Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Japan International Cooperation Agency (JICA) dan Japan Agency for Medical Research and Development (AMED) dalam program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) guna mencari senyawa baru yang dapat dijadikan obat antimalaria.
Program ini dijalankan selama lima tahun yakni pada 2015 sampai 2020.
"Sekarang ini kan malaria pakai kina, jadi nyamuknya sama kina sudah kebal, karena obat lama-lama resistan. Jadi nyamuk di Papua sana pakai kina sudah tidak terlalu mempan lagi, makanya kita mencari lagi sama senyawa yang baru," kata Deputi Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi BPPT Soni Solistia Wirawan di Hotel Sari Pacific, Jakarta, Rabu (9/10).
Kepala Program Inovasi Pengembangan Obat Antimalaria dan Antiamoeba BPPT Danang Waluyo mengatakan, saat ini terdapat sekitar 20 senyawa yang kemungkinan dapat dikembangkan menjadi obat. Senyawa-senyawa tersebut harus melalui uji praklinis dan uji klinis terlebih dahulu guna memastikan keamanannya.
"Kalau diuji praklinis, uji keamanan obat, biasanya memang banyak yang tereliminasi karena itu ternyata ada efek samping atau karena malarianya mati tetapi hewan ujinya juga mati. Ini yang akan kita pisahkan dulu, kita akan uji dulu, sehingga kita mendapat kandidat obat yang efektif tetapi aman," tutur Danang.
Danang mengungkapkan, saat ini pihaknya telah mendapat senyawa paling aktif dari alam yakni mikroba bernama actinomycetes. Sample mikroba ini diambil dari kawasan yang jarang dimasuki manusia di Jember.
"Ini kita sudah uji aktivitasnya terhadap malaria lebih baik daripada obat malaria yang sudah ada sekarang, tapi perlu kita kaji lebih lanjut apakah dia tidak toxic terhadap sel manusia, kemudian tidak memberikan efek samping the kesehatan itu yang nanti akan kita uji lebih lanjut," terangnya.
Baca juga: Angka Sakit Malaria di Lembata sudah Menurun Drastis
Danang memastikan BPPT akan terus mencari senyawa lainnya yang dapat dijadikan kandidat obat. Sebab berdasarkan pengalaman dari perusahaan farmasi, untuk mendapatkan suatu obat, biasanya disiapkan sekitar 20-50 kandidat obat untuk dilakukan uji toksisitas.
Danang mengungkapkan, untuk menjalankan program ini, dana yang digunakan berasal dari JICA dan AMED dengan jumlah total sebesar Rp30 miliar.
"SATREPS satu tahun sekitar Rp6 miliar, selama lima tahun jadi Rp30 miliar. Bukan dalam bentuk dana semua, tapi juga tenaga ahli, kirim trainee ke sana, ada yang jadi alat," terangnya.
Selain dana dari SATREPS, pihak BPPT juga akan mengajukan proposal melalui program Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional (INSINAS) Kemenristekdikti dan Litbangkes Kemenkes. (A-4)
Malaria masih menjadi masalah kesehatan global yang kompleks akibat imunitas parsial, pembawa asimtomatik, dan resistensi insektisida.
Ajang ini diikuti oleh 25 perusahaan nasional dari berbagai sektor yang dinilai aktif berperan dalam pengendalian penyakit ATM selama tiga tahun terakhir.
Peneliti internasional menciptakan jamur Metarhizium beraroma bunga yang mampu menarik dan membunuh nyamuk pembawa penyakit seperti malaria dan demam berdarah.
Penemuan ini menjadi yang pertama kali teridentifikasi pada kerangka dari periode logam, membuka bab baru dalam studi hubungan antara penyakit dan evolusi manusia.
Dilansir dari laman Gavi, the Vaccine Alliance, salah satu penyakit yang sudah ada sejak zaman dulu ialah malaria. Dalam catatan medis Tiongkok kuno dari tahun 270 SM
Munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Sulawesi Tengah, menjadi peringatan serius bagi seluruh daerah di Indonesia.
Satu dari tiga pasien mampu mencapai penurunan berat badan lebih dari 20%, sebuah angka yang selama ini identik dengan hasil terapi suntikan mingguan.
Data kesehatan terbaru menunjukkan 1 dari 4 orang dewasa di Indonesia hidup dengan kondisi obesitas atau kelebihan lemak perut.
Akses masyarakat terhadap obat-obatan esensial dinilai terancam setelah perubahan regulasi paten terbaru.
Lucia menjelaskan ketika terjadi bencana banyak orang yang terkena luka bisa karena seng, paku, dan sebagainya maka diberikan serum anti tetanus, untuk mencegah infeksi.
Obat dapat berasal dari bahan kimia, tumbuhan, maupun hewan, dan biasanya digunakan dengan dosis tertentu agar aman dan efektif.
Gabungan Perusahaan Farmasi Indonesia (GPFI) mengadakan seminar “Peran Strategis GPFI dalam Menegaskan Prinsip 4K untuk Menunjang Kesehatan Nasional”
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved