Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PERTUMBUHAN populasi manusia dinilai sebagai pendorong perubahan iklim, termasuk perusakan kawasan mangrove. Faktor lain juga disebabkan oleh adanya perubahan-perubahan ahli fungsi lahan, seperti adanya penebangan liar dan berbagai macam pencemaran.
“Ini menjadi penyebab utama di dalam meningkatkan tekanan terhadap perusakan mangrove. Di dalam perusakan itu akan menyebabkan terjadinya degradasi mangrove, deforestasi, dan juga meningkatkan abrasi dan agresi,” ungkap Kepala Kelompok Kerja Rehabilits Mangrove Wilayah Sumatra Onesimus Patiung, dalam webinar, Selasa (25/10).
Jika melihat data dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), populasi penduduk Indonesia pada 2021 bertambah sebanyak 2.529.862 jiwa dibandingkan dengan 2020.
“Ini tidak bisa kita hindari. Tentu ini akan menjadi bagian yang salah satu pendorong kerusakan, tetapi kita harus bijaksana di dalam menyikapinya,” kata Onesimus.
Ia melanjutkan, faktor kedua perusakan masifnya pembangunan ekonomi yang beriringan dengan meningkatnya pendapatan per kapita penduduk Indonesia. Sejalan dengan itu, pembangunan infrastruktur di Indonesia pun ikut meningkat. Hal itulah yang membuat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat.
Faktor-faktor yang mendorong kerusakan mangrove ini jelas menimbulkan kerentangan dan meningkatkan potensi-potensi bencana di Indonesia.
“Kita bisa lihat apa yang terjadi di pantai utara Jawa kondisinya semakin parah, dan juga kita bisa mengetahui bahwa intrusi air laut yang semakin meningkat. Kemudian juga adanya banjir rob dan lain sebagainya,” tutur Onesimus.
Diketahui, Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan rehabilitas mangrove di sembilan provinsi di Indonesia, di antaranya Sumatera Utara, Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Papua, dan Papua barat. Jika dihilat, kesembilan provinsi itu merupakan batas luar Indonesia yang memiliki lahan mangrove yang cukup luas.
Meski begitu, Onesimus mengatakan tantangan yang dihadapi untuk merehabilitasi lahan mangrove berbeda-beda di setiap provinsinya.
“Misalnya Sumatra Utara yang banyak ekosistem mangrove berubah karena adanya kelapa sawit dan juga adanya tambak. Di provinsi lain itu karena adanya tambang baik yang ilegal maupun yang tambang secara legal yang ada di Kepulauan Bangka Belitung. Kemudian yang ada di Kalimantan Utara adalah hampir semuanya berubah menjadi tambak,” jelasnya.
Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo dalam hal ini menargetkan rehabilitasi mangrove seluas 600.000 hektare hingga 2024 seperti yang tertulis dalam Peraturan Presiden Nomor 120 Tahun 2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. (H-2)
sudah ada inovasi dalam mengatasi masalah sampah dalam skala rumah tangga hingga satu desa.
Kemenag memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial
Analisis mendalam dampak penaburan Kapur Tohor (CaO) dalam modifikasi cuaca. Pelajari efek eksotermik, risiko alkalinitas, dan manfaat mitigasi bencana.
Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus menjadi perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.
Industri kelapa sawit terus dipandang sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional,
Di luar sanksi hukum, WALHI Sumut menekankan pentingnya agenda pemulihan ekosistem yang terencana, terukur, dan melibatkan masyarakat terdampak.
Fenomena Bulan yang perlahan menjauh dari Bumi dijelaskan secara ilmiah oleh pakar IPB University.
Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pemanasan laut, diskusi tentang energi dan kelautan kini tidak lagi berdiri sendiri.
Peneliti mengungkap mekanisme seluler yang membantu tanaman tetap tumbuh meski cuaca ekstrem. Temuan ini menjadi kunci masa depan ketahanan pangan global.
Meski perubahan iklim mengancam es laut, beruang kutub di Svalbard justru ditemukan lebih sehat dan gemuk. Apa rahasianya?
Di tengah krisis iklim yang kian nyata, arah kebijakan negara disebut belum beranjak dari pendekatan lama yang justru memperparah kerusakan lingkungan.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved