Headline

RI tetap komitmen perjuangkan kemerdekaan Palestina.

Mengenang sang Legenda: Muhammad Ali Diabadikan dalam Prangko Resmi AS Terbaru 2026

Haufan Hasyim Salengke
13/1/2026 16:15
Mengenang sang Legenda: Muhammad Ali Diabadikan dalam Prangko Resmi AS Terbaru 2026
Prangko khusus untuk memperingati Muhammad Ali yang menampilkan foto Ali tahun 1974.(NBC News)

MUHAMMAD Ali pernah berkelakar bahwa menjadi sosok di atas prangko adalah "satu-satunya cara agar saya bisa 'dijilat' (dikalahkan)." Kini, kutipan jenaka sang legenda tinju dunia itu menjadi kenyataan. Layanan Pos Amerika Serikat (USPS) resmi meluncurkan prangko peringatan khusus untuk menghormati 'The Greatest' pada 15 Januari 2026.

Peluncuran ini bukan sekadar seremoni pos biasa. Bertempat di Stadion L&N Federal Credit Union, Universitas Louisville--kota kelahiran Ali--acara ini menjadi refleksi atas perjalanan panjang seorang bocah yang kehilangan sepeda hingga menjadi ikon kemanusiaan global.

Desain yang Menatap Dunia

Prangko ini dirancang oleh Antonio Alcala, Direktur Seni program pengembangan prangko USPS. Ia memilih foto hitam-putih karya Associated Press tahun 1974. Dalam gambar tersebut, Ali tampak dalam posisi siaga, sarung tinju terangkat, dengan tatapan tajam yang menembus lensa.

"Posisi tubuh dan sarung tinjunya mengomunikasikan dengan jelas bagaimana ia menjadi ikon olahraga Amerika," ujar Alcala. Nama 'MUHAMMAD ALI' dicetak dengan huruf kapital tegas, menyerupai tipografi poster pertarungan bersejarahnya yang mengguncang dunia.

Dari Sepeda Curian Menuju Emas Olimpiade

Narasi Muhammad Ali adalah narasi tentang keteguhan. Semua bermula pada tahun 1954 di Louisville, ketika Cassius Marcellus Clay Jr. yang berusia 12 tahun menangis karena sepeda Schwinn merahnya dicuri. Sersan Joe Martin, seorang polisi yang juga pelatih tinju, menjadi orang pertama yang mengarahkan amarah Ali kecil ke ring tinju.

Hasilnya? Medali emas Olimpiade Roma 1960 dan gelar juara dunia kelas berat pertama pada 1964 setelah menumbangkan Sonny Liston. Di tahun yang sama, ia memeluk Islam dan meninggalkan nama 'Clay' untuk menjadi Muhammad Ali.

Lebih dari Sekadar Petarung

Namun, prangko ini juga menangkap sisi lembut sang juara. Di lembar prangko berisi 20 keping tersebut, terdapat foto Ali tahun 1976 yang mengenakan setelan jas sambil tersenyum. Ini adalah representasi sisi kemanusiaannya.

Ali dikenal karena keberaniannya menolak wajib militer saat Perang Vietnam pada 1967 karena alasan keyakinan, meski konsekuensinya adalah kehilangan gelar juara dan dilarang bertanding selama tiga tahun. Di balik kegarangannya di ring, ia adalah dermawan yang rendah hati; menyumbang untuk korban ledakan tambang batu bara Robena hingga donasi senyap sebesar US$10.000 untuk United Negro College Fund tanpa mencari publikasi.

Koleksi Terbatas untuk Publik

USPS mengonfirmasi akan mencetak sebanyak 22 juta keping prangko Ali. Satu lembar berisi 20 prangko dijual seharga US$15,60 (sekitar Rp252 ribu). Selain prangko, USPS juga merilis produk pelengkap seperti buku catatan lapangan (field notes), amplop koleksi, dan portofolio desain yang mengulas proses kreatif di balik pembuatan prangko ini.

Bagi dunia, prangko ini bukan sekadar alat bayar kiriman surat. Ia adalah pengingat bahwa Muhammad Ali tetap menjadi sosok yang tak terkalahkan, bahkan ketika ia akhirnya 'dijilat' oleh jutaan orang di seluruh dunia. (USA Today/B-3)

 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Haufan Salengke
Berita Lainnya