Rabu 23 Juni 2021, 12:35 WIB

Perlu Implementasi Pengurangan Bahaya Sikapi Bonus Demografi

mediaindonesia.com | Humaniora
Perlu Implementasi Pengurangan Bahaya Sikapi Bonus Demografi

ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah
TPST (Tempat Pembuangan Sampah Terpadu) Bantar Gebang, Bekasi, Jawa Barat. Bonus demografi bisa memicu masalah lingkung termasuk sampah.

 

PENERAPAN konsep harm reduction atau pengurangan bahaya dinilai penting untuk mengantisipasi potensi efek negatif bonus demografi, khususnya di bidang lingkungan. Sebab, jika tidak mengimplementasikan konsep ini, maka bonus demografi akan menciptakan degradasi lingkungan. 

Direktur Eksekutif Center for Youth and Population Research (CYPR) Dedek Prayudi, atau yang akrab disapa sebagai Uki, menyebutkan Indonesia akan mengalami puncak bonus demografi pada 2024 mendatang.

Saat ini, jumlah penduduk Indonesia mencapai 270 juta orang, yang mana 70% di antaranya berada di usia produktif (15-60 tahun) dan sebagian besar penduduk usia produktif tersebut adalah kelompok pemuda berusia 16-30 tahun.

Artinya, jumlah penduduk usia kerja dua kali lebih besar dibanding jumlah penduduk usia non-kerja. “Bonus demografi itu seperti pisau bermata dua. Yang pertama jendela peluang, yang kedua bencana,” ujar Uki dalam keterangan pers, Rabu (23/6).

Uki menjelaskan bonus demografi berpotensi menciptakan bencana bagi lingkungan karena adanya peningkatan aktivitas manusia, baik ekonomi, sosial, maupun politik.

“Itu semua dalam prosesnya mengeksploitasi alam ataupun limbahnya merusak alam,” ungkapnya.

Contohnya pemanfaatan pembangkit listrik batu bara, kebakaran hutan, penggunaan kendaraan pribadi, sampah puntung rokok, dan sampah rumah tangga.

Di DKI Jakarta, per harinya menghasilkan 7.500 ton sampah yang dikirim ke Bantar Gebang.

“Limbah sampah belum terdaur ulang dengan baik. Ini yang saya maksud bahwa aktivitas ekonomi, sosial, dan politik menghasilkan degradasi lingkungan,” ujarnya. 

Melihat potensi bencana ini, Uki pun mengemukakan perlunya pemberdayaan pemuda berkelanjutan serta tata kelola lingkungan hidup. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan dan harus dijalankan secara partisipatif oleh semua pihak dari hulu ke hilir guna mengantisipasi dampak negatif bonus demografi.

“Artinya, dari upstream pembuat kebijakan dan downstream dari masyarakat umum. Kalau untuk upstream merestorasi yang rusak. Di level downstream kami menawarkan harm reduction atau pengurangan bahaya” paparnya.

Konsep pengurangan bahaya ini bisa direalisasikan dengan mengurangi pemakaian bahan-bahan yang tidak bersahabat dengan alam dan menggantikan dengan alternatif yang lebih baik.

Contohnya, dengan tidak lagi menggunakan sedotan maupun kantong plastik sekali pakai ataupun tidak lagi merokok, akan tetapi dapat diganti dengan produk yang dapat dipakai berulang kali.

“Inilah yang dimaksud pengurangan bahaya itu. Kita memang tidak bisa menghentikan aktivitas ekonomi,” pungkasnya. (RO/OL-09)

Baca Juga

dok.ist

BIN Gelar Vaksinasi di Ponpes dan Door To Door di 3 Provins juga Bagikan 7.000 Sembako

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 17:45 WIB
BADAN Intelijen Negara (BIN) menggelar vaksinasi untuk pelajar di sejumlah pondok pesantren dan warga secara door to door di tiga provinsi...
ANTARA

Banyak Nakes Terpapar Covid-19, Kemnaker dan IDI Gelar Webinar

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 16:30 WIB
Data juga mengungkapkan hingga saat ini, lebih dari 1.400 orang nakes gugur akibat pandemi...
dok.pribadi

Kepala BIN Tinjau Vaksinasi di Pesantren: Ketahanan NKRI Ada di Sini

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 01 Agustus 2021, 15:55 WIB
KEPALA BIN Jenderal Polisi (Purn) Budi Gunawan meninjau pelaksanaan vaksinasi COVID-19 bagi para santri, di Ponpes Ummul Quro,...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Pemerintah Afghanistan Hadapi Krisis Eksistensial

 Laporan SIGAR menggarisbawahi kekhawatiran pasukan Afghanistan tidak siap untuk melakukan pertahanan yang berarti

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya