Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Greenhope perusahaan yang bergerak dalam penyediaan resin plastik ramah lingkungan dengan teknologi oxium, ecoplas dan naturloop masuk dalam Top 50 Real Leaders kategori Eco Innovation Technology.
Real Leaders adalah sebuah komunitas yang beranggotakan para-CEO atau pendiri perusahaan dengan platform media global untuk membuat perubahan di dunia. Komunitas ini berbasis di Amerika dan dibentuk sejak 2010 silam.
“Kami sangat bangga bahwa Greenhope telah terpilih dari berbagai perusahaan di dunia, Greenhope berada di posisi #33, sebagai pioneer di Indonesia yang telah memiliki konsep biodegradable technology yang ramah lingkungan,” tutur Arsika Ahmad, Head of Sales & Marketing melalui siaran pers yang diterima pada Selasa (26/7).
Dia menambahkan, Greenhope memiliki beberapa teknologi dari yang paling murah yakni Oxobiodegradable dengan brand oxium, yakni suatu zat additive untuk membuat plastik konvensional terurai secara alami di alam dalam waktu 3-5 tahun saja sampai dengan yang biobased dengan brand ecoplas dan compostable dengan brand naturloop yang bahan terbuat dari nabati alami singkong asli Indonesia.
Apa yang dilakukan pihaknya karena kepedulian pada Indonesia, khususnya kini Tanah Air telah berada dalam kondisi darurat sampah, Data KLHK menyebutkan total sampah nasional pada 2021 mencapai 68,5 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 17 persen, atau sekitar 11,6 juta ton, disumbang oleh sampah plastik.
Meski jumlahnya lebih kecil bila dibandingkan dengan sampah organik dari sisa makanan, sampah plastik menjadi masalah besar karena sulit terurai secara alami di darat (TPA). Ironisnya, tidak semua sampah-sampah tersebut terkelola dengan baik di darat, KLHK mencatat, pada tahun 2022 ada 42,8% atau 131.835 ton/tahun sampah tidak terkelola yang akhirnya menyebabkan kebocoran hingga ke sungai dan laut.
Dengan fakta ini, perlu dilakukan upaya yang holistik dalam menangani timbulan sampah, khususnya sampah plastik konvensional yang memerlukan ratusan tahun dapat terurai secara alami.
“Selain melakukan strategi penanganan sampah dengan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) kita memerlukan ‘R’ tambahan Return to Earth. Konsep Return to Earth merupakan proses sampah plastik terurai secara alami di alam terutama untuk kemasan-kemasan makanan, minuman dan laiinnya yang tidak memungkinkan untuk didaur ulang,” kata Arsika Ahmad.
Menanggapi soal masuknya Greenhope sebagai salah satu dari Top 50 Real Leaders kategori Eco Innovation Technology ini, CEO Greenhope Tommy Tjiptadjaja mengaku sangat bangga. Pasalnya perusahaan rintisan yang didirikannya bersama Sugianto Tandio itu memiliki visi untuk dapat bekerja sama untuk pengelolaan sampah plastik sehingga dapat menciptakan dampak lingkungan yang baik dan bertanggung jawab terhadap bumi. “Dengan menciptakan produk berteknologi oxo-biodegradable dan bio-based, kami berharap bisa membantu pemerintah menyelesaikan permasalahan sampah plastik yang sulit terurai di alam,” tegasnya.
Tidak hanya itu, diapun menambahkan bahwa resin berbasis pati singkong yang dihasilkan oleh perusahaannya, merupakan bentuk kontribusi Greenhope dalam memberdayakan petani singkong yang selama ini sulit memperoleh harga jual yang stabil. “Di Greenhope, kami mengikuti sertifikasi Fair for Life dari Bio-Foundation Swiss yang bekerja sama dengan Grup IMO (Institute for Marketecology) sehingga dalam produksi bahan baku bio-based plastic, kami bermitra dengan kelompok tani untuk membudidayakan singkong yang berkelanjutan,” urai Tommy. (OL-12)
ORANGTUA murid mulai gelisah atas dugaan keracunan dalam pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). Merek membekali anak dengan kantong plastik
TIN di UGM telah mengembangkan mesin pencacah plastik sejak 2019. Mesin ini didesain agar mudah digunakan masyarakat awam.
Kaantong plastik sekali pakai bisa diganti menggunakan daun jati atau daun pisang sebagai wadah.
PERINGATAN Hari Raya Idul Adha 1446 H/2025 di Temanggung, Jawa Tengah, tahun ini dipastikan bebas sampah plastik
Beberapa pihak lain khawatir akan minimnya alternatif yang ramah lingkungan.
Tujuan dari peringatan ini adalah untuk mengingatkan kita akan dampak buruk penggunaan kantong plastik sekali pakai terhadap lingkungan
Masalah terbesar Kota Bandung saat ini adalah sampah. Setiap hari ada sekitar 1.500 ton timbulan sampah baru. Ini tidak mungkin dibiarkan begitu saja.
Arsyid juga mengimbau pihak RW dan RT pro aktif turut atasi masalah sampah.
Menteri KLH/BPLH Hanif Faisol Nurofiq menginstruksikan penghentian segera operasional insinerator di Kota Bandung yang melampaui baku mutu emisi udara.
Penggunaan insinerator mini tidak dibenarkan.
PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung terus mempercepat upaya pengelolaan sampah dengan tetap memperhatikan norma-norma lingkungan.
Teba Sampah Organik, yang juga dikenal sebagai Teba Modern, merupakan sistem inovatif pengolahan sampah organik di tingkat rumah tangga.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved