Headline

Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.

Paramount Gugat Warner Bros. Discovery demi Jegal Kesepakatan Netflix

Thalatie K Yani
13/1/2026 07:08
Paramount Gugat Warner Bros. Discovery demi Jegal Kesepakatan Netflix
Warner Bros(Unsplash)

PERSAINGAN memperebutkan raksasa hiburan Warner Bros. Discovery (WBD) resmi berlanjut ke meja hijau. CEO Paramount, David Ellison, mengumumkan gugatan hukum di Pengadilan Kanselir Delaware sebagai bagian dari upaya akuisisi paksa (hostile takeover) terhadap perusahaan induk CNN tersebut.

Langkah hukum ini diambil setelah dewan direksi WBD berulang kali menolak tawaran Ellison dan lebih memilih kesepakatan dengan Netflix. Saat ini, WBD tengah memproses penjualan aset Warner Bros. dan HBO ke Netflix senilai US$27,75 per saham.

Ellison mengkritik WBD atas "kurangnya transparansi" dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Ia mencoba merebut kendali dengan menawarkan harga lebih tinggi, yakni US$30 per saham secara tunai.

Ancaman Perang Proksi

Selain gugatan hukum, Ellison mengancam akan melakukan perang proksi (proxy fight). Ia berencana mencalonkan jajaran direksi baru yang pro-Paramount untuk mengambil alih dewan direksi WBD. Direksi baru ini nantinya diharapkan akan membatalkan perjanjian dengan Netflix dan menerima tawaran Paramount.

"Keputusan WBD sama sekali tidak masuk akal, sama halnya dengan perhitungan matematis mengapa WBD terus memilih tawaran yang lebih rendah dibandingkan tawaran tunai kami sebesar US$30 per saham untuk para pemegang sahamnya," tegas Ellison pada Senin (12/1).

Di sisi lain, juru bicara WBD menanggapi dingin langkah Paramount dan menyebut gugatan tersebut tidak berdasar. WBD menyatakan tawaran Paramount memiliki banyak kekurangan, termasuk masalah pembiayaan utang dan persyaratan yang memberatkan.

"Paramount Skydance terus mengusulkan transaksi yang menurut kesimpulan bulat dewan kami tidak lebih baik daripada perjanjian merger dengan Netflix," ungkap pihak WBD.

Pemecahan Aset dan Intervensi Politik

Salah satu poin krusial dalam sengketa ini adalah nasib saluran kabel seperti CNN. Dalam kesepakatan dengan Netflix, saluran-saluran tersebut tidak ikut dibeli dan akan dipisahkan menjadi perusahaan baru bernama Discovery Global pada musim panas mendatang. Paramount berargumen aset-aset tersebut memiliki nilai ekuitas yang kecil, sementara WBD menilai sebaliknya.

Kekacauan korporasi ini semakin kompleks dengan pernyataan Presiden Donald Trump yang mengaku akan terlibat langsung dalam meninjau merger apa pun. Melalui media sosial Truth Social, Trump sempat membagikan artikel yang menentang "pengambilalihan budaya oleh Netflix" dan menyerukan perlawanan terhadap apa yang ia sebut sebagai "monopoli media woke."

Analis senior Emarketer, Ross Benes, menilai bahwa tuntutan hukum dan perang proksi ini adalah bagian dari strategi jangka panjang Paramount. "Paramount akan terus menggunakan segala cara untuk merebut WBD dari Netflix hingga ada celah yang bisa dimanfaatkan," ujarnya.

Meski ada tekanan dari Paramount, Netflix tetap menunjukkan kepercayaan diri bahwa kesepakatan ini akan mendapatkan persetujuan regulator AS dan Uni Eropa dalam 12 hingga 18 bulan ke depan. (CNN/Z-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Thalatie Yani
Berita Lainnya