Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
RUMAH produksi Imajinari merilis poster film komedi terbaru bertajuk Kaka Boss, serta mengumumkan tanggal penayangan pada 29 Agustus 2024 mendatang.
Dilansir dari keterangan resmi, Selasa (16/7), film Kaka Boss diproduseri Ernest Prakasa dan Dipa Andika.
Di film ini, Arie Kriting juga dibantu Kristo Imanuel sebagai ko sutradara dan Arif Brata sebagai konsultan komedi. Selain menyutradarai, Arie juga menulis skenario film Kaka Boss.
Baca juga : Film Seni Memahami Kekasih Rilis Poster dan Teasere
Dalam poster resmi yang meriah dengan ornamen etnik Indonesia Timur, tampak para bintang utama di film ini.
Baca juga : Film Dosen Ghaib: Sudah Malam atau Sudah Tahu Rilis Poster Terbaru
Pemeran utama Godfred Orindeod, yang memerankan Ferdinand 'Kaka Boss' Omakare menjadi sentral poster resmi.
Ia yang memegang mikrofon, bersanding dengan Glory Hillary. Sementara di bawah mereka, juga hadir Mamat Alkatiri, Nowela Mikhelia, Ernest Prakasa, Putri Nere, dan Abdur Arsyad.
Kaka Boss berkisah tentang Ferdinand 'Kaka Boss' Omakare, penagih utang yang terkenal dan sangat disegani, mencoba untuk
mengubah haluan dalam perjalanan kariernya untuk menjadi seorang penyanyi untuk membahagiakan sang anak semata wayang yang merasa malu pada profesi ayahnya.
Baca juga : Film Si Juki The Movie: Harta Pulau Monyet Rilis Poster
"Pertama kali mendengar cerita ini justru jauh sebelum Imajinari berdiri dan ketika Arie menceritakannya kepada saya, saya percaya Kaka Boss akan semakin membuat perfilman Indonesia jauh lebih berwarna," kata Dipa.
Mengangkat kisah tentang keluarga Indonesia Timur, film ini dibintangi mayoritas para pemeran keturunan Indonesia Timur dari berbagai disiplin ilmu mulai dari aktor, atlet MMA, penari, hingga penyanyi.
"Apa yang disuguhkan sangat fresh, dan sesuai dengan DNA Imajinari untuk selalu berusaha menghadirkan sesuatu yang unik dan otentik," ucap Ernest.
Film ini menjadi debut bagi bintang muda Glory Hillary, yang saat ini masih duduk di bangku SMA. Ia belum pernah memiliki pengalaman akting, dan lebih banyak bergelut dengan dunia musik yang ia tekuni di bangku pendidikannya. (Ant/Z-1)
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
Kehadiran hantu-hantu senior tersebut di film Sebelum Dijemput Nenek berfungsi untuk melengkapi teror yang ditebar oleh antagonis utama, Mbah Marsiyem.
Lebih dari 90 persen anggota Netflix di Indonesia menonton konten Indonesia pada 2025, dan 35 tayangan Indonesia berhasil masuk dalam daftar Top 10 Global Netflix.
The Bluff membawa penonton ke Kepulauan Cayman, sebuah wilayah yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Di sinilah kisah Ercell "Bloody Mary" Bodden dimulai.
Mengejar Restu menghadirkan kisah tentang kekuatan dan keteguhan hati seorang perempuan dalam menghadapi konflik, pilihan hidup, serta realitas yang kerap tak mudah dijalani.
Drama Korea terbaru “A Hundred Memories” kembali mencuri perhatian dengan merilis poster spesial yang menandai dimulainya paruh kedua perjalanan cerita.
Visual poster film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa ini menampilkan seorang yang tengah diikat di sebuah tiang kayu, dengan kobaran api yang mengelilinginya.
Tsabita dan tim mahasiswa KKN Unimus Semarang menggelar demonstrasi terapi rendam kaki air hangat di Desa Pranggong, Kecamatan Andong, Kabupaten Boyolali.
Film Keluarga Super Irit menceritakan perjuangan keluarga Sukaharta dalam menjalani hidup hemat usai sang kepala keluarga kehilangan pekerjaan.
Sutradara Teddy Soeriaatmadja menjelaskan bahwa film Mungkin Kita Perlu Waktu menggambarkan realita bahwa setiap orang punya cara masing-masing dalam menghadapi trauma.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved