Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
RUMAH produksi Bion Studios bersama Universal Mediatainment telah merilis teaser poster untuk film drama romantis terbaru, Ambyar Mak Byar, yang akan tayang di bioskop mulai 9 Januari 2025.
Dalam keterangan resmi, dikutip Selasa (19/11), film Ambyar Mak Byar mengangkat warisan budaya musik campursari sebagai inti cerita di dalamnya.
Menariknya, teaser poster film tersebut menampilkan deretan pemain utama yang sedang mengendarai sepeda motor, lengkap dengan latar suasana khas budaya Jawa.
"Ambyar Mak Byar adalah gambaran bagaimana kami mengemas warisan budaya lokal, seperti campursari menjadi sebuah kisah yang relevan, unik, dan menyentuh hati masyarakat luas," kata Chief of Business Stream BION Studios Ajeng Parameswari.
Dia menambahkan, "Dengan sentuhan musik koplo yang energik, kami yakin film ini akan memberikan pengalaman sinematik yang segar sekaligus menginspirasi.
Disutradarai oleh Puguh PS Admaja, film Ambyar Mak Byar mengisahkan perjalanan hidup Jeru (Gilga Sahid), seorang pemuda yang sedang mengejar impian sebagai musisi bersama band campursarinya, Konco Seneng.
Jeru pun berjuang meraih mimpi bersama sahabat-sahabatnya, antara lain Rick (Evan Loss), Novian (Erick Estrada), dan Aruna (Angie Williams).
Di sisi lain, Jeru tengah menghadapi dilema cinta dengan seorang putri Keraton Kasunanan Surakarta bernama Bethari (Happy Asmara).
Ketegangan memuncak saat paman Bethari, Argo (Ariyo Wahab), menentang hubungan mereka dan mengancam masa depan band serta usaha batik keluarga Jeru.
Konflik tersebut menggiring Jeru dan kawan-kawannya melalui tantangan hidup tak terduga hingga muncul secercah harapan yang mengubah segalanya. Akankah mereka berhasil mengejar impian?
Happy Asmara, selaku pemeran utama di film Ambyar Mak Byar merasa antusias dan berharap perilisan film tersebut dapat berjalan lancar.
"Aku merasa sangat bangga dan tidak sabar untuk melihat bagaimana hasil dari film pertama saya ini," kata Happy.
"Perjalanan syuting yang intens dan karakter Bethari yang unik membuat pengalaman ini sangat berharga bagi saya," sambungnya.
Film Ambyar Mak Byar dibintangi Happy Asmara, Gilga Sahid, Evan Loss, dan Angie Williams. Film itu akan tayang di bioskop mulai 9 Januari 2025. (Ant/Z-1)
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Mengejar Restu menghadirkan kisah tentang kekuatan dan keteguhan hati seorang perempuan dalam menghadapi konflik, pilihan hidup, serta realitas yang kerap tak mudah dijalani.
Drama Korea terbaru “A Hundred Memories” kembali mencuri perhatian dengan merilis poster spesial yang menandai dimulainya paruh kedua perjalanan cerita.
Visual poster film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa ini menampilkan seorang yang tengah diikat di sebuah tiang kayu, dengan kobaran api yang mengelilinginya.
Tsabita dan tim mahasiswa KKN Unimus Semarang menggelar demonstrasi terapi rendam kaki air hangat di Desa Pranggong, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali.
Film Keluarga Super Irit menceritakan perjuangan keluarga Sukaharta dalam menjalani hidup hemat usai sang kepala keluarga kehilangan pekerjaan.
Sutradara Teddy Soeriaatmadja menjelaskan bahwa film Mungkin Kita Perlu Waktu menggambarkan realita bahwa setiap orang punya cara masing-masing dalam menghadapi trauma.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved