Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

‎Museum Macan Hadirkan Uma, Ruang Interaktif Anak untuk Belajar Budaya dan Alam

Rifaldi Putra Irianto
14/12/2025 16:02
‎Museum Macan Hadirkan Uma, Ruang Interaktif Anak untuk Belajar Budaya dan Alam
Uma, Ruang Interaktif Anak untuk Belajar Budaya dan Alam Museum Macan.(Dok. Museum Macan)

MUSEUM Macan mempersembahkan Uma, karya terbaru untuk Ruang Seni Anak, yang dikembangkan oleh Ibu Arsitek, sebuah kolektif arsitek perempuan Indonesia. Mulai 29 November 2025, Uma menyuguhkan pengalaman yang hangat dan menyenangkan bagi anak-anak dan keluarga, mengajak mereka menjelajahi kembali bentang alam, tradisi budaya, serta kearifan leluhur Nusantara.

‎Selama berabad-abad, masyarakat di seluruh Nusantara hidup dengan pemahaman bahwa manusia dan alam terhubung secara mendalam. Keyakinan ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari arsitektur tradisional, ritual, budaya pangan, hingga cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Namun, dalam ritme kehidupan modern yang serba cepat, kearifan ini perlahan terasa menjauh.

Uma hadir mengajak keluarga untuk meluangkan waktu sejenak dan meresapi kembali hubungan mendasar antara manusia dan alam. Kata uma berarti “rumah” dan “ibu” dalam berbagai bahasa daerah di Indonesia. Terinspirasi dari makna tersebut, instalasi ini menghadirkan sebuah ruang bagi pengunjung untuk merenungkan kembali arti hidup selaras dengan lingkungan di sekitar kita.

‎"Manusia dan alam tidak terpisahkan. Namun, kehidupan modern telah mengubah hubungan ini dan kita semakin berjarak dengan alam. Proyek ini adalah panggilan untuk terhubung kembali. Saya berharap Uma bisa hadir sebagai jembatan antara manusia dan alam, perkotaan dan pedesaan, leluhur dan penerus, serta tradisi dan kebaruan. Kita semua bisa hidup berdampingan," kata Kurator Edukasi dan Program Publik, Museum Macan, Nin Djani, dalam keterangan pers, Minggi (14/12).

‎Di dalam ruang Uma anak-anak dapat menjelajahi keberagaman bentang alam Indonesia serta kekayaan hayatinya melalui kartu ilustrasi dan wayang kertas yang interaktif. Mereka juga dapat merancang dan membangun model rumah tradisional menggunakan potongan modul. Seiring semakin banyak rumah ditempatkan pada undakan-undakan di dalam galeri, ruang ini perlahan berubah menjadi dunia mini bersama yang dibangun oleh banyak tangan kecil.

‎Sebagai ruang interaktif, Uma dirancang untuk mengajak pengunjung merasakan banyak hal melalui berbagai indra, tidak hanya mata. Untuk menghadirkan pengalaman multisensori ini, Ibu Arsitek bekerja bersama enam kolaborator. Begitu memasuki ruang, pengunjung diajak melepas alas kaki dan berjalan tanpa sepatu untuk merasakan sentuhan bumi.

‎Mereka akan menapaki lantai kaca biru dari Himalaya Abadi, yang tampak seperti riak laut, mengingatkan kita pada luasnya lautan Nusantara. Undakan-undakan di ruang ini dilapisi tanah liat dan karpet ‎dari FIO, yang melalui koleksi broadloom dan handtufted-nya menghadirkan berbagai tekstur yang menggambarkan permukaan bumi.

‎Wall Panel Mirror Series yang membentuk area reflektif dipasang pada langit-langit di salah satu sudut ruang, menciptakan permainan cahaya dan bayangan layaknya pantulan alam di langit. Di salah satu undakan atas, diffuser menyemburkan kabut lembut beraroma tanah. Sementara itu, audio hasil kolaborasi dengan hara menghadirkan musik tradisional Indonesia yang berpadu dengan suara-suara alam.

Lewat aktivitas ini, anak-anak belajar bahwa masyarakat tradisional membangun rumah mereka dengan memperhatikan alam, cuaca, tanah, dan kebutuhan semua makhluk yang tinggal bersama. Uma mengingatkan kita bagaimana leluhur merawat bumi dengan penuh perhatian, serta mengajak anak-anak membayangkan bagaimana mereka bisa ikut menjaganya di masa depan.

‎“Arsitektur sejatinya bertumpu pada koneksi. Keilmuan ini lahir dari kesadaran dan pemahaman akan konteks geografis, iklim, dan budaya masyarakat. Artinya, arsitektur senantiasa adalah proses untuk mencapai keselarasan dan keberlanjutan melalui kolaborasi—yang juga merupakan esensi dari praktik kami sebagai kolektif Ibu Arsitek.” ujar para Ibu Arsitek.

Uma hadir melalui komitmen dan karya delapan arsitek perempuan berbakat yakni Osrithalita Gabriela, Anissa Santoso, Fauzia Evanindya, Arsheila Kinan, Gita Mustika Sumitra, Dania Siska Octaviani, Kanza Rizqi Fachriza, dan Anggita Paramita. Uma menjadi ajakan untuk kembali ke rumah—kepada tanah, kisah, dan pengetahuan yang menghubungkan kita semua. Instalasi ini mengundang keluarga untuk menikmati keindahan ‎serta keberagaman Nusantara, sekaligus mendorong refleksi tentang bagaimana kita dapat ‎membangun masa depan yang lebih peduli dan berkelanjutan.

‎Uma dapat dikunjungi di Ruang Seni Anak Museum Macan mulai 29 November 2025 hingga 12 April 2026. (H-3)
 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri Rosmalia
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik