Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
AKTRIS muda Messi Gusti, 15, membagikan pengalaman uniknya saat membintangi film fiksi ilmiah terbaru bertajuk Pelangi di Mars. Terlibat dalam produksi sejak 2020 saat masih duduk di kelas 5 SD, Messi mengaku harus mengerahkan imajinasi ekstra karena penggunaan teknologi tinggi dalam proses pengambilan gambarnya.
Dalam konferensi pers, dikutip Minggu (15/2), Messi mengungkapkan perbedaan signifikan saat syuting menggunakan teknologi extended reality (XR) dibandingkan dengan metode motion capture biasa.
Menurutnya, beraksi di dalam studio XR atau virtual production menuntut kemandirian akting yang lebih tinggi.
"Pada saat XR itu lumayan sulit, karena benar-benar enggak ada yang membantu. Kalau pada saat rekam gerak (motion capture) sebelumnya kan ada yang membantu, semacam aktor pengganti gerak (buddy actor)-nya gitu," ujar Messi.
Messi menjelaskan bahwa di dalam studio XR, ia sering kali harus berjuang sendirian di depan kamera tanpa kehadiran aktor lawan bicara secara fisik. Hal ini memaksanya untuk memanggil kembali ingatan visual yang ia dapatkan selama masa lokakarya.
"Kalau XR itu sama sekali enggak ada, jadi aku harus benar-benar mengingat lagi apa yang sudah aku lakukan pas lokakarya (workshop) sama motion capture," jelasnya.
Tantangan terbesar muncul saat ia harus berinteraksi dengan karakter robot. Dalam naskah, robot-robot tersebut digambarkan sangat aktif. Messi harus tetap fokus pada reaksi dan posisi lawan bicaranya yang tidak terlihat secara nyata di lokasi set.
"Mereka bisa tiba-tiba ada di belakang, terus ke depan," tambah Messi.
Beruntung, arahan dari sutradara Upie Guava sangat membantunya dalam menjaga konsistensi karakter Pelangi.
Messi merasa meskipun prosesnya sulit, pengalaman ini memberikan warna baru dalam perjalanan kariernya di dunia seni peran.
Film Pelangi di Mars sendiri mengambil latar waktu tahun 2100. Cerita berfokus pada kondisi Bumi yang sedang dilanda krisis air bersih hebat, sehingga manusia mulai mengeksplorasi Mars lebih jauh.
Penonton akan diajak mengikuti kisah Pelangi, manusia pertama yang lahir di Mars, yang terdampar bersama ibunya, Pratiwi (Lutesha).
Ditemani teman-teman robotnya, Pelangi berjuang melanjutkan misi ibunya untuk menemukan mineral Zeolith Omega sebagai solusi krisis air di Bumi, sekaligus berusaha bertemu dengan ayahnya (Rio Dewanto).
Dikembangkan selama lima tahun di Studio DossGuavaXR, film ini memposisikan teknologi animasi 3D dan robot interaktif sebagai alat untuk memperkuat pesan emosional bertema keberanian.
Film keluarga Pelangi di Mars dijadwalkan tayang serentak di bioskop tanah air pada momen Lebaran, tepatnya mulai 18 Maret 2026. (Ant/Z-1)
Diadaptasi dari manga karya Tatsuki Fujimoto, layar lebar dari anime Chainsaw Man akan membawa babak baru yang lebih brutal dan emosional bagi perjalanan hidup sang tokoh utama, Denji.
Ada lima karakter robot utama yang akan menjadi pusat perhatian dalam film Pelangi di Mars.
Deddy Mizwar menjelaskan bahwa film Rumjah Tanpa Cahaya merupakan sebuah refleksi tentang kehilangan.
Film anak bergenre musikal-petualangan ini tidak hanya menyuguhkan keindahan visual, tetapi juga membawa pesan mendalam tentang relasi manusia dengan alam.
Melalui perpaduan musikal dan petualangan, film Teman Tegar: Maira–Whisper from Papua membawa misi besar: membangun kesadaran manusia akan relasinya dengan alam.
Film Pelangi di Mars ini mengikuti perjalanan Pelangi—manusia pertama yang lahir di Mars—yang besar di antara robot-robot cerdas.
Messi Gusti, salah satu pemeran utama di film Pelangi di Mars, mengungkapkan pengalamannya syuting saat mengenakan kostum astronaut.
Film ini bakal mengambil latar belakang tahun 2090, ketika itu persediaan air di Bumi sudah sangat terbatas, satu-satunya persediaan air bersih dimonopoli oleh perusahaan bernama Nerotex.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved