Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
SETELAH Bunga dan Seperti Mati membuka babak baru dari perjalanan musiknya, musisi solo asal Jakarta, Zhafari, kembali hadir dengan single terbaru berjudul September.
Menariknya, dari respon positif yang diterima lewat dua single perdananya itu, Zhafari mulai menemukan mentalitas baru sebagai penyanyi solo.
“Perasaan setelah merilis dua single kemarin dan sekarang mau merilis yang ketiga, jujur campur aduk banget sih. Kalau inget-inget lagi pas awal mau rilis, di situ banyak banget keraguan dan pikiran negatif apakah ini works atau nggak.” ungkap Zhafari saat ditanya soal dua rilisan perdananya.
“Sejujurnya aku tidak terlalu percaya diri sebagai seorang penyanyi solo, mungkin karena sudah biasa dipanggil sebagai seorang vokalis band kali ya. Tapi, dari dua rilisan kemarin dan yang terbaru ini aku mulai menemukan mental bahwa hari ini aku, Zhafari, adalah seorang penyanyi,” tambahnya.
Bicara soal September, tampaknya bulan itu memang sering menjadi momen penuh pengalaman bagi banyak musisi di seluruh dunia, dari kisah yang menyenangkan hingga yang gelap dan tragis dalam sebuah hubungan.
Hal itu pun juga tengah dialami Zhafari belakangan ini, tentang dilema seseorang yang ingin mengakhiri sebuah hubungan, tetapi hanya dari satu perspektif.
“Di September, aku pengen nunjukin konflik hubungan dari satu arah aja. Jadi dia cuma pengen didengerin, nggak pengen dengerin balik. Egois, iya. Tapi dia pergi juga karena ngerasa itu buat kebaikan bersama, yang didasari cinta. Nah, di sisi lain apakah orang yang ditinggal setuju? Masalahnya kan belum selesai,” jelas Zhafari.
Berbeda dengan Bunga yang romantis dan ringan, serta Seperti Mati yang gelap dan reflektif, September lebih mengangkat konflik hubungan yang kompleks dan personal. Judulnya pun dipilih karena memiliki kisah dan sentuhan pribadi.
“Iya beberapa kali aku ngalamin hal yang sama, makanya judulnya juga nama bulan September karena memang personal,” tambahnya.
Dari segi musikalitas, September tetap membawa napas pop-rock khas Zhafari, tetapi dibungkus dengan nuansa yang lebih galau dan pesimis dibandingkan karya-karyanya di Voxxes.
“Kalau di Voxxes lirik-liriknya walaupun galau tetap hopeful. Di Zhafari lebih pesimis karena memang ini cerita aku sendiri. Kalau di Voxxes aku harus mewakili teman-teman, kalau di Zhafari yaudah cuma aku doang,” kata Zhafari.
Salah satu lirik yang paling ia soroti adalah “Waktu berhenti di bulan ini tinggalkan mimpi yang telah kita bagi”.
Menurutnya, lirik itu seolah jadi penanda berakhirnya sebuah mimpi yang sebelumnya dibagi bersama.
Meski temanya personal, Zhafari yakin musiknya akan tetap relevan.
“Aku yakin aja karena setiap musik pasti ada pendengarnya. Kalau bikinnya dari hati pasti akan nyampe ke orang-orang,” ujarnya.
Single September juga menjadi bagian dari rangkaian karya yang sedang ia rampungkan menjelang penghujung 2025.
“Sekarang aku lagi nyelesain album Zhafari. Rilisnya mungkin bukan tahun ini, tapi aku ngejar materinya rampung tahun ini,” ungkapnya.
Dirilis oleh Dotts Records, rumah rekaman baru bagi banyak musisi bertalenta, single terbaru dari Zhafari yang berjudul September sudah bisa didengarkan di seluruh digital music platform. (Z-1)
Bagi Pugar Restu Julian, Ramadan bukan hanya tentang satu warna atau tema tunggal.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Tur ini dirancang secara masif dengan target lebih dari 160 kota di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu perhelatan musik terbesar yang pernah digelar di tanah air.
Kelima ikon musik itu adalah Michael Jackson, Freddy Mercury, Whitney Houston, John Lennon, dan Elvis Presley.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Nasida Ria dianggap merepresentasikan lintas generasi yang selaras dengan semangat teknologi yang inklusif dan tidak terbatas usia.
Bagi Pugar Restu Julian, Ramadan bukan hanya tentang satu warna atau tema tunggal.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Rumah dan Baju Barumu dari Batas Senja menggambarkan momen subtil namun mendalam ketika keterbatasan ekonomi menjadi ujian bagi sepasang kekasih.
Melalui liriknya, Wali menggunakan metafora dua peristiwa besar dalam sejarah Islam, Perang Badar dan Perang Uhud, untuk menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat modern.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang kerap identik dengan perayaan momentum tertentu, Menuju Cahaya dari Marcell Siahaan justru menitikberatkan pada proses personal yang mendalam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved