Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BANYAK orangtua yang memiliki kekhawatiran terhadap kemampuan sosial emosional anak saat menghadapi masa transisi pascapandemi covid-19 dengan aktivitas di luar rumah mulai berangsur normal. Hal tersebut juga dirasakan oleh aktris Putri Titian.
Perempuan yang akrab disapa Tian itu merasa anak keduanya, Iago, sulit beradaptasi dengan orang baru karena selama pandemi hanya menghabiskan waktu di rumah. Sementara anak pertamanya, Iori, menjadi lebih hiperaktif dan susah fokus.
"Iago baru belajar ngomong, tiba-tiba pandemi, semua terbatas. Dia lebih susah adaptasi dengan orang baru, malu, takut, dia juga suka ngambek," kata Tian saat virtual media gathering, dikutip Rabu (27/7).
Baca juga: Ini Tips Mengajarkan Nilai Kebaikan pada Anak dari Putri Titian
"Kalau Iori, karena dia sempat merasakan interaksi dengan orang lain, dia jadi overacting. Pas keluar rumah heboh, enggak bisa fokus. Aku takut dia enggak bisa menerima pelajaran dengan baik," lanjut dia.
Untuk mengatasi hal itu, Tian mengatakan dia mulai membuat rencana harian. Tujuannya, agar saat bangun tidur, anak-anaknya tahu apa yang akan mereka lakukan seharian.
"Jadi anak-anak udah tahu mau ngapain, bangun jam berapa. Pokoknya semua kegiatan seharian udah terarah. Ini juga bikin mereka disiplin," kata Tian.
Selanjutnya, Tian juga mengatakan dia mulai mengajak anak-anaknya berkegiatan di luar rumah, seperti berolahraga atau sekadar bermain di taman. Tujuannya, kata Tian, agar anak-anak belajar berinteraksi dengan setiap orang yang mereka temui.
"Biasanya kan nanti ketemu orang baru, jadi bisa menstimulasi mereka kalau ketemu orang itu harus bagaimana," ujar Tian.
"Mulai dikenalin juga ke keluarga besar. Kalau selama pandemi tahunya orangtuanya aja, sekarang mereka tau ini oma, om, tante," sambungnya.
Tidak lupa, Tian juga selalu memberikan asupan nutrisi yang seimbang bagi anak-anaknya agar mereka tetap sehat dan siap setiap berkegiatan di luar rumah.
"Aku jaga nutrisi mereka. Kalau anak sehat juga kan mereka siap menerima apapun di luar sana. Itu sih yang aku lakukan selama ini," pungkasnya. (Ant/OL-1)
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Saat ini, banyak platform telah menyediakan fitur kendali orangtua (parental control), namun belum semua orangtua memahami cara mengoperasikannya.
Kunci utama keberhasilan aturan pembatasan gawai bukan hanya pada larangan, melainkan pada keteladanan orangtua sebagai role model.
Keistimewaan yang didapat oleh anak sulung perempuan sering kali muncul dalam bentuk pemberian otonomi yang lebih besar.
Pendampingan orangtua selama film berlangsung sangatlah krusial untuk memberikan pemahaman yang tepat kepada anak.
Menyaksikan tontonan yang tidak sesuai klasifikasi usia merupakan ancaman nyata bagi tumbuh kembang anak.
PP TUNAS adalah jawaban atas kekhawatiran kalangan medis terhadap dampak negatif media sosial bagi tumbuh kembang anak.
Persepsi ini lahir dari cara pandang lama yang mengabaikan prinsip gizi seimbang. Padahal ukuran kesehatan tidak bisa hanya dilihat dari tampilan fisik semata.
Paparan gawai pada fase krusial pertumbuhan (usia 5 hingga 15 tahun) berisiko memicu gangguan tumbuh kembang yang menetap hingga dewasa.
Skrining pendengaran pada anak sejak dini menjadi kunci vital dalam menjaga kualitas hidup dan fungsi komunikasi buah hati.
Fungsi pendengaran memiliki kaitan erat dengan kemampuan bicara anak.
Orangtua diimbau untuk tidak membawa anak ke tempat yang terlalu padat guna meminimalisir risiko infeksi.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved