Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Sungai bukan sekadar aliran air, melainkan urat nadi peradaban yang kerap "dikhianati". Pesan ekologis inilah yang diusung dalam pertunjukan site-specific bertajuk "Siklus", sebuah aksi seni lintas media yang akan digelar kembali pada 19 Desember 2025.
Pertunjukan ini bukan sekadar pementasan ulang dari Festival Kali Pasir Juli lalu, melainkan sebuah misi kemanusiaan. Hasil dari pementasan kali ini akan didonasikan untuk membantu korban bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera.
“Soal ekologi selaiknya sudah menjadi perhatian bersama dan menyeluruh,” ujar Jefriandi Usman, koreografer sekaligus inisiator stop/spot act performance ini saat ditemui di lokasi latihan, kompleks IKJ-TIM, Rabu (17/12).
Aktris ikonik Cornelia Agatha turut ambil bagian dalam aksi ini. Ia akan membawakan puisi 'Tempurung di Permukaan Telaga' karya penyair Heru Joni Putra. Bagi pemeran Sarah dalam Si Doel Anak Sekolahan ini, seni adalah medium paling intim untuk membangun kesadaran lingkungan.
“Pertunjukan ini membangun kesadaran bahwa manusia berdampingan dengan alam. Alamlah yang menghidupi kita,” tutur Cornelia.
Pementasan ini tergolong unik karena menggunakan perahu berkerangka galon sebagai panggung di atas sungai yang mengalir. Melalui gerak penari alumni IKJ serta bunyi dari musisi Haikal Baron dan Piter Slayan, memori kolektif tentang sungai—mulai dari ritual adat hingga tumpukan sampah yang memicu banjir—akan ditumpahkan secara visual.
Dramaturg pertunjukan, S Metron Masdison, menjelaskan bahwa konsep panggung di atas sungai sengaja dipilih untuk membuat publik "terpaku" dan berhenti sejenak merenungi kondisi lingkungan. "Ini mirip tradisi di kampung-kampung saat menggalang dana; menampilkan beragam seni sebelum donasi dikumpulkan," jelas pendiri Ranah PAC tersebut.
Dukungan pun mengalir deras dari berbagai pihak. Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Syaifullah, menyatakan bahwa pemerintah sangat mendukung pembangunan ruang alternatif yang mampu merawat budaya sekaligus menjaga alam.
Produser pertunjukan, Thia, menambahkan bahwa proyek ini melibatkan kolaborasi luas, mulai dari Yayasan Seni Budaya Jakarta, Dinas Kebudayaan DKI, hingga PPSU Kelurahan Kwitang.
“Tahun depan, kami berencana berkeliling ke sungai-sungai besar di Indonesia,” ungkap Thia optimistis.
Selain Cornelia Agatha, deretan nama besar seperti Sha Ine Febriyanti dan Derry Oktami dipastikan ikut bersuara dalam pementasan ini. Jefriandi Usman bahkan tengah berupaya menghadirkan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, untuk memberikan dukungan penuh bagi gerakan seni ekologis ini.
Melalui "Siklus", para seniman ini membuktikan bahwa karya seni tidak harus selalu berada di panggung megah, namun bisa hadir di tengah keprihatinan lingkungan, membawa pesan yang jauh lebih dalam dari sekadar hiburan. (P-5)
Fadli Zon menilai, pemetaan sumber daya manusia (SDM) yang objektif sangat krusial agar pengembangan kebudayaan nasional memiliki landasan kebijakan yang kuat dan tepat sasaran.
MUSEUM Macan mempersembahkan Uma, karya terbaru untuk Ruang Seni Anak, yang dikembangkan oleh Ibu Arsitek, sebuah kolektif arsitek perempuan Indonesia.
Anak-anak itu tampil percaya diri, berani, dan menyebarkan semangat positif melalui penampilan mereka yang dihiasi senyuman di atas panggung Red Nose
Konser Suarasmara menjadi perayaan 25 tahun karier Andien dengan sentuhan seni, kolaborasi sosial, dan kepedulian lingkungan.
Vannoe menghadirkan rangkaian solusi unggulan seperti videotron, kiosk, dan interactive flat panel (IFP) yang menyatukan teknologi, seni, dan kolaborasi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved