Selasa 28 Desember 2021, 23:29 WIB

Bersedia Kebiri Kimia Pelaku Kekerasan Seksual, Ini Syaratnya

Tri Subarkah | Humaniora
Bersedia Kebiri Kimia Pelaku Kekerasan Seksual, Ini Syaratnya

Antara
Ilustrasi

 

KETUA Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Daeng M Faqih memberi sinyal pihaknya bersedia melakukan kebiri kimia terhadap pelaku kekerasan seksual. Kendati demikian, ada dua hal yang mesti dilakukan.


Pertama, IDI meminta agar profesi medis dilibatkan dari awal penanganan perkara kejahatan seksual. Hal ini bertujuan agar tenaga medis mengetahui arah dan untuk siapa kebiri kimia tersebut dialamatkan.


Kedua, perlu ada dorongan untuk mengubah konsepsi kebiri kimia dari hukuman menjadi upaya rehabilitasi. Demikian dipaparkan Daeng dalam webinar yang diselenggarakan Fakultas Hukum Universitas Pakuan, Bogor.

"Kalau secara konseptual (kebiri kimia) sebagai correctional service, jadi betul-betul memperbaiki orang-orang yang terpidana ini bisa dikembalikan ke masyarakat, bisa disembuhkan, dalam arti kata sebagai upaya rehabilitatif, itu bisa dilaksanakan dengan baik," katanya, Selasa (28/12).


Jika kebiri kimia masih dianggap sebagai hukuman, Daeng mengakui akan sulit bagi dokter untuk melakukannya. Sebab berdasarkan etika profesi yang berlaku secara universal dan hukum positif mengenai pelayanan kesehatan, dokter tidak bekerja sebagai algojo pelaksana hukuman.


"Ini sudah dinyatakan secara universal oleh World Medical Association bahwa dokter itu tidak boleh terlibat dalam upaya hukuman apapun, sebagai algojo, sebagai pelaksana," jelas Daeng.


Ia juga menjelaskan dengan dilibatkan sejak awal penanganan perkara, tenaga kesehatan bisa menentukan bentuk rehabilitasi apa yang tepat diberikan ke pelaku. Sebab, penyebab kekerasan seksual tidak hanya karena faktor hormon yang tinggi melainkan juga kelainan mental.


"Kalau ternyata yang bersangkutan itu lebih mengarah kejiwaan, tindakan rehabilitasinya itu seharusnya kejiwaan, bukan dengan memakai tindakan penyuntikan hormonal untuk menurunkan hormon. Malah kalau dengan kondisi kejiwaan, kemudian yang dilakukan hormon (kebiri kimia), maka menimbulkan penyakit-penyakit lain," pungkasnya. (OL-8)

Baca Juga

Satgas Penanganan Covid-19

Rendah, Cakupan Booster Covid-19 di Angka 24,50%

👤Atalya Puspa 🕔Senin 04 Juli 2022, 14:05 WIB
Hingga Senin (4/7), vaksinasi covid-19 dosis ketiga atau booster telah diberikan kepada 51 juta warga Indonesia. Namun, angka itu baru...
ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

Menkes: 81% Kasus Positif Covid-19 Subvarian BA.4 dan BA.5

👤Mediaindonesia 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:50 WIB
Budi Gunadi menyampaikan hal tersebut dalam konferensi pers seusai menghadiri rapat terbatas dengan agenda evaluasi Pemberlakuan Pembatasan...
MI/Andri Widiyanto

Presiden Instruksikan Menkes Percepat Vaksinasi Booster

👤Andhika Prasetyo 🕔Senin 04 Juli 2022, 13:47 WIB
Presiden Joko Widodo menginstruksikan Menteri Kesehatan, Kapolri, Panglima TNI dan Kepala BNPB melakukan akselerasi vaksinasi terutama...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya