Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH harus menyiapkan skenario kebutuhan air bersih di wilayah Indonesia. Itu merupakan salah satu upaya yang dilakukan untuk mengantisipasi adanya ancaman kekeringan akibat perubahan iklim. Hal itu menjadi salah satu masukan dalam Rakornas BMKG 2022 bertajuk Peran Info BMKG Dalam Mendukung Ketahanan dan Kedaulatan Pangan Nasional.
"Skenario kebutuhan air bersih di masing-masing pulau ini menjadi ide yang menarik. Mari kita sama-sama yang punya kepentingan ini, mulai dari Kemeterian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, lalu juga PDAM berkolaborasi untuk menyiapkan dan antisipasi ke depannya," kata Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR Djarot Wiyoko, Senin (8/8).
Namun, Djarot mencatat, sebelum membuat skenario kebutuhan air bersih dibutuhkan informasi mengenai air baku atau berapa banyak air hujan yang turun dan bisa ditampung untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Dalam hal ini, BMKG memegang peranan kunci.
Menurut Djarot, BMKG harus melakukan kajian terkait dengan management catchment area atau daerah tangkapan air untuk mengoptimalkan tempat penyimpanan air.
"Seperti misalnya salah satu yang kami lakukan adalah penyiapan air baku di NTT. Di sana kami siapkan embung karena melihat hujan turun di sana sangat minim, yakni kurang dari 1.000 mililiter per tahun. Karenanya di sana disiapkan embung dengan estimasi kebutuhan air baku masyarakat ialah 60 liter per hari," beber Djarot.
"Ini adalah upaya. Mulai dari lingkungan dan mengarustamakan pemikiran bahwa kita harus kembalikan air ke bumi, tahan air di bagian hulu, ini akan jadi satu gerakan dan diharapkan mampu mempertahankan air baku," imbuhnya.
Baca juga: BRIN Dorong Pemanfaatan Teknologi Pengolahan Air Bersih
Pada kesempatan itu, Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Laksmi Dhewanthi mengamini skenario kebutuhan air bersih menjadi satu hal yang penting di tengah kondisi perubahan iklim saat ini. Pasalnya, degan kondisi naiknya suhu permukaan air laut dan suhu permukaan bumi, bisa saja pola curah hujan berganti.
"Di KLHK, sudah banyak hal yang kami lakukan. Selain melakukan rehabilitasi daerah aliran sungai dan hutan, kita lakukan juga upaya di ekosistem yang unik, termasuk lahan gambut. KLHK dan BRGM melakukan pengaturan agar tidak terjadi drainase dari ekosistem itu," ucap Laksmi.
Selain itu, pihaknya juga melakukan upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan di wilayah-wilayah yang berpotensi kekeringan dan sensitif terhadap kebakaran hutan dan lahan.
"Perlu banyak upaya yang kita lakukan. Upaya itu tentu bisa kita rancang lebih baik apabila kita punya data dan informasi yang akurat terakit kondisi iklim dan cuaca Indonesia di masa yang akan datang dari waktu ke waktu," pungkas Laksmi.(OL-5)
BMKG menggelar Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Jabodetabek mulai 16 hingga 22 Januari 2026 mitigasi menekan potensi bencana hidrometeorologi akibat tingginya curah hujan
Peran aktif masyarakat dalam meningkatkan kesiapsiagaan dapat meminimalisir risiko dan dampak bencana akibat cuaca ekstrem, sehingga keselamatan dan keamanan bersama tetap terjaga.
BMKG bersama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta serta TNI Angkatan Udara menggelar operasi modifikasi cuaca (OMC) di wilayah Jakarta dan sekitarnya
BMKG, TNI AU, dan BPBD DKI Jakarta gelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) 16-22 Januari 2026 untuk cegah bencana hidrometeorologi di Jabodetabek.
hujan dengan intensitas sedang – lebat disertai petir/kilat dan angin kencang berpotensi terjadi di Kabupaten Badung, Tabanan, Jembrana, Bangli, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng
Langkah ini diambil untuk menekan intensitas hujan di daratan dengan cara menebar garam di awan-awan hujan sebelum memasuki wilayah pemukiman padat.
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
PERINGATAN mengenai ancaman perubahan kiamat iklim kembali menguat seiring dengan ditemukannya fenomena geologi yang tidak biasa di Greenland.
Kawasan mangrove, yang berperan penting sebagai pelindung pantai, penyerap karbon, serta habitat keanekaragaman hayati, menjadi salah satu fokus rehabilitasi.
Sebagai hewan ektotermik, suhu lingkungan jadi penentu utama siklus hidup nyamuk. Karena itu perubahan iklim berdampak besar pada penyakit akibat gigitan nyamuk.
TAHUN 2024 tercatat sebagai salah satu tahun dengan kasus DBD akibat gigitan nyamuk aedes aegypti tertinggi dalam sejarah global. Itu merupakan sinyal kuat dari dampak perubahan iklim,
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved