Headline
Kasus kuota haji diperkirakan merugikan negara Rp622 miliar.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBUTUHAN perangkat gadget saat ini tidak hanya pada orang dewasa tetapi juga anak-anak. Saat pandemi terjadi kegiatan belajar dialihkan ke belajar online. Hal tersebut membuat orangtua tidak memiliki pilihan lain selain memberikan gadget kepada anak.
Psikolog Anastasia Satriyo mengungkapkan penggunaan media sosial oleh anak jika tidak diawasi dengan baik dapat menimbulkan berbagai efek negatif. "Jika anak tidak diawasi dalam penggunaan media sosial, mereka bisa terdampak efek negatifnya seperti mengakses konten yang belum pantas bagi mereka dan cyberbullying," jelasnya dalam webinar tentang Anak Aman Bermedia Sosial yang digelar Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bekerjasama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital Siberkreasi, baru-baru ini.
Anastasia Satriyo mengatakan peran keluarga memegang peran penting dalam pencegahan cyberbullying kepada anak. "Peran orangtua sangat penting dalam mencegah anak menjadi korban bahkan pelaku cyberbullying. Bijaklah dalam memberikan gadget kepada anak dan awasi pemakaiannya," jelas Anastasia.
Praktisi pendidikan dan pembicara publik, Ita Sembiring, juga mengatakan orangtua dan orang terdekat menjadi yang paling bertanggung jawab melindungi anak dalam bermedia sosial. "Jangan kita ajarkan kepada anak hal yang belum pantas bagi mereka, apalagi sampai menjadi terbiasa melakukannya. Saat ini banyak orangtua tidak memberikan keamanan dan privasi kepada anak dengan memposting segala hal tentang anak di media sosial," jelas Ita.
Ia mengajak orangtua memberikan lebih banyak pemahaman pada anak dalam penggunaan media sosial. "Kita jangan hanya melarang suatu hal kepada anak tetapi tidak memberikan contoh yang baik. Kita beri pemahaman bukan dengan ancaman tetapi menjadi teladan dengan memberikan contoh perilaku yang baik di samping mereka," terangnya. "Sebagai orangtua kita harus bisa menciptakan kegiatan bersama dengan anak-anak kita. Ciptakan ruang berkomunikasi yang sehat dan terapkan aturan bermain agar anak tetap aman dalam menggunakan media sosial," pungkasnya.
Ketua Komunitas Technopren.pky Beta Centauri mengatakan ada beberapa dampak negatif jika anak yang belum cukup umur diberikan akses media sosial. "Selain cyberbullying ada beberapa jenis kejahatan lain yang mengintai anak jika mereka menggunakan media sosial, seperti penipuan melalui email, telepon, dan SMS, phising yaitu upaya untuk mendapatkan informasi data dengan teknik pengelabuan dan terakhir kecanduan dalam mengakses media sosial," jelas Beta.
Beta Centauri juga mengimbau orangtua menjaga keamanan personal anak di media sosial. "Jangan sampai kita mengumbar data pribadi anak di media sosial, memposting video dan foto mereka tanpa busana, serta batasi penggunaan media sosial oleh anak yang telah kita fasilitasi perangkat gadget," ungkapnya. (RO/OL-14)
Ingin mudik aman tanpa drama? Simak panduan lengkap manajemen stres dan kenyamanan kabin khusus untuk perjalanan bersama anak-anak dan lansia di sini
Gemas sama anak orang boleh, tapi jangan main cium, pegang, apalagi asal suapin. Kita gak tau kuman apa yang nempel di tangan kita.
Penguatan pelayanan kesehatan primer, terutama Puskesmas dan Posyandu, harus menjadi prioritas dalam strategi nasional penanganan kesehatan mental anak.
Pemerintah mengajak para orangtua untuk kembali menghadirkan waktu berkualitas di rumah melalui gerakan #SatuJamBerkualitas Bersama Keluarga.
Tingginya mobilitas masyarakat, terutama pada momen libur lebaran, menjadi salah satu faktor risiko yang patut diwaspadai orangtua mengenai risiko campak pada anak.
Waktu ideal untuk pemberian vaksinasi adalah minimal 14 hari atau dua pekan sebelum keberangkatan guna memastikan perlindungan optimal selama liburan.
PEMERINTAH Provinsi Sumatra Utara mencatat lonjakan kasus kekerasan terhadap anak yang didominasi oleh kekerasan seksual sepanjang tahun 2025.
Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat menegaskan pentingnya membangun ekosistem hukum yang kuat serta edukasi yang memadai untuk melindungi anak-anak.
kasus kekerasan terhadap siswa ini mencederai rasa kemanusiaan.
Ciri berikutnya adalah anak cenderung menarik diri dari pergaulan karena komunitas TCC membuat mereka nyaman sehingga anak-anak lebih suka menyendiri.
MENTERI Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi menyampaikan keprihatinan mendalam atas maraknya kasus penculikan anak yang terjadi belakangan ini.
Psikolog anak, Mira Damayanti Amir, menekankan bahwa darurat kekerasan tengah terjadi di Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved