Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
FILM ‘Onde Mande!’ merupakan film yang mengangkat budaya Minang dalam ceritanya. Disutradarai oleh Paul Fauzan Agusta dan produser Suryo Wiyogo, film ini hadir dengan genre drama keluarga dan komedi.
Karakter-karakter dalam ‘Onde Mande!’ diperankan oleh aktris dan aktor yang memiliki darah Minang seperti Shenina Cinnamon, Emir Mahira, Ajil Ditto, Shahabi Sakri, dan Jose Rizal Manua.
Tidak hanya sebatas film biasa, film ini memiliki beberapa faktor yang unik dalam pembuatannya. Ditemui di Cipete, Jakarta Selatan pada Senin (15/5), ini beberapa fakta menarik ‘Onde Mande!’ yang diceritakan langsung oleh sutradara, produser, dan pemainnya.
Baca juga: Shenina Cinnamon dan Emir Mahira Bertemu di Desa Sigiran Film 'Onde Mande!'
1. Menjadi Tempat Pertemuan Kembali Shenina Cinnamon dan Emir Mahira
Setelah beradu akting di ‘Dear David’, Shenina dan Emir kembali beradu akting di ‘Onde Mande!’. Alasan Emir mengambil proyek ini adalah karena ada Shenina di dalamnya. Dia merasa sudah memiliki hubungan yang baik dengan Shenina berkat proyek sebelumnya. Kesempatan syuting ini juga digunakan Emir untuk healing karena sebelumnya Emir sedang bekerja di proyek yang mengharuskannya untuk memakai ototnya.
2. Didedikasikan untuk Ayah Tercinta
'Onde Mande!' dibuat Paul untuk sang ayah tercinta. Dari lokasi syuting yang dilakukan di desa kelahiran ayahnya, hingga nama-nama karakter yang diambil dari nama keluarganya, Paul ingin menjawab pertanyaan ayahnya yang ingin menonton film non-horror oleh anaknya. Meskipun sang ayah sudah berpulang, namun Ia sempat menceritakan plot “Onde Mande!” kepada ayah dan sang ayah pun setuju dengan cerita tersebut.
Baca juga: Paul Agusta Persembahkan Film Onde Mande! untuk Mendiang Leon Agusta
3. 70% Menggunakan bahasa Minang
“Scriptnya sudah dalam bahasa Minang dan diterjemahkan oleh ‘native speaker," ungkap Paul. Hal ini menjadi salah satu tantangan yang dihadapi Shenina, pasalnya Ia belum pernah syuting menggunakan bahasa lain selain bahasa Indonesia.
4. Lokasi Syuting Minim Sinyal
Syuting film ’Onde Mande!” dilakukan di beberapa tempat seperti Jakarta dan Desa Sigiran. Desa yang terletak di samping Danau Maninjau tersebut tidak memiliki fasilitas jaringan internet yang bagus. Oleh karena itu, waktu luang pemain dan kru film digunakan untuk ‘bonding’ dan latihan bahasa agar para pemain semakin fasih dalam berbicara dengan bahasa Minang.
“Gak ada sinyal sama sekali, jadi ngobrolnya seru,” ungkap Shenina.
5. Belajar Mengendalikan Sampan
Tantangan yang lain untuk Shenina adalah kemampuan untuk mengendalikan sampan di atas Danau Maninjau. Tidak hanya membawa beban sendiri, Shenina juga harus mengendalikan sampan yang membawa dirinya, kru bersama kamera dan juga salah satu pemain lainnya, yaitu Emir. Waktu yang dia gunakan untuk belajar ‘menyetir’ sampan tersebut juga tidak lama. Ia hanya memiliki 1 hari untuk latihan dan langsung syuting adegan sampan di hari berikutnya.
6. Riset Film Dimulai dari Masih Bayi
Sang sutradara yang memang berasal dari Padang itu, sudah paham mengenai layout desa tersebut semenjak Ia kecil. “Kalo soal research, dari masih bayi udah riset,” jawab Paul sambil tertawa. Bahkan nama karakter pun diambil langsung dari nama-nama keluarganya. Tidak hanya itu, scriptcheck juga telah dilakukan kepada tua-tua adat di daerah tersebut. “Tentu saja kita ga mau ada cacat adat,” sambung Suryo selaku produser.
7. Script Pertama Sudah Ada dari 2015
“Saya kenal Paul sejak Ia berada dalam perut karena bersahabat dengan ayahnya dan saya pertama kali mendapatkan script di 2015,” ungkap Jose Rizal Manua yang merupakan pemain pertama yang dicasting Paul.
Script pertama untuk film ‘Onde Mande!’ telah selesai ditulis pada tahun 2015 dan akhirnya dapat Anda saksikan di layar bioskop pada 22 Juni 2023.
8. Masuk dalam Far East Film Festival (FEFF) 2023 di Udine, Italia
Film dengan judul bahasa Inggris ‘The Prize!’ ini berhasul masuk dalam dalam Far East Film Festival (FEFF) 2023 di Udine, Italia.
“Soal festival, alhamdulillah, kami submit dan masuk ke Far East in Progress 2023. Itu kategori untuk film yang belum rampung, tapi dipilih pre-screening ke distributor film lainnya," kata Paul.
Ia juga mengatakan bahwa masuk ke dalam festival tersebut merupakan sebuah kehormatan untuk mewakili Indonesia di kancah internasional. ‘Onde Mande!’ menjadi salah satu dari 10 film yang terpilih untuk bersaing bersama film-film lainnya. (Z-10)
Selain kemitraan dengan Refinery Media dari Singapura, posisi sutradara film Esok Tanpa Ibudipercayakan kepada sineas asal Malaysia, Ho Wi-ding.
Meski berhasil memecahkan rekor untuk produksi Hollywood, Zootopia 2 harus mengakui keunggulan film animasi asal Tiongkok, Ne Zha 2.
Bagi Adinia Wirasti, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang refleksi bagi manusia.
Dalam trailer film Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), aktor Iqbaal Ramadhan tampil sangat berbeda dari yang ditampilkan di berbagai film yang ia bintangi sebelumnya.
Teaser Lastri: Arawah Kembang Desa menjadi pembuka yang kuat sekaligus emosional, karena menampilkan sosok almarhum Gary Iskak sebagai Turenggo, serta Hana Saraswati sebagai Lastri.
Berlatar di sebuah penjara di Indonesia yang dikuasai kekerasan dan ketidakadilan, Ghost in the Cell bukan sekadar film genre yang menawarkan ketegangan.
ASEAN Ride 2025 merupakan kelanjutan dari program touring sebelumnya yang bernama Jejak Patriot.
Pengukuhan 37 Pangulu ini diharapkan memperkuat peran Niniak Mamak sebagai pemimpin adat dan penjaga nilai-nilai budaya Minangkabau.
Harga kelapa dan santan memang sedang meroket beberapa pekan belakangan. Satu butir kelapa dijual Rp7 ribu. Sementara, santan yang sudah jadi dijual Rp18 ribu sekilonya.
IKATAN Keluarga Minangkabau (IKM) mengelar turnamen Golf Open memperebutkan piala bergilir Menteri Kebudayaan di Permata Sentul Golf Club, Bogor, Jawa Barat
Tidak hanya pembeli dari Padang Panjang saja, banyak juga masyarakat yang berasal dari daerah sekitar turut meramaikan dengan membeli daging di Pusat Pasar.
Baringin Sakato Fest 1 menjadi bentuk nyata dari pelestarian budaya lokal yang dikemas dalam kegiatan seni yang menghibur.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved