Headline

BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.

Transformasi Gaya Hidup Maia Estianty: Menjaga Sendi di Usia Golden Age

Basuki Eka Purnama
29/1/2026 04:54
Transformasi Gaya Hidup Maia Estianty: Menjaga Sendi di Usia Golden Age
Musisi Maia Estianty(ANTARA/Farika Nur Khotimah)

MEMASUKI usia kepala lima merupakan fase baru yang penuh tantangan, terutama bagi kesehatan fisik. Musisi kenamaan, Maia Estianty, membagikan kisah inspiratifnya dalam menghadapi perubahan tubuh seiring bertambahnya usia. 

Tepat pada 27 Januari 2026, Maia genap berusia 50 tahun dan ia mengaku kini jauh lebih sadar akan pentingnya menjaga kebugaran tulang dan sendi.

Keluhan fisik sebenarnya bukan hal baru bagi istri Irwan Mussry ini. Maia mengungkapkan bahwa dirinya mulai merasakan penurunan fungsi tubuh sejak memasuki usia 40 tahun. 

Masalah pada lutut dan nyeri punggung menjadi kendala utama yang kerap mengganggu aktivitas harian maupun hobi olahraganya.

“Di usia 40 tahun ke atas, biasanya yang duluan bermasalah itu lutut, punggung, dan persendian kaki. Saya juga mengalami itu,” ungkap Maia, dikutip Kamis (29/1).

Kondisi tersebut bahkan sempat membatasi mobilitasnya secara signifikan. 

Maia menceritakan pengalaman pahit saat harus membatasi jarak berjalan kaki hingga kesulitan menjalankan ibadah secara sempurna. Salah satu momen yang paling diingatnya adalah ketika ia harus menggunakan bantuan kursi saat menunaikan salat karena nyeri lutut yang tak tertahankan.

“Sekitar lima tahun lalu, waktu umrah, saya masih harus pakai kursi salat. Sekarang sudah tidak lagi,” ujarnya dengan nada syukur.

Perubahan positif ini tidak datang begitu saja. Maia menyadari bahwa tubuh di usia 50 tahun tidak bisa lagi diperlakukan sama seperti saat masih muda. Ia mulai menurunkan ego dan menyesuaikan ritme aktivitasnya agar tidak terjadi cedera yang lebih parah.

“Sekarang kalau ingin bergerak atau olahraga seperti lari, saya lebih mengerem. Tubuh tidak bisa diperlakukan seperti dulu,” tegasnya.

Kini, kunci kekuatan Maia terletak pada konsistensi gaya hidup sehat yang terukur. Ia rutin melakukan olahraga ringan yang fokus pada penguatan otot inti (core) dan tubuh bagian bawah, seperti bersepeda statis, plank, hingga interval walking. 

Selain itu, ia sangat selektif dalam memilih asupan makanan—sesuatu yang ia akui sering terabaikan di masa muda.

“Kalau dulu makan apa saja tidak masalah. Sekarang sudah tidak bisa. Harus lebih pilih-pilih,” tambah Maia. 

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga berat badan ideal, mengingat beban tubuh yang berlebih secara langsung akan memperberat kerja sendi lutut.

Sebagai penutup, Maia mengajak perempuan Indonesia yang berada di fase golden age untuk tetap percaya diri dan aktif. Baginya, rahasia bugar di usia senja adalah sinergi antara fisik dan mental. 

“Konsumsi yang baik untuk tubuh, olahraga rutin, dan hati yang gembira itu penting,” pungkasnya. (Ant/Z-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya