yang sudah diminum para pasien anak itu selama ini, apakah memang aman, atau ada yang kadar EG dan DEG melebihi batas aman juga," ujarnya.

Analisa yang juga perlu dilakukan adalah menilai apakah ada faktor lain di luar obat yang mungkin jadi penyebab, baik itu infeksi, faktor lingkungan, atau kebiasaan tertentu dan lainnya.

Untuk analisa ini maka tentu perlu dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) yang ketat pada setiap dari 304 anak itu, termasuk bagaimana keadaan di rumahnya, tempat bermain, atau di sekolahnya.

"Akan baik kalau dikeluarkan analisa dalam bentuk semacam tabel lengkap dari 304 kasus ini. Masing-masing dituliskan informasi demografinya, informasi perjalanan penyakitnya, lalu obat-obat apa saja yang dikonsumsi sebelum sakit pada setiap anak itu dan juga berbagai faktor lain yang mungkin mempengaruhi terjadinya penyakit," pungkasnya. (OL-12)

 

Baca Juga

MI/Dwi Apriani

Target Stunting 14 Persen, Kemenkes Terapkan Pendekatan Gizi Spesifik

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 07 Desember 2022, 12:41 WIB
"Kita punya waktu hanya 2 tahun lagi sebelum akhirnya kita mencapai target stunting menjadi 14% di...
ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Harbolnas Segera Tiba, Masihkan Festival Belanja Daring Menarik Perhatian?

👤Basuki Eka Purnama 🕔Rabu 07 Desember 2022, 12:30 WIB
Dilansir dari Nielsen Indonesia, nilai transaksi Harbolnas terus meningkat dengan rataan 52,5% setiap tahunnya hingga mencapai Rp9,1...
Freepik

Ini Cara Membuat Silsilah Keluarga

👤Mesakh Ananta Dachi 🕔Rabu 07 Desember 2022, 12:15 WIB
Suatu keluarga besar yang menggambarkan keturunan yang panjang membutuhkan silsilah keluarga sebagai acuan sejarah dan sumber informasi...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya