Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
BAND alternative-pop Lomba Sihir membuka lembaran kedua dalam diskografi mereka dengan merilis single bertajuk Menit Tambahan yang digadang bakal menjadi himne untuk perjalanan baru grup musik ini.
"Menit Tambahan dapat diumpamakan sebagai himne penyemangat bagi para audiens musik yang harus memasuki ronde kedua kehidupan yang mungkin lebih berat dibandingkan tantangan yang pernah mereka hadapi sebelumnya," ungkap Lomba Sihir dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (28/6).
Band yang beranggotakan Baskara Putra, Natasha Udu, Rayhan Noor, Enrico Octaviano, dan Tristan Juliano itu mengharapkan Menit Tambahan bisa menjadi karya yang melanjutkan kesuksesan album perdana mereka Selamat Datang Di Ujung Dunia (2021).
Baca juga : Matheo In Rio Rilis Mini Album Other Side
Lomba Sihir menjelaskan Menit Tambahan ini berpangkal dari pengambilan keputusan yang teramat matang dari para anggota seiring dengan pertambahan usia band ini.
Baca juga : Pamungkas Rilis Single New Feeling
"Bila kita bicara tentang waktu, itu artinya kita menyinggung tentang bertambahnya usia, tekanan sosial yang dirasakan seiring kita bertambah usia, kekhawatiran baru setelah pandemi, dan lain sebagainya. Waktu pun kemudian menjadi episentrum bagi album kedua kami kelak -- diawali dengan single pembuka yang bertajuk Menit Tambahan ini," papar mereka.
Karenanya, warna musik Menit Tambahan menjadi lebih lugas untuk memenuhi keinginan Lomba Sihir memasukkan lebih banyak human touch, tidak lagi memperbanyak kehadiran synthesizer atau pun keajaiban dari komputer di lembaran kedua diskografi mereka ini.
"Dari segi emosi pun, misi utama kami adalah bagaimana caranya menyampaikan emosi yang lebih mentah dan blak-blakan. Namun, di sisi lain, kompleksitas emosi yang para pendengar nikmati sejak era Selamat Datang Di Ujung Dunia masih tetaplah utuh," ujar Lomba Sihir.
Baca juga : Penyanyi Cilik Etenia Rilis Single Kedua Semua Rasa
Secara lebih spesifik, Lomba Sihir memandang lagu Menit Tambahan sebagai cerminan perubahan sikap dalam hidup setelah melalui tiga tahun pandemi.
Menurut mereka, tidak hanya berpengaruh pada kesehatan masing-masing individu, pandemi juga turut memengaruhi kesehatan raga dan industri musik Indonesia termasuk juga Lomba Sihir.
"Sebagai band, kami pun melihat masa kini layaknya kesempatan kedua setelah melalui ujian yang cukup panjang. Kesempatan kedua ini patut dimanfaatkan sebaik mungkin, tapi di saat bersamaan, kita tidak bisa menyangkal kekhawatiran bahwa bisa saja ronde kehidupan yang satu ini akan lebih brutal daripada ketika ronde pandemi," kata Lomba Sihir.
Selain single terbaru Menit Tambahan, lembaran kedua Lomba Sihir juga akan turut dibuka dengan konser showcase yang bertajuk 2 Jam Bersama Lomba Sihir, yang siap diselenggarakan pada 24 dan 25 Juli 2024 di Creative Culture Space, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.
Menit Tambahan akan dapat dinikmati penikmat musik tanah air mulai Jumat (28/6) di beragam digital streaming platform Indonesia. (Ant/Z-1)
Bagi Pugar Restu Julian, Ramadan bukan hanya tentang satu warna atau tema tunggal.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Tur ini dirancang secara masif dengan target lebih dari 160 kota di seluruh Indonesia, menjadikannya salah satu perhelatan musik terbesar yang pernah digelar di tanah air.
Kelima ikon musik itu adalah Michael Jackson, Freddy Mercury, Whitney Houston, John Lennon, dan Elvis Presley.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Nasida Ria dianggap merepresentasikan lintas generasi yang selaras dengan semangat teknologi yang inklusif dan tidak terbatas usia.
Bagi Pugar Restu Julian, Ramadan bukan hanya tentang satu warna atau tema tunggal.
Nisa Farella mengungkapkan bahwa lirik dalam single Legowo adalah representasi dari proses belajar berdamai dengan perasaan.
Melalui dinamika melodi yang ekspresif, Atarayo berhasil memotret momen ketika jarak antara dua hati perlahan terkikis dalam intensitas yang tenang namun hangat.
Rumah dan Baju Barumu dari Batas Senja menggambarkan momen subtil namun mendalam ketika keterbatasan ekonomi menjadi ujian bagi sepasang kekasih.
Melalui liriknya, Wali menggunakan metafora dua peristiwa besar dalam sejarah Islam, Perang Badar dan Perang Uhud, untuk menggambarkan dinamika kehidupan masyarakat modern.
Berbeda dengan lagu religi pada umumnya yang kerap identik dengan perayaan momentum tertentu, Menuju Cahaya dari Marcell Siahaan justru menitikberatkan pada proses personal yang mendalam.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved