Rabu 13 Oktober 2021, 13:41 WIB

Pajak Karbon Wujud Komitmen Indonesia Lawan Perubahan Iklim

M. Ilham Ramadhan Avisena | Humaniora
Pajak Karbon Wujud Komitmen Indonesia Lawan Perubahan Iklim

ANTARA/ Indrianto Eko Suwarso
Suasana kawasan jalan protokol di Jakarta, Jumat (8/10/2021)

 

PENGENALAN pajak karbon dalam Undang Undang Harmonisasi Peraturan Pajak (HPP) menjadikan Indonesia sebagai yang terdepan di negara berkembang dalam mengupayakan ekonomi hijau berkelanjutan. Itu kemudian dinyatakan sebagai wujud komitmen Indonesia melawan perubahan iklim.

Demikian disampaikan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu melalui keterangan pers, Rabu (13/10). "Ini bukti konsistensi komitmen pemerintah Indonesia dalam mewujudkan ekonomi yang kuat, berkeadilan, dan berkelanjutan," tuturnya.

Guna emperkuat instrumen kebijakan pengendalian dampak perubahan iklim, pemerintah menetapkan kebijakan nilai ekonomi karbon (carbon pricing) yang di dalamnya termasuk implementasi pajak karbon. Dengan memperkenalkan pajak karbon dalam UU HPP, Indonesia telah menjadi salah satu dari sedikit negara, bahkan yang terbesar di negara berkembang, yang akan mengimplementasikannya lebih dahulu.

Baca juga: Ini Upaya IDI Mengantisipasi Gelombang Ketiga Covid-19

"Implementasi pajak karbon ini menjadikan Indonesia sejajar dengan negara-negara maju yang telah melaksanakan kebijakan pajak karbon ini, diantaranya Inggris, Jepang dan Singapura," terang Febrio.

Pengenaan pajak karbon memberikan sinyal kuat yang akan mendorong perkembangan pasar karbon, inovasi teknologi, dan investasi yang lebih efisien, rendah karbon, dan ramah lingkungan. Dalam konteks pembangunan, penerimaan negara dari pajak karbon dapat dimanfaatkan untuk menambah dana pembangunan, investasi teknologi ramah lingkungan, atau memberikan dukungan kepada masyarakat berpendapatan rendah dalam bentuk program sosial.

Kendati demikian, tujuan utama dari pengenaan pajak karbon adalah mengubah perilaku pelaku ekonomi untuk beralih kepada aktivitas ekonomi hijau yang rendah karbon. Hal itu sejalan dengan berbagai upaya pemerintah dalam rangka mencapai target penurunan emisi gas rumah kaca dalam jangka menengah dan panjang.

"Pemerintah akan melakukan transisi yang tepat agar pengenaan pajak karbon tetap konsisten dengan momentum pemulihan ekonomi pascapandemi covid-19," kata Febrio.

Pengenaan pajak karbon dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan perkembangan pasar karbon, pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC), kesiapan sektor, dan kondisi ekonomi. Dus, sistem pengenaan pajak karbon yang berlaku di Indonesia bukan hanya adil, namun juga terjangkau dan tetap mengutamakan kepentingan masyarakat.

Pada tahap awal, pajak karbon akan diterapkan pada sektor Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batubara dengan menggunakan mekanisme pajak yang mendasarkan pada batas emisi (cap and tax) mulai 1 April 2022. Tarif Rp30 per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e) diterapkan pada jumlah emisi yang melebihi cap yang ditetapkan, sejalan dengan pengembangan pasar karbon yang sudah mulai berjalan di sektor PLTU batubara.

Pemerintah, kata Ferbrio, memahami pentingnya transisi hijau tersebut, sehingga dalam mekanisme pengenaannya, wajib pajak dapat memanfaatkan sertifikat karbon yang telah dibelinya di pasar karbon sebagai pengurang kewajiban pajak karbonnya.

Baca juga: Dosis Ketiga Vaksin Cegah Risiko Rawat Inap

Penerapan pajak karbon dan pengembangan pasar karbon merupakan lompatan penting menuju perekonomian Indonesia yang berkelanjutan, serta menjadi bukti keseriusan Indonesia dalam agenda pengendalian perubahan iklim di tingkat global. Momentum tersebut menjadi kesempatan berharga bagi Indonesia untuk mendapatkan manfaat penggerak pertama (first-mover advantage).

"Indonesia menjadi penentu arah kebijakan global, bukan pengikut, dalam melakukan transisi menuju pembangunan yang berkelanjutan. Indonesia akan menjadi acuan dan tujuan investasi rendah karbon, di berbagai sektor pembangunan baik di sektor energi, transportasi, maupun industri manufaktur," pungkas Febrio.

Upaya mendorong ekonomi hijau dilakukan salah satunya karena Indonesia merupakan negara yang rawan pada ancaman perubahan iklim. Karenanya Indonesia meratifikasi Paris Agreement. Di dalamnya terdapat komitmen NDC yang menjadikan penanganan perubahan iklim sebagai salah satu agenda prioritas.

Di dalam dokumen NDC tersebut, Indonesia berkomitmen untuk menurunkan emisi GRK yang berbahaya bagi lingkungan, dengan penurunan sebesar 29% dengan kemampuan sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Prioritas utama penurunan emisi gas rumah kaca tersebut berada pada sektor kehutanan, serta sektor energi dan transportasi yang telah mencakup 97% dari total target penurunan emisi NDC Indonesia. Dengan semakin kuatnya tren global terhadap isu perubahan iklim, Indonesia juga telah menargetkan untuk mencapai Emisi Nol Bersih (Net Zero Emission) di tahun 2060 atau lebih awal.

Dalam rangka mencapai target tersebut, agenda reformasi dalam kebijakan fiskal untuk mempercepat investasi hijau telah dimulai secara intensif. Pemerintah telah memberikan insentif fiskal seperti tax holiday, tax allowance, dan fasilitas PPN untuk meningkatkan pengembangan energi terbarukan. Dalam 5 tahun terakhir, belanja negara untuk penanganan perubahan iklim rata-rata mencapai 4,1% dari APBN.

Dari sisi pembiayaan APBN, pemerintah juga telah menerbitkan green sukuk sejak 2018 yang di antaranya digunakan membiayai transportasi berkelanjutan, mitigasi bencana, pengelolaan limbah, akses energi sumber terbarukan, dan efisiensi energi. Di 2021, pemerintah baru saja menerbitkan Global Green Sukuk pertama dengan tenor 30 tahun senilai US$750 juta dan SDGs Global Bond senilai €500 juta.

Hal tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor hijau atas upaya pemerintah dalam menangani isu perubahan iklim. Pemerintah juga tengah menyusun Kerangka Kerja Fiskal Perubahan Iklim (Climate Change Fiscal Framework/CCFF) untuk memperkuat pembiayaan berkelanjutan, termasuk pencapaian NDC dengan melibatkan masyarakat dan swasta. (H-3)

Baca Juga

ANTARA/ AGUS SETYAWAN

Aktif Tangani Kasus Kejahatan Keanekaragaman Hayati, Menteri LHK Berikan Apresiasi pada Provinsi Lampung

👤Atalya Puspa 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 12:25 WIB
Peredaran TSL di Provinsi Lampung cukup tinggi yang disebabkan letak geografisnya sebagai jalur keluar masuk melalui Bakauheni menuju...
DOK YOUTUBE

Mahfud MD Klaim, Saat Ini, Kaum Santri Sudah Sangat Maju

👤Cahya Mulyana 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 12:15 WIB
Santri tidak hanya dikaitkan dengan lulusan pondok pesantren tetapi juga orang Islam yang rajin melaksanakan ajaran...
ANTARA

Tak Mau Kecolongan Seperti Virus Delta, Pemerintah Lakukan Pengetatan

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 24 Oktober 2021, 11:42 WIB
Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sonny Harry Harmadi mengatakan pengetatan pintu masuk Indonesia jelang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Krisis Energi Eropa akan Memburuk

Jika situasinya tidak membaik dalam beberapa bulan ke depan, ada potensi krisis ekonomi yang menghancurkan

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya