Headline
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Publik diminta terus bersikap kritis terhadap tindakan aparat.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBATASAN interaksi sosial yang terjadi di sekolah yang menganut paradigma lama membuat interaksi sosial siswa melemah. Siswa menjadi kurang mempunyai kompetensi secara sosial-emosional yang berakibat pada kinerja akademik mereka.
Padahal, penguasaan kompetensi sosial-emosional sangat erat hubungannya dengan kesejahteraan dan kinerja sekolah yang lebih baik sedangkan kegagalan untuk mencapai kompetensi di bidang ini dapat menyebabkan berbagai kesulitan pribadi, sosial, dan akademik di sekolah.
“Sekolah itu seharusnya membangun kemandirian berpikir dan kemerdekaan moral. Pendidikan umumnya cenderung mematikan kreativitas anak. Seharusnya, sekolah justru membangun nalar dan mengajarkan anak untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di sekitarnya,” ujar Muhammad Nur Rizal, penggagas Gerakan Sekolah Menyenangkan yang juga menjadi dosen Universitas Gadjah Mada itu.
“Salah satu cara yang dapat ditempuh untuk mewujudkan pendidikan ideal ini adalah dengan membangun ekosistem yang menghargai keberagaman dan empatik dalam keseharian,” tutur Nur Rizal di Yogyakarta, Selasa (14/1).
“Dari sekolah yang fokus mengejar nilai, baiknya dialihkan menjadi pendidikan yang berorientasi pada pembiasaan berpikir reflektif untuk menguji pikiran kritis. Penyediaan ruang semacam ini akan memungkinkan anak untuk tidak hanya cerdas secara pikiran, namun cerdas dalam emosi dan sosial. Inilah yang dibutuhkan oleh pendidikan kita,” paparnya.
Social Emotional Learning merupakan sebuah pendekatan untuk meningkatkan keberhasilan siswa-siswa di sekolah dan kehidupannya.
Gerakan Sekolah Menyenangkan menerapkan metode Social Emotional Learning dalam tahap kegiatan pembelajarannya untuk mendorong pemahaman siswa akan kemampuan dirinya dan mengenali emosinya.
Keterampilan sosial emosional ini tidak dapat begitu saja terwujud tanpa proses panjang. Untuk mewujudkannya, maka seluruh elemen sekolah termasuk guru, murid, dan wali murid, mesti ikut berkontribusi membentuk sosial emosional di lingkungan sekolah.
“Dalam proses belajar mengajar, baik guru maupun siswa perlu melihat diri sendiri secara utuh dan jujur untuk meningkatkan diri menjadi pribadi pembelajar yang lebih baik,” ujar Galuh Ajeng Oka Bimala, Guru SD Muhammadiyah Sidoarum.
“ Semua komponen sekolah yang meliputi guru, murid, wali murid, juga perlu bercermin dan bebenah diri agar dapat terus meningkatkan kualitas pendidikan,” ujar Galuh Ajeng.
Menurut Galuh Ajeng, guru sebagai fasilitator mengemban kewajiban besar untuk memfasilitasi siswa menjadi pembelajar yang mampu membangun relasi dengan dirinya sendiri.
“Begitu pula siswa, sebelum bebenah diri, siswa harus terlebih dulu mengenali kekurangan di masa lalu agar dapat memperbaikinya di masa depan. Berikut pengalaman anak-anak GSM di SD Muhammadiyah Sidoarum dalam rangka merefleksikan diri dengan menerapkan metode Self Emotional Learning,” paparnya. (OL-09)
Abidin juga meminta Kemenag segera membenahi validitas data guru madrasah, baik melalui mekanisme PPPK, ASN, maupun inpassing.
Presiden Prabowo Subianto menggelar pertemuan khusus dengan sejumlah menteri Kabinet Merah Putih di kediamannya di Hambalang, Bogor, Jawa Barat, Selasa (27/1).
Provinsi-provinsi di kawasan timur Indonesia masih mendominasi angka pernikahan dini tertinggi secara nasional, meski secara umum prevalensi pernikahan anak di Indonesia terus menurun.
Mereka kehilangan rasa aman, rutinitas harian, akses belajar, serta dukungan emosional yang esensial bagi perkembangan mereka.
LEDAKAN teknologi digital telah menyusup ke setiap sudut kehidupan anak-anak Indonesia, membawa kemudahan sekaligus ancaman diam-diam: krisis gaya hidup pasif.
WAKIL Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, mengatakan peran generasi muda sangat dibutuhkan dalam upaya membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Asupan gula berlebih bukan sekadar masalah kalori, melainkan ancaman bagi metabolisme anak yang masih dalam tahap perkembangan.
Jika kadar vitamin D rendah, kalsium yang seharusnya menjadi struktur utama kekuatan tulang tidak dapat terserap maksimal oleh tubuh.
Kandungan gula yang disamarkan ini sering ditemukan pada jenis makanan ultraprocessed food (UPF).
Pada fase krusial saat mengonsumsi MPASI, anak perlu diperkenalkan dengan berbagai spektrum rasa agar mereka lebih terbuka terhadap variasi pangan di kemudian hari.
Kondisi emosional adalah faktor penentu utama kemampuan anak dalam menyerap pelajaran.
Pengenalan puasa yang dilakukan dengan paksaan berisiko menimbulkan tekanan emosional yang berdampak negatif pada kesehatan mental anak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved