Jumat 22 Oktober 2021, 18:15 WIB

Swasta Ikut Berperan Atasi Krisis Iklim Global 

Ghani Nurcahyadi | Humaniora
Swasta Ikut Berperan Atasi Krisis Iklim Global 

Ilustrasi
Ilustrasi perubahan iklim

 

LAPORAN Energy and Climate Intelligence Unit (ECIU) dan Oxford Net Zero menyebut sedikitnya ada 21% dari dua ribu perusahaan publik terbesar di dunia sudah menyatakan komitmen untuk mencapai emisi nol. Saat ini semakin banyak perusahaan dunia bergerak untuk mengadopsi prinsip berkelanjutan.  

Selain karena tuntutan dari konsumen, tren ini terjadi karena muncul kesadaran di dunia usaha tentang pentingnya memperhatikan faktor-faktor sosial dan lingkungan, sebagai strategi bisnis untuk meningkatkan nilai jangka panjang dan performa bisnis. 

HSBC merupakan salah satu contoh perusahaan yang sudah menyatakan komitmen dan juga mengimplementasikannya dalam operasional perusahaan. HSBC telah menetapkan rencana untuk memprioritaskan pembiayaan dan investasi yang mendukung transisi ke perekonomian global nir-emisi. 

Head of Corporate Sustainability PT HSBC Indonesia, Nuni Sutyoko mengatakan, pihaknya telah melakukan kerja sama dan berkolaborasi dengan berbagai pihak. Baik akademik, lembaga swadaya masyarakat, pusat penelitian, serta institusi lain, untuk mencari solusi mengenai bagaimana mengatasi krisis iklim global. 

“Jadi kita memang harus terus menjadi semacam gawang ya, dari sisi mitigation, kemudian juga dari sisi how can we help our business, untuk financial flow yang memang sifatnya green dan bersifat mempunyai strategi Environmental Social Governance (ESG),” kata dia dalam Webinar Katadata & Landscape Indonesia - Road to COP26, dengan tema ‘The Road to Net-Zero’, Jumat (22/10). 

Salah satu upaya yang telah dilakukan HSBC adalah berbagi bantuan hingga melakukan intervensi kepada para petani, terutama petani kecil. Menurut Nuni, petani kecil merupakan sumber materi utama bagi para pemangku bisnis. 

Baca juga : Perusahaan Korsel Bantu Penanganan Pasien Luka Bakar di Tanah Air

“Jadi penting kita sangat intervensi dengan memastikan bahwa sustainable produk untuk bisnis sektor itu dari sumber material yang sudah sustainable,” ujarnya.  

Kemudian, Danone Indonesia juga merupakan salah satu perusahaan yang mendukung pengadaan energi terbarukan (ET) dan akan menggunakannya 100 persen pada 2030.  

Head of Climate & Water Stewardship Danone Indonesia Ratih Anggraeni mengatakan, salah satu upaya Danone dalam mewujudkan komitmen tersebut adalah dengan penggunaan panel surya atap berkapasitas total 6,4 MegaWatt-peak (MWp), di keempat pabrik di Indonesia. Yaitu di Banyuwangi, Mekarsari, Klaten dan Ciherang. 

Selain itu, ia juga mengatakan Danone Indonesia telah memasang enam ton boiler biomassa di salah satu pabrik, serta menggunakan model bisnis guna ulang pada produk Aqua Galon.  

“Model bisnis guna ulang Aqua Galon itu sebenarnya setelah kita lakukan perhitungan, kita lakukan studi perhitungan, galon isi ulang dibanding dengan galon sekali pakai itu emisi yang dihasilkan hanya 1/6 dari galon sekali pakai,” jelas dia. (OL-7)

Baca Juga

dok.Ant

Pasien Covid-19 di RSDC Wisma Atlet Kemayoran Tinggal 137 Orang

👤Yakub Pryatama Wijayaatmaja 🕔Jumat 03 Desember 2021, 10:40 WIB
SEMPAT melonjak naik, jumlah pasien di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran terus...
ANTARA

Antisipasi Omicron, Luhut: Seluruh Pejabat Dilarang ke Luar Negeri

👤Insi Nantika Jelita 🕔Jumat 03 Desember 2021, 10:07 WIB
pejabat di republik ini tidak diperkenankan berpelesiran ke negara...
dok.mi

Kominfo: Konten Pornografi, Perjudian dan Penipuan Dominasi Ruang Digital Indonesia

👤Faustinus Nua 🕔Jumat 03 Desember 2021, 09:15 WIB
KEMENTERIAN Komunikasi dan Informatika (Kominfo) melaporkan konten pornografi mendominasi ruang digital...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya