Jumat 27 Mei 2022, 21:31 WIB

Jangan Sepelekan Aritmia si Penyebab Henti Jantung

Mediaindonesia.com | Humaniora
Jangan Sepelekan Aritmia si Penyebab Henti Jantung

Freepik.com
Ilustrasi serangan jantung

 

KEJADIAN henti jantung di dunia olahraga kadang terjadi, baik pada atlet profesional, maupun orang yang menekuni olahraga sebagai hobi. Henti Jantung itu disebabkan oleh aritmia atau gangguan irama jantung yang merupakan gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan denyut jantung menjadi lebih lambat (bradikardi), lebih cepat (takikardi), atau tidak beraturan. 

Denyut jantung dikendalikan oleh sistem kelistrikan sehingga dapat berdenyut dengan irama yang teratur.  Normalnya, jantung akan berdenyut 60 – 100 kali/menit. Ketika tidak berdenyut dengan normal, jantung tidak dapat memompa darah sebagaimana mestinya dan mengakibatkan gangguan asupan darah ke organ tubuh lainnya. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada jantung dan organ penting lainnya. 

Gejala aritmia dapat berbeda-beda untuk setiap orang tergantung dari jenis aritmia yang dialami. Gejala yang biasanya dirasakan adalah jantung berdebar (palpitasi), nyeri dada, sesak nafas, mudah lelah, keringat dingin, rasa akan pingsan. Jika terlambat ditangani, aritmia dapat menyebabkan henti jantung yang dapat berujung pada kematian.

Aritmia biasanya muncul saat olahraga, stres atau setelah terpapar kafein, nikotin dan obat-obatan tertentu. Aritmia juga dipengaruhi oleh faktor risiko lain seperti memiliki penyakit jantung koroner, hipertensi, diabetes, hipo/hipertiroid, penyakit jantung bawaan, dan faktor genetik.

Aritmia juga meningkatkan risiko seseorang mengalami stroke 4-5 kali lebih besar dibanding yang tidak mengalami aritmia. Data CDC pada 2017 menyebutkan bahwa aritmia menyebabkan stroke iskemik sebesar 15%-20%.

Baca juga : Menko PMK Gagas Rumah Resiliensi Indonesia

Untuk mendiagnosa aritmia, dokter akan mengevalusi gejala dan riwayat medis pasien melalui pemeriksaan fisik dan penunjang, seperti Elektrokardiografi (EKG), Treadmill Test, Holter Monitor, dan Electrophysiology Study (EP Study). 

“Electrophysiology Study adalah golden standard untuk mendiagnosa aritmia. Dengan pemeriksaan ini, dapat dipetakan aktifitas listrik jantung sehingga titik penyebab gangguan kelistrikan jantung dapat diketahui. Berdasarkan hasil EP Study dapat ditentukan jenis  aritmia dan terapi yang dibutuhkan untuk mengembalikan irama jantung normal," kata dr. Rerdin Julario, SpJP (K), Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dan Intervensi dari Mayapada Hospital Surabaya. 

Dr. Agung Agung Fabian Chandranegara, SpJP(K), dari Mayapada Hospital Tangerang menambahkan, penanganan aritmia disesuaikan dengan jenis aritmia yang dialami pasien. Tindakan berupa pemasangan alat pacu jantung atau pacemaker biasanya digunakan untuk kasus aritmia di mana jantung berdenyut lebih lambat dari normal. 

Tindakan lain yaitu ablasi jantung merupakan tindakan untuk mengkoreksi aritmia dengan cara memasukan kateter melalui pembuluh darah sampai ke jantung. Elektroda pada ujung kateter dilengkapi dengan energi radiofrekuensi untuk mengablasi titik tertentu pada jantung yang menyebabkan aritmia sehingga jantung dapat kembali berdenyut normal.” ujar Agung. (RO/OL-7)

Baca Juga

ANTARA

Antisipasi Penyalahgunaan Visa Haji, Kemenkumham Perketat Pengawasan

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 05 Juli 2022, 23:16 WIB
Pengetatan pengawasan tersebut dilakukan langsung oleh Kantor Imigrasi (Kanim) Kelas I Khusus TPI...
ANTARA

Pakar: Tak Perlu Revisi UU Narkotika untuk Keperluan Riset Ganja

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 05 Juli 2022, 23:10 WIB
Ganja di Indonesia belum pernah digunakan sama sekali untuk peruntukan medis karena belum ada bukti yang kuat tentang uji klinis ganja di...
Antara

Hari Ini, 23 Ribu Orang Terima Vaksin Dosis Kedua

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Selasa 05 Juli 2022, 22:36 WIB
Total 169.192.447 orang telah menerima vaksin lengkap per Selasa...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya