Headline
Faktor penyebab anak mengakhiri hidup bukan tunggal.
Kumpulan Berita DPR RI
TARGET menurunkan angka stunting di Indonesia menjadi 14% pada 2024 butuh komitmen tinggi dari semua pihak, terlebih prevalensi balita stunting menurut SSGI 2021 masih sebesar 24,4%.
Bukan hanya pemerintah, pihak swasta dan masyarakat pun harus turun tangan dalam upaya memutus rantai stunting.
Untuk itu, Danone Indonesia berkolaborasi dengan Komunitas Ibu Canggih melalui Program Isi Piringku untuk mengajak para ibu menjadi garda terdepan dalam Bersama Cegah Stunting.
Para ibu dinilai menjadi kunci pemenuhan nutrisi si Kecil, terutama dalam 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) yang merupakan masa emas dari tumbuh kembang anak.
Baca juga: Pemprov Banten Kerahkan 53 Ribu kader Tanggani Stunting
“Danone Indonesia sangat mendukung dan berkomitmen untuk penyebarluasan informasi dan edukasi masyarakat terkait pencegahan stunting ini," kata Health & Nutrition Sr. Manager Danone Indonesia, Rizki Pohan, dalam keterangan pers, Jumat (11/3).
"Tentunya, ini tidak dapat dilakukan sendiri, namun dengan kolaborasi multi-pihak, antara pemerintah hingga masyarakat luas, terutama keluarga dan khususnya para ibu,” jelas Rizki Pohan.
Gerakan #BersamaCegahStunting sendiri digaungkan oleh Danone Indonesia dan sudah sejalan dengan visi misi One Planet One Health, di mana kesehatan bumi dan kesehatan manusia saling berkaitan.
Danone Indonesia sendiri telah memiliki beberapa program cegah stunting dalam upaya memutus mata rantainya.
“Kami juga memiliki beberapa program terkait pola asuh, antara lain program Tangkas (Tanggap Gizi dan Kesehatan Anak Stunting), Gasing Nekmese di NTT, WASH-Gizi di lokasi pabrik, dan Isi Piringku. Saat ini, Isi Piringku sudah mencakup 9 provinsi di Indonesia,” tandas Rizki.
Isi Piringku yang diluncurkan sejak 2017 merupakan program untuk mengedukasi masyarakat agar lebih memahami porsi makan yang tepat untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
Program ini merupakan pengembangan dari Isi Piringku yang dicanangkan Kementerian Kesehatan.
Peran ibu dalam mencegah stunting
Mengapa peran ibu menjadi penting dalam upaya mengentaskan masalah stunting di Indonesia?
Menurut Ketua Departemen Ilmu Gizi FKUI, dr. Nurul Ratna Mutu Manikam, M.Gizi, SpGK, ibulah yang biasanya mengurus makanan anak sehari-hari, meski peran ini bisa dilakukan bersama ayah. Ibu biasanya berperan membuat jadwal makan anak, memilih jenis makanannya, mengolahnya, menyajikannya, bahkan memberikan makanan tersebut kepada anak.
“Jadi, tidak berlebihan jika dibilang bahwa kunci pemenuhan nutrisi yang optimal pada anak adalah ibu,” tandas dr. Nurul dalam kesempatan yang sama.
Pemenuhan nutrisi anak ini sangat penting dalam gerakan ‘Bersama Cegah Stunting’. Pasalnya, ketika nutrisi anak tidak terpenuhi dalam jangka panjang, anak bisa mengalami stunting sehingga kemampuan motoriknya lambat, perkembangan otaknya tidak optimal, imunitasnya rendah, dan anak rentan mengalami infeksi. Dampak buruk inilah yang harus dicegah sedini mungkin.
Untuk mencegah stunting, imbuh dr. Nurul, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh ibu maupun keluarga pada umumnya, yaitu:
Memantau asupan nutrisi, terutama di 1,000 HPK, yakni dimulai dari masa kehamilan ibu sampai anak berusia 2 tahun.
Selalu memantau berat badan anak dan melakukan skrining anemia.
Memberikan ASI eksklusif hingga bayi berusia 6 bulan, dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI dan makanan keluarga sesuai pedoman Isi Piringku.
Mengikuti program imunisasi, setidaknya imunisasi dasar sesuai panduan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI).Mencari informasi kesehatan dari sumber terpercaya agar tidak gampang percaya hoaks.
“Jika berat badan anak stuck dan tumbuh kembangnya tidak sesuai usia, segera berkonsultasi dengan dokter. Lebih cepat masalah pada anak diketahui, lebih cepat pula status gizinya dapat diperbaiki sehingga anak dapat terhindar dari stunting,” tutup dr. Nurul. (RO/OL-09)
Data menunjukkan sekitar 30% bayi mengalami gumoh, dengan puncak frekuensi pada usia 3 hingga 4 bulan.
WHO menekankan mayoritas anak yang bunuh diri sebenarnya menunjukkan tanda peringatan sebelumnya, namun sering tidak terbaca atau diabaikan.
Pemerintah mengingatkan orangtua agar tidak melepas anak-anak ke dunia maya tanpa bekal pemahaman yang cukup mengenai konten yang mereka konsumsi beserta konsekuensinya.
Tantangan ruang digital bagi anak-anak di Indonesia kini telah bergeser dari sekadar konten negatif menuju ancaman yang bersifat personal dan sulit terdeteksi.
Ancaman utama dari Virus Nipah terletak pada angka kematiannya yang sangat tinggi, yakni mencapai 75%.
Merokok di dekat anak dapat memicu kerusakan organ tubuh secara menyeluruh, bahkan hingga menyerang sistem saraf pusat.
Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi.
Pada 2026 cakupan intervensi diharapkan semakin luas sehingga target penurunan stunting hingga 5 persen pada 2045 dapat tercapai.
SELAMA ini kita terlalu sering memaknai pembangunan sebagai pembangunan fisik: jalan, jembatan, gedung, kawasan industri, dan infrastruktur digital, tapi melupakan manusia
Kemenkes ungkap 6% bayi di Indonesia lahir dengan berat badan rendah (BBLR) lewat Program Cek Kesehatan Gratis 2025. Simak risiko stuntingnya.
Kepala BGN Dadan Hindayana mengingatkan makanan manis, gorengan, dan soda boleh dikonsumsi, tapi proporsinya perlu dikurangi agar gizi seimbang.
Data menunjukkan bahwa 20%–30% anak di Indonesia terdeteksi mengalami cacingan secara global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved