Senin 30 November 2020, 14:05 WIB

Pariwisata Labuan Bajo Bergeliat, Protokol Kesehatan Diutamakan

Ihfa Firdausya | Humaniora
Pariwisata Labuan Bajo Bergeliat, Protokol Kesehatan Diutamakan

MI/Ihfa
Pariwisata di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur kini kembali bergeliat setelah dihantam pandemi covid-19.

 

ANTREAN wisatawan di pantai Pulau Padar, kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur, terlihat dari kejauhan pada pagi buta, Sabtu (28/11). Mereka hendak mendaki bukit di pulau yang tersohor akan panorama empat teluk yang indah dilihat dari puncaknya.

Pariwisata di Labuan Bajo memang telah dibuka kembali sejak sempat ditutup pada Maret 2020 hingga sekitar pertengahan tahun ini. Harapannya, aktivitas ekonomi di salah satu destinasi wisata superprioritas ini bisa kembali bergeliat setelah sempat lumpuh beberapa bulan.

Geliat tersebut cukup terasa ketika Media Indonesia berkesempatan menjelajahi beberapa destinasi wisata di Labuan Bajo pada 27-30 November 2020. Bersama beberapa awak media atas undangan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) dan Garuda Indonesia, kami melihat kesiapan dibukanya kembali sektor pariwisata, terutama dalam penerapan protokol kesehatan atau CHSE (clean, health, safety, and environment).

Di Pulau Padar misalnya, protokol kesehatan diterapkan sejak pengunjung memasuki area pulau. Tempat cuci tangan plus sabun disiapkan sebelum tangga menuju puncak bukit.

Untuk menjaga jarak, petugas mempersilakan pengunjung naik satu per satu. Tak lupa, para petugas dilengkapi penutup mulut atau masker.

Dita, wisatawan asal Jakarta, mengaku mulai percaya diri untuk berwisata meskipun tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan, terutama saat berada di bandara.

"Kalau udah di tujuan (wisata) sih udah mulai dikit kan orang-orangnya gak sebanyak di bandara," katanya saat ditanyai media di Pulau Padar, Sabtu (28/11).

Emmanuel, seorang pemandu di Pulau Padar, mengatakan bahwa agar tidak terjadi penumpukan wisatawan di satu destinasi di kawasan Taman Nasional Komodo, terutama pada akhir pekan, pihak penyelenggara wisata harus mengatur jadwal sedemikian rupa.

"Misal hari Sabtu seperti ini wisatawan banyak (ke Pulau Padar), jadi mereka harus bawa ke pulau lain dulu biar gak ngumpul di sini," ungkapnya.

Labuan Bajo dan Taman Nasional Komodo memang semakin menjadi magnet wisatawan lokal maupun mancanegara. Sejumlah destinasi unggulan menjadi tujuan para traveller untuk menikmati berbagai spot, mulai dari snorkeling, diving, hingga hiking.

Pengalaman menikmati berbagai destinasi tersebut akan lengkap dengan mencoba sensasi tinggal di dalam kapal pinisi selama berhari-hari atau yang biasa disebut liveaboard.

"Orang-orang kalau ke Komodo mereka prefer ke liveaboard karena mereka bisa malam itu tidur, kapal jalan, besok paginya sudah sampai di satu pulau," ungkap Director of Marketing Sea Safari Cruises, Eva Tanudjaja, Jumat (27/11).

Kapal pinisi milik Sea Safari Cruises menjadi tempat yang kami tinggali selama menjelajah berbagai destinasi di Labuan Bajo. Soal protokol kesehatan, kapal ini pun memberlakukannya dengan sangat ketat.


Baca juga: Sepasang Harimau Sumatra Bersaudara Kembali ke Habitat Alaminya
Pengecekan suhu tubuh bagi wisatawan dilakukan secara berkala. Masing-masing tamu juga mendapatkan kamar yang diisi satu orang.

"Untuk menetapkan protokolnya kita ada istilahnya training dari pihak kemaritiman, kesehatan, di mana kita harus mengutamakan CHSE kita. Kita semua pasti minta syarat utama liveaboard harus ada rapid test (bagi tamu)," jelas Eva.

"Untuk seluruh kru kita per dua minggu sekali pasti kita rapid test. Setiap pagi harus ada pengecekan suhu tubuh. Kru berhadapan dengan tamu juga harus ada masker, face shield, dan sarung tangan," imbuhnya.

Menggunakan kapal ini, kita diajak mengunjungi beberapa destinasi yang tersohor akan keindahan alamnya. Setelah puas menikmati indahnya Pulau Padar, kami berkesempatan melakukan snorkeling di Pantai Pink (Pink Beach).

Gradasi warna biru laut dan pasir yang kemerahan sangat memanjakan mata. Tak cukup di situ, pemandangan bawah laut dengan warna-warni terumbu karang dan ikan yang cantik membuat kita betah berlama-lama di Pantai Pink ini.

Selanjutnya adalah melihat habitat hewan komodo di kawasan Taman Nasional Komodo. Di sini, protokol kesehatan juga sangat diperhatikan.

Memasuki, gapura, kran tempat cuci tangan telah tersedia, lengkap dengan sabunnya. Semua pemandu wisata juga terlihat menggunakan masker.

Abdullah, seorang pemandu wisata di sana, mengatakan saat ini destinasi Pulau Komodo memang belum seramai ketika sebelum pandemi covid-19. Saat ini pengunjung berkisar 100 orang per hari dan kebanyakan datang saat akhir pekan.

Berbeda dengan di Pulau Komodo, wisatawan terlihat mulai menggeliat di salah satu spot snorkeling andalan, Pulau Kanawa. Tempat ini menjadi primadona karena merupakan tempat berkumpulnya ribuan ikan cantik yang siap menemani Anda snorkeling.

Menurut Koordinator Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf Indri Wahyu Susanti, dengan dibukanya kembali pariwisata khususnya destinasi superprioritas ini, diharapkan roda perekonomian di sektor ini kembali berputar.

"Kita berharap di daerah (pariwisata) semua sudah melakukan 3M, artinya sama-sama, baik produsen maupun konsumennya. Insya Allah dengan begitu yang kita harapkan roda perekonomiannya jalan, covid-nya gak nambah," kata Indri di Labuan Bajo, Minggu (29/11).


Protokol kesehatan di pesawat
Salah satu kekhawatiran masyarakat untuk bepergian dan berwisata di masa pandemi adalah penularan virus di dalam pesawat. Namun, maskapai penerbangan dalam hal ini Garuda Indonesia telah memperketat protokol kesehatan.

Sebelum terbang, setiap penumpang wajib melalui proses pemeriksaan dokumen rapid test. Proses check-in dan boarding di bandara pun harus memperhatikan jarak fisik (physical distancing).

Di dalam pesawat, para kru kabin terlihat menggunakan APD berupa masker dan sarung tangan ketika melayani penumpang. Makanan yang disajikan pun dibungkus secara rapi dan tertutup sehingga aman sampai ke penumpang.

Selain itu, penumpang tidak perlu khawatir duduk berdekatan dengan penumpang lain karena pengurangan kapasitas selama pandemi. Pesawat juga dilengkapi HEPA Filter yang berfungsi menyaring partikel kecil virus dan bakteri, bahkan yang terkecil antara 0,1 hingga 0,3 mikron dengan efisiensi hingga 99,995%.

Ketatnya protokol kesehatan di Garuda Indonesia ini dirasakan stand up komedian dan pemain film, Ge Pamungkas. Selama pandemi, dia mengaku sudah dua kali terbang menggunakan Garuda.

"Gak ada celah sedikit pun (soal protokol kesehatan). Gue kan pakai kacamata, kadang-kadang tali kacamata ini suka kesangkut sama masker. Untuk melepas kacamata gue harus melepas masker (sebentar). Tiba-tiba datang pramugari, maaf mas maskernya tolong dipakai. Gitu, seketat itu," ungkapnya di Labuan Bajo, Minggu (29/11). (S-2)

Baca Juga

Ist

Baznas Kirim Tim Medis Ke Lokasi Gempa di Sulawesi Barat

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 16 Januari 2021, 23:57 WIB
Baznas telah mengirimkan tim medis dan tim tanggap bencana dari Jakarta untuk membantu proses evakuasi korban bencana gempa bumi di...
Antara

Wacana Vaksin Covid-19 Dijual Mandiri Dinilai Langkah Blunder

👤Sri Yanti Nainggolan 🕔Sabtu 16 Januari 2021, 23:52 WIB
"Jadi penggunaannya sesuai dengan mekanisme strategi kesehatan masyarakat, bukan strategi ekonomi," tandas...
AFP

Kasus Covid-19 Melonjak, Kapolri Evaluasi Penanganan Wilayah

👤Rahmatul Fajri 🕔Sabtu 16 Januari 2021, 22:15 WIB
Seperti diketahui, per Jumat (15/1) kemarin, kasus positif covid-19 di Indonesia bertambah sebanyak 12.818...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya