Headline

Ekonomi RI tumbuh 5,39% pada triwulan IV 2025 dan tumbuh 5,11% secara kumulatif 2025.

Realisasi SDG, Peduli Penuntasan Stunting hingga Ciptakan Ekonomi Sirkular

Lilik Darmawan
07/2/2026 18:54
Realisasi SDG, Peduli Penuntasan Stunting hingga Ciptakan Ekonomi Sirkular
Head of Stakeholders Relations PT Sasa Inti Rida Atmiyanti saat sharing di kampus.(Dok Ist)

BEBERAPA tahun lalu, Rida Atmiyanti bersama Rotary Club Indonesia mengunjungi seorang ibu yang baru melahirkan anak kembar. Rumahnya berada di Desa Pasir Buncir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. 

Untuk menjangkaunya, tidak bisa dengan kendaraan, baik mobil maupun sepeda motor. Mobil hanya sampai di sekitar balai desa. Kemudian dilanjutkan sepeda motor. Dan untuk sampai ke rumahnya harus jalan kaki.
Pengalaman itu begitu melekat bagi Rida. Meski rumahnya jauh, ia sangat bahagia karena ternyata program pencegahan stunting berhasil. 

“Kebetulan, jarak antara anak pertama dengan yang kembar tidak terlalu lama sehingga membutuhkan pendampingan. Hasilnya sangat baik sebab anak kembarnya sehat berkat pendampingan terkait dengan nutrisi yang diberikan selama kehamilan,” kata Rida, yang menjabat sebagai Head of Stakeholders Relations PT Sasa Inti, pada Rabu (4/2) lalu.
Itulah salah satu program perusahaannya, yakni mendampingi para ibu agar anaknya tidak stunting, mulai dari 0–1.000 hari pertama kehidupan (HPK). 

“Perusahaan kami peduli terhadap kesehatan ibu dan anak, terutama bagaimana mengatur nutrisi agar anak tidak stunting. Saat menjadi Head of Stakeholders Relations, saya akhirnya belajar mengenai kegiatan CSR perusahaan yang dapat disinkronisasi dengan program pemerintah. Akhirnya, ketemu dengan Sustainable Development Goals (SDG) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Saya juga berusaha mempelajari lebih mendalam pengetahuan itu dengan masuk SDG Academy Indonesia yang diadakan Tanoto Foundation dan Bappenas hingga memperoleh SDG Certified Leader,” jelasnya.

Setelah mengikuti SDG Academy Indonesia, Rida semakin dapat memfokuskan program-program CSR sesuai dengan basis bisnis perusahaannya. PT Sasa mendampingi masyarakat di sekitar pabrik yang ada di Cikarang, Probolinggo di Jatim, dan Minahasa Selatan di Sulawesi Utara. 

"Dengan mengenal SDG, maka kami yang bergerak di produk makanan dan bumbu masak fokus ke food safety, edukasi gizi, dan pengentasan kemiskinan yang dikaitkan dengan nutrisi makanan. Itu kan sesuai dengan tujuan kedua dan ketiga SDG, yakni masyarakat tanpa kelaparan serta kehidupan sehat dan sejahtera,” jelasnya.

Pelatihan

Sejauh ini, pihaknya telah menggelar training for trainers bekerja sama dengan Rotary Club Indonesia untuk para kader Posyandu. “Para ibu kader Posyandu tidak semuanya memiliki pendidikan yang baik, tetapi mereka memiliki loyalitas pelayanan yang tinggi. Para pelatih terdiri dari dokter, ahli gizi, psikolog, dan tim dari PT Sasa. Mereka dilatih untuk kembali menjadi trainer bagi kader lainnya. Satu kader melatih lagi 10–15 ibu lain. Begitu seterusnya,” ungkapnya.

Mereka dilatih dengan alat sederhana untuk mendeteksi kasus stunting, misalnya dengan mistar tinggi badan. Dari sana akan diketahui apakah ada indikasi malnutrisi atau kurang gizi. Di sisi lain, ada kalender nutrisi yang diberikan untuk ibu-ibu hamil. Ada edukasi mengenai gizi untuk para ibu dengan memanfaatkan sumber daya lokal di masing-masing daerah.

“Pelatihan semacam ini kami gelar di sekitar wilayah pabrik PT Sasa. Misalnya di Probolinggo, ada sumber daya lokal daun kelor yang merupakan superfood. Kemudian di Minahasa Selatan yang merupakan daerah laut, tentu edukasi gizi ikan. Nah, yang menarik lainnya, melakukan pendampingan para ibu di Jakarta Barat. Ada satu RW yang terdiri dari 11 RT dampingan kami. Mereka memanfaatkan areal di masing-masing RT membudidayakan sayuran dengan jenis berbeda-beda secara hidroponik. Ada yang mengembangkan labu madu, cabai, terong, dan sayuran lainnya, serta membudidayakan ikan lele dan nila. Jadi, makanan bernutrisi yang dibuat berasal dari sumber daya lokal,” paparnya.

Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, para ibu di Jakarta Barat itu tidak saja bisa mencukupi kebutuhan sendiri, melainkan juga memperoleh manfaat secara ekonomi.
Dengan pendampingan terkait dengan nutrisi yang bergizi, sudah tampak hasilnya.

Setidaknya yang terjadi di Desa Gending, Kecamatan Gending, Probolinggo, tempat salah satu pabrik PT Sasa berdiri. “Percepatan pengentasan kasus stunting di Probolinggo lebih terasa, terutama di Desa Gending. Kami melakukan pendampingan sudah lima tahun dan ternyata ada penurunan angka stunting,” ujarnya.

Berwawasan Lingkungan

Rida mengatakan bahwa tujuan SDG yang dilakukannya tidak hanya lewat CSR semata, melainkan juga menjadikan perusahaan berwawasan lingkungan. Sesuai dengan tujuan ke-12 SDG, yakni konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, PT Sasa, khususnya pabrik Minahasa Selatan, menjamin produksi yang berkelanjutan. Kebetulan di Minahasa Selatan, produknya adalah santan berbahan baku kelapa.

"Hampir seluruh kelapa kami manfaatkan. Mulai dari butiran kelapa yang dibuat santan, hasil perasan jadi tepung, airnya untuk konsentrat, dan tempurung kelapa dipakai untuk biomassa. Ada juga yang kami miliki, Wastewater Treatment Plant (WWTP), yang diproses menjadi biogas,” jelasnya.

Sedangkan untuk limbah dari kelapa, lanjutnya, dimanfaatkan untuk budi daya maggot. Sedangkan maggot dijadikan pakan ternak. Masih ada lagi, limbah yang dihasilkan maggot diproses menjadi pupuk. Sabut kelapanya jadi cocopeat, yakni media tanam organik ramah lingkungan. “Jadi, seluruh bagian kelapa sudah kami manfaatkan hingga limbahnya. Untuk kelapa yang tidak masuk standar juga diproses, salah satunya menjadi energi biomassa,” kata dia.

Energi bersih yang menjadi tujuan SDG ke-7 juga menjadi sasaran PT Sasa. Sebab, perusahaan bekerja sama dengan bank sampah untuk memanfaatkan bungkus-bungkus dari produk. “Kami menggandeng 40 bank sampah di Tangerang Selatan untuk menyulap sisa bungkus produk menjadi RDF (Refuse Derived Fuel). Yang menerima RDF adalah pabrik semen,” jelas Rida.

Menurutnya, setiap tahun ada sekitar 2 ton plastik bekas yang diproduksi menjadi RDF. Bahan baku sampah tidak hanya dari bank sampah saja, melainkan juga dari event-event tertentu. “Misalnya, kami mendukung event tertentu dengan menyumbang produk. Kami mau asalkan sampah-sampahnya dikumpulkan dan nantinya akan diproses menjadi RDF. Produksi RDF ini menyelesaikan sebagian problem sampah, bahkan menciptakan ekonomi sirkular warga. Kadang kami juga menggelar pengumpulan sampah dengan ditukar paket sembako,” katanya.

Menurut Rida, apa yang dilakukan perusahaannya adalah upaya untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai stakeholders yang ada. “Tentu, karena ini soal bisnis, kami harus mendapatkan imbal balik bagi perusahaan. Dampak baik bagi bisnis tak semata profit, melainkan menjaga hubungan baik dengan masyarakat, pemerintah, dan stakeholders lainnya,” tambahnya. (H-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indrastuti
Berita Lainnya