Sabtu 17 Juli 2021, 08:05 WIB

Tidak Patut, Perusahaan Kurangi CSR karena Alasan Pandemi Covid-19

M Iqbal Al Machmudi | Humaniora
Tidak Patut, Perusahaan Kurangi CSR karena Alasan Pandemi Covid-19

Antara
Ilustrasi

 

PANDEMI covid-19 menjadi alasan banyaknya perusahaan yang mengurangi pelaksanaan program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR). Pemerintah menilai, hal itu tidak sepatutnya dilakukan.

"Kondisi ini membuat sebagian perusahaan sengaja mengambil untung dari terjadinya pandemi. Bisnis seperti ini tentunya mengabaikan etika. Selain itu, ada juga sebagian (perusahaan) yang karena bisnisnya terganggu menjadi alasan untuk mengurangi komitmennya terhadap pelaksanaan program CSR," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Sigit Reliantoro, Jumat (16/7).

Sebaliknya, ia pun mengapresiasi masih banyak juga perusahaan yang justru terdorong untuk tampil sebagai pelopor meredefinisikan kembali program CSR untuk dapat membantu masyarakat dalam menghadapi dampak pandemi yang sedang terjadi.

“Ini adalah respon positif yang sesuai dengan hasil sebuah studi di tahun 2020, di mana perusahaan yang memiliki visi jauh ke depan justru akan memanfaatkan kondisi krisis akibat pandemi ini untuk menciptakan program CSR yang inovatif dan otentik, untuk menjalin relasi yang kuat dengan konsumen dan publik,” ujar Sigit.

Dengan program yang lebih inovatif, otentik dan membawa manfaat terhadap masyarakat luas, Sigit optimis konsumen akan turut bangga dan malah dengan senang hati ikut terlibat dalam program CSR tersebut.

Misalnya turut berdonasi ketika merek yang mereka sukai ikut membantu masyarakat, peduli terhadap karyawannya, dan membuat gerakan sosial untuk membantu masyarakat mengatasi krisis ini.

“Ikatan relasi antara perusahaan dan konsumen yang terbentuk saat krisis akan jauh lebih berarti dan bertahan lebih lama dibanding ikatan yang terbentuk saat kondisi normal,” tuturnya.

Dengan kondisi yang demikian, lanjut Sigit, maka pertanyaan yang relevan saat ini bukan lagi perlu atau tidaknya menjalankan program CSR di tengah pandemi, melainkan bagaimana kemudian perusahaan mampu membuat program CSR yang tidak hanya memberikan keuntungan bagi perusahaan, tapi juga mampu menjaga keselarasan sosial dan lingkungan bagi perusahaan dan juga konsumen.

“Dapat dibayangkan perusahaan yang mampu bertahan di tengah goncangan pandemi ini akan dapat berkembang semakin maksimal pasca pandemi karena dilandasi dengan fondasi bisnis yang kokoh dengan ikatan relasi yang jauh lebih kuat dengan dengan konsumen dan publik,” ujar Sigit.

Alih-alih hanya berkutat pada kampanye yang bersifat slogan dan pencitraan semata-mata, perusahaan para pemenang penghargaan ini telah terbukti memiliki aksi nyata di tengah masyarakat yang tengah terhimpit oleh adanya pandemi covid-19.

“Percayalah, slogan dan pencitraan tidak akan lolos dari pengamatan publik yang kini makin kritis. Aksi nyata di tengah pandemi berupa program-program CSR yang dapat dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat lah yang bakal menjadi branding nyata dan kuat bagi sebuah perusahaan,” pungkasnya. (H-2)

Baca Juga

Ist

Pada AMME, RI Harapkan Berkontribusi Atasi Masalah Lingkungan Hidup

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 23:09 WIB
Indonesia secara terhomat menjadi tuan rumah pada pertemuan 16th ASEAN Ministerial Meeting on the Environment...
Antara

Menteri Agama: Perpres 82/2021 Kado Indah Buat Santri

👤Mohamad Farhan Zhuhri 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 22:25 WIB
UNTUK kedua kalinya, Hari Santri yang jatuh pada 22 Oktober diperingati masih dalam suasana pandemi...
Dok. Tokocrypro

Tokocrypto Dukung Penanaman Pohon Massal Melalui Tree Millions Alliance 

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Jumat 22 Oktober 2021, 22:13 WIB
Pada pelaksanaannya di Indonesia, 500.000 pohon direncanakan akan ditanam di Provinsi Banten, Jawa Barat, dan Lampung. Pepohonan yang...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Amendemen Konstitusi antara Ambisi Elite dan Aspirasi Rakyat

Persepsi publik mengenai cara kerja presiden lebih mengharapkan pemenuhan janji-janji politik saat kampanye ketimbang bekerja berdasarkan Pokok-Pokok Haluan Negara (PPHN).

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya