Kamis 24 Desember 2020, 14:45 WIB

Burung Kakatua Paling Banyak jadi Korban Perdagangan Satwa Ilegal

Atalya Puspa | Humaniora
Burung Kakatua Paling Banyak jadi Korban Perdagangan Satwa Ilegal

Antara/Didik Suhartono
Burung Kakatua yang akan diselundupkan

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat selama lima tahun terakhir (2015-2020) burung kakatua menjadi satwa dilindungi yang paling banyak menjadi korban perdagangan ilegal.

"Hewan dilindungi yang paling banyak diperdagangkan secara ilegal adalah burung kakatua yakni sebanyak 61 kasus," kata Kepala Sub Direktorat Pencegahan dan Pengamanan Hutan Wilayah Jawa dan Bali Direktorat Jenderal Penegakan Hukum KLHK, Taqiudin kepada Media Indonesia, Kamis (24/12).

Adapun perdagangan tersebut dilakukan secara daring maupun langsung. Ia menyatakan, total burung kakatua yang diperdagangkan yakni sebanyak 187 ekor.

"Mengenai kerugian materiil kami belum mengudpate. Tapi kalau khusus untuk kakatua di perdagangan resmi berkisar Rp12 juta per ekor," ucapnya.

Dihubungi terpisah, Direktur Jenderal Penegakan Hukum KLHK Rasio Ridho Sani menyatakan, perdagangan satwa yang dilindungi semakin meningkat setiap tahunnya. Selama lima tahun terakhir terdapat 232.600 satwa yang dilindungi dan 15.450 bagian tubuh satwa yang dilindungi diperdagangkan secara ilegal.

Adapun sepanjang 2020, terdapat 5.180 stawa dan 2.752 bagian tubuh satwa dilindungi yang diperdangangkan. Angka tersebut meningkat dibanding 2019 yang masing-masing yakni 1.325 satwa dan 1.799 bagian tubuh.

Baca juga : LIPI Hibahkan Alat Terapi Oksigen untuk Rumah Sakit Advent Bandung

"Selama lima tahun terakhir sebanyak 349 operasi peredaran tumbuhan dan satwa dilindungi telah dilaksanakan. Adapun, sebanyak 296 berkas kasus telah dinyatakan lengkap," kata Rasio.

Hal ini, kata Rasio sangat merugikan Indonesia karena berpotensi menganggu kekayaan hayati Indonesia. Sampai saat ini, Ia mengakui masih menghitung jumlah kerugian materiil yang ditumbulkan akibat aktivitas perdagangan ilegal satwa yang dilindungi tersebut.

"Sampai saat ini kami masih menghitung kerugian materiil yang ditimbulkan," kata Rasio.

"Tapi ini merupakan kejahatan seriu dan menyebabkan kerugian besar. Kita akan kehilangan keanekaragaman hayati," tambahnya.

Rasio menegaskan, ke depan pihaknya akan terus mempekuat penanganan perburuan dan perdagangan ilegal satwa liar.

"Upaya yang terus diperkuat adalah meningkatkan upaya pencegahan melalui penyadartahuan masyarakat, penguatan intelejen termasuk memperkuat cyber patrol untuk memonitor perdanganan ilegal melalui sosial media," tandasnya. (OL-7)

Baca Juga

Antara/Asprilla Dwi Adha

Ini Alasan Kemendikbudristek Kukuh Pertahankan PTM Meski Kasus Omikron Meningkat 

👤Faustinus Nua 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:40 WIB
"PTM sangat urgen, kita sudah menutup sekolah hampir dua tahun dan selama waktu tersebut banyak kejadian luar biasa diantaranya...
Dok. Pribadi

Alat Masak Berkualitas Ikut Tentukan Kelezatan Makanan 

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:37 WIB
Dilansir dari healthline, alat masak seperti panci dan wajan yang tidak berkualitas bisa jadi sampah menumpuk karena orang-orang tidak akan...
Ist

Hari Pendidikan Internasional, LSM di Indonesia Dorong Menu Berbasis Nabati

👤Eni Kartinah 🕔Senin 24 Januari 2022, 21:12 WIB
Sinergia Animal ingin mendorong institusi untuk menyediakan makanan yang lebih ramah iklim dan lebih sehat kepada siswa  sejalan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

Top Tags

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya