Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
PENYANYI Sabrina Carpenter mengecam Gedung Putih setelah lagu hit miliknya, “Juno”, digunakan dalam video montase yang menampilkan operasi penangkapan oleh agen ICE. Melalui unggahan di X, Carpenter menulis, “Video ini jahat dan menjijikkan. Jangan pernah melibatkan saya atau musik saya untuk mendukung agenda tidak manusiawi Anda.”
Video tersebut memanfaatkan bagian lirik paling viral dari lagu “Juno”, tepatnya saat Carpenter menyanyikan kalimat tentang posisi seks, “Have you ever tried this one?”. Lirik ini disandingkan dengan adegan orang-orang diborgol, ditahan, dan dijatuhkan oleh agen ICE.
Carpenter bukan satu-satunya musisi yang merasa dirugikan oleh praktik Gedung Putih yang kerap menggunakan lagu-lagu dari penyanyi anti-Trump dalam konten media sosialnya. Sebelumnya, pemerintah juga memakai karya sahabat sekaligus kolaborator Carpenter, Taylor Swift, dalam video lain yang merayakan kepemimpinan Presiden Donald Trump. Pada November lalu, lagu Swift berjudul “The Fate of Ophelia” digunakan dalam montase yang memuji Trump, meski sang presiden kerap menyerang Swift melalui unggahan di media sosial. Swift sendiri tidak memberikan komentar terkait video itu.
Pada Oktober, musisi senior Kenny Loggins juga mengecam penggunaan lagu populernya, “Danger Zone,” dalam video yang menggambarkan Trump terbang di atas demonstran No Kings dan menjatuhkan kotoran ke arah mereka. Dalam pernyataannya kepada Variety, Loggins mengatakan, “Ini adalah penggunaan tidak sah atas lagu ‘Danger Zone’ versi saya. Tidak ada yang meminta izin kepada saya, yang pasti akan saya tolak, dan saya meminta rekaman saya dihapus dari video ini.” Ia menambahkan tidak bisa memahami alasan siapa pun ingin mengaitkan musiknya dengan konten yang dibuat “semata untuk memecah belah.”
Penyanyi pop Inggris Jess Glynne sebelumnya menyampaikan reaksi keras ketika Gedung Putih menggunakan meme viral “Hold My Hand” Jet2holidays untuk mempromosikan penggerebekan ICE. Ia menulis, “Unggahan ini benar-benar membuat saya muak. Musik saya tentang cinta, persatuan, dan menyebarkan hal positif, bukan tentang perpecahan atau kebencian.”
Kontroversi ini menambah daftar panjang protes musisi yang menolak karya mereka digunakan untuk mempromosikan agenda politik tanpa izin dan bertentangan dengan nilai yang mereka pegang. (variety/Z-2)
Militer AS kembali meluncurkan serangan mematikan terhadap kapal terduga pengedar narkoba di Samudra Pasifik. Korban tewas dalam operasi ini mencapai 121 orang.
Ghislaine Maxwell menolak menjawab pertanyaan Komite Pengawas DPR AS terkait skandal Jeffrey Epstein. Ia justru gunakan momen ini untuk mengincar pengampunan.
Kesepakatan tersebut ditandatangani pada 2010 oleh Presiden AS saat itu Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitry Medvedev, dan mulai berlaku pada 5 Februari 2011.
BINTANG global asal Puerto Rico, Bad Bunny, sukses menyulap panggung Super Bowl 2026 di California menjadi pesta jalanan raksasa.
Green Day tampil memeriahkan acara pembukaan Super Bowl LX di Levi’s Stadium, California, Minggu (8/2).
Taipan media Jimmy Lai dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas tuduhan keamanan nasional. Dunia internasional kini menanti langkah Donald Trump.
Setelah setahun bersitegang, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Kolombia Gustavo Petro akhirnya bertemu.
Wall Street Journal, mengutip sumber, melaporkan bahwa Pentagon dan Gedung Putih telah menyampaikan rancangan rencana dan skenario yang dibuat bersama terkait serangan AS ke Iran.
Melania Trump memamerkan film dokumenter eksklusifnya di Gedung Putih. Film ini mengungkap sisi pribadi dan peran Melania di balik layar pelantikan Donald Trump.
Pascapenangkapan Nicolas Maduro, Presiden Interim Venezuela Delcy Rodriguez dijadwalkan mengunjungi AS. Trump prioritaskan akses minyak di tengah ketegangan.
Presiden Donald Trump resmi menarik AS dari 66 organisasi internasional. Gedung Putih menyebut efisiensi anggaran dan kedaulatan sebagai pemicu utama.
Pemerintah AS merilis situs resmi yang menulis ulang sejarah serangan 6 Januari 2021. Simak klaim kontroversial mengenai pengampunan massal dan tuduhan terhadap aparat.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved