Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
PRODUSER Ernest Prakarsa mengungkap cerita di belakang layar ketika Muhadkly Acho menyutradarai film drama komedi Gara-Gara Warisan.
Dalam sebuah pengambilan gambar, Ernest mengatakan dirinya sempat menangkap gestur Acho yang ingin menangis namun ditahan saat menyaksikan adegan sedih yang dimainkan Yayu Unru sebagai bapak bernama Dahlan.
"Acho ini kayaknya dia mau nangis, tapi ditahan-tahan gitu. Kayaknya itu udah mau mewek banget, tapi kayaknya malu, kan banyak kru, ya, jadi dia tahan nangisnya sampai badannya bergetar," kata Ernest saat konferensi pers di Jakarta, ditulis Selasa (5/4).
Baca juga : Lakukan Debut Sebagai Sutradara, Acho Mengaku Sempat Mual
Film Gara-Gara Warisan menandai debut penyutradaraan Acho, yang sebelumnya lebih dikenal sebagai aktor dan komika. Film itu direncanakan tayang di bioskop pada 30 April atau bertepatan dengan momen perayaan Lebaran.
Merespon cerita yang dilontarkan Ernest, Acho mengaku saat itu dirinya bahkan tidak sadar bahwa Ernest merekam diam-diam gestur menahan tangis itu dari belakang monitor.
"Jebol pertahanannya. Kalau nonton scene komedi kan kayak, 'Wah, enaklah nge-direct-nya bisa ketawa-ketawa'. Pas scene drama itu kayak, 'Aduh gimana ini'," tutur Acho.
Baca juga : Indra Jegel Sempat Sakit Saat Syuting Agak Laen
Menurutnya, adegan tersebut merupakan salah satu adegan yang tidak melewati proses reading bersama Yayu.
Bagi Acho, bagian adegan drama hanya perlu merenungkan rasa pada peran secara lebih mendalam dan melepaskan akting dalam satu kali pengambilan gambar.
"Kami (Acho dan Yayu) punya pemahaman yang sama bahwa scene semacam ini bukan tipikal yang bisa dilatih berulang-ulang. Ini tipikal scene yang memang harus dirasakan dalam-dalam dan nanti dilepaskan saja di depan kamera," terang Acho.
Baca juga : Ini Alasan Ernest Prakasa Percayai Muhadkly Sutradarai Gara Gara Warisan
Momen tersebut, kata Acho, menjadi pengalaman baru bagi dirinya karena secara langsung melihat penampilan akting yang kuat. Terlebih, dirinya juga merasa cerita dalam "Gara-Gara Warisan" memiliki kedekatan yang personal.
"Padahal, hari-hari sebelumnya bercanda mulu, ketawa-ketawa. Giliran masuk scene itu, yah, jebol pertahanannya," tuturnya.
Dalam proses penggarapan Gara-Gara Warisan, Acho dibantu Ernest Prakarsa dan Chand Parwez Servia yang bertugas sebagai produser.
Baca juga : Pasutri Gaje Siap Tayang pada 7 Februari
Ia mengatakan dukungan yang diberikan Ernest dan Parwez memberinya kemudahan sebagai sutradara debutan sehingga dirinya juga bisa fokus menggarap sisi kreatif film.
"Gue mendapat dukungan itu dari mulai penulisan, mulai dari awal submit naskah ke Pak Parwez. Pak Parwez juga baca semuanya dari mulai sinopsis. Banyak masukan yang membuat cerita itu mengalami beberapa fase perubahan sampai di final draf yang akhirnya kami jadikan ke layar lebar ini," pungkas Acho. (Ant/OL-1)
Baca juga : Drama Komedi Puang Bos Angkat Kearifan Budaya Lokal
Joko Anwar memaparkan bahwa film Ghost in the Cell bukan sekadar sajian horor biasa, melainkan sebuah eksplorasi karakter yang sangat mendalam.
Suzzanna dalam film Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa bukan sekadar tokoh hantu, melainkan representasi perlawanan terhadap ketidakadilan yang dialami wanita.
Joko Anwar menjelaskan bahwa pemilihan latar penjara di film Ghost in the Cell bukan sekadar untuk membangun suasana seram, melainkan sebagai metafora kondisi masyarakat.
Produser dan sutradara kompak menyebut telah menyiapkan universe untuk Pelangi di Mars, baik itu berupa sekuel, prekuel ataupun spin-off.
Surat Untuk Masa Mudaku menyoroti perjalanan hidup karakter bernama Kefas, yang diperankan oleh Millo Taslim pada masa muda dan Fendy Chow saat beranjak dewasa.
Gina S Noer memaparkan bahwa film Esok Tanpa Ibu bukan sekadar cerita tentang teknologi, melainkan sebuah eksplorasi mengenai relasi kompleks antara AI, sosok ibu, dan lingkungan hidup.
Muhadkly Acho debut sebagai produser Gak Ada Matinya! bareng MD Pictures. Komedi gelap bertema kematian: KPR, asuransi, keluarga Batak. Premis mati suri. Tayang 2026.
Film Agak Laen: Menyala Pantiku! berambisi merebut takhta film terlaris sepanjang masa di Indonesia yang dipegang Avengers: Endgame. Kini selisih keduanya hanya 400 ribu penonton.
FILM Agak Laen: Menyala Pantiku! kini terus menambah jumlah capaian penontonnya. Terbaru, film ini meraih 10,5 juta penonton dalam waktu kurang dari 60 hari tayang.
DI tengah euforia jumlah penonton Agak Laen: Menyala Pantiku! yang kini telah melewati angka 10,5 juta penonton, penulis dan sutradara Muhadkly Acho justru kebingungan.
Simak perjalanan karier Muhadkly Acho, dari panggung Stand Up Comedy, pemain film, konsultan komedi, hingga sutradara Agak Laen: Menyala Pantiku! yang kini menjadi film Indonesia terlaris
Temukan kisah di balik kesuksesan fenomenal Agak Laen: Menyala Pantiku! yang meraih jutaan penonton. Muhadkly Acho ungkap naskah pertama sempat hilang
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved