Minggu 18 April 2021, 05:05 WIB

Puasa Terlama hingga Rindu Takjil Kisah Diaspora Indonesia

Ferdian Ananda/H-2 | Humaniora
Puasa Terlama hingga Rindu Takjil Kisah Diaspora Indonesia

Ist
Muhammad Zuhair Zahid.

 

PAGI itu salju turun di planet bumi bagian utara Rusia atau terletak 400 kilometer dari Samudra Atlantik. Muhammad Zuhair Zahid tengah disibukkan dengan tugas kuliah dan pekerjaan dalam ruangannya di Department of Sciences and Mathematics, University Swedia.

Berada di Swedia sebagai seorang muslim, tidak menyulitkannya untuk tetap beribadah di negeri itu. "Untuk salat, saya punya ruang pribadi yang bebas saya gunakan bekerja dan beribadah. Jadi kapan pun saya mau salat, saya lebih nyaman di sini," kata Zuhair, salah seorang diaspora muslim dalam program Nunggu Sunset Kumpulan Kisah Ramadan (Kurma) edisi luar negeri di akun Instagram Media Indonesia, Jumat (16/4).

Bagi mahasiswa yang tidak memiliki ruang pribadi seperti mahasiswa S-1 dan S-2, kampus menyediakan Chapel Room, sebuah ruangan berukuran 4×4 untuk tempat beribadah semua agama.

Saat Ramadan, Zuhair menjalankan ibadah puasa selama 20 jam lamanya di Swedia, berbeda dengan Indonesia yang hanya 13 jam.

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Federasi Rusia dan Eropa Utara yang juga dosen Universitas Negeri Semarang itu, Zuhair bersyukur, meski dipenuhi salju, cuaca saat ini di Swedia tidak terlalu ekstrem sehingga tidak berpengaruh pada aktivitas puasa yang telah berjalan selama 5 hari ini di sana.

Di Swedia, waktu subuh datang pukul 04.00 dan magrib sekira pukul 20.30, sedangkan salat Tarawih di masjid lokal dilaksanakan sekira pukul 21.30 waktu setempat.

"Saya sengaja masak sahur sebelum saya tidur. Nanti tinggal dipanaskan di microwave," pungkasnya.

Diaspora muslim lainnya yang juga anggota PCINU Rusia Abdul Rasyid Ramadhani mengalami momen puasa Ramadan di Kota Kazan, Rusia. Di kota ini waktu puasa berlangsung 17-19 jam lamanya.

"Kota ini dikenal sebagai komunitas muslim di Eropa dan kegiatan ibadah Ramadan di masjid-masjid kotanya sangat semarak. Salah satunya di Masjid Syahabuddin Marzani yang berdiri sejak 1767 Masehi," ujarnya.

Setiap menjelang buka puasa hingga Tarawih, kata Abdul, masjid ini ramai dan dipenuhi umat muslim sekitar, tak terkecuali mahasiswa asal Indonesia.

Lain lagi dengan pengalaman puasa selama 15 jam yang dialami Suwondo, pengurus PCINU Inggris yang juga mahasiswa pendidikan Master of Public Administration di University of Southampton.

Ia mengaku kesulitan menemukan makanan halal maupun makanan pedas yang disukai lidah orang Asia. "Banyak menu yang kami rindukan, kami kangen makanan Indonesia yang sangat sulit kami temukan di sini," ceritanya.

"Positifnya, yang tadinya kita enggak bisa masak, ketika berada di sini kita bisa masak. Seperti rendang, bakso, nasi campur, hingga tongseng sebab di sini tidak ada takjil, seperti gorengan atau es buah. Kita harus masak sendiri," timpalnya. (Ferdian Ananda/H-2)

Baca Juga

Dok.Ist

Kelompok Marginal Butuh Pendampingan Dalam Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 16 Oktober 2021, 09:30 WIB
Pada titik inilah UNAIDS mengambil peran, untuk memastikan tidak ada kelompok yang...
DOK Kenari Daja

Kenari Djaja Award 2021 Bentuk Dukungan Terhadap Karya Anak Bangsa

👤Widhoroso 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:40 WIB
KOMPETISI desain handle atau gagang pintu yang digelar Kenari Djaja sukses memunculkan desain-desain inovatif dari...
Antara

Menteri PPPA Puji Protes Guru dan Murid Tolak Pernikahan Anak

👤Ant 🕔Jumat 15 Oktober 2021, 23:30 WIB
Menurutnya, aksi penolakan ini menunjukkan kesadaran bahwa pernikahan anak di bawah umur tidak sepatutnya...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Risma Marah dan Gaya Kepemimpinan Lokal

ika melihat cara Risma marah di Gorontalo, hal itu tidak terlalu pas dengan norma, etika, dan kebiasaan di masyarakat.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya